Opini

Sabtu 29 September 2018 | 23:41 WIB

Laporan: Edi Setiawan

Nation Branding

Foto Edi Setiawan

Visione.co.id-Sebagai bangsa, Indonesia butuh pemasaran di kancah dunia. ‘Nation branding’ menjadi penting agar Bangsa ini dikenal dan diakui posisinya di kancah global.  Bicara soal ‘nation branding’, berarti bicara tentang merek suatu negara lengkap dengan atribut yang melekat. Tiongkok misalnya, ketika bicara Tiongkok, maka yang melekat pada brand “Tiongkok” adalah benderanya, lagu kebangsaannya, tagline-nya, dan asosiasi lain seperti giant panda, the great wall, kungfu atau sekarang bisa jadi termasuk bird nest stadiumnya.

Sejak dahulu, Jepang dijuluki negara Matahari Terbit juga karena konon negara ini diciptakan oleh Dewa Matahari dan kaisar Jepang adalah putra Dewa Matahari. Bendera nasionalnya yang melambangkan matahari terbit juga berasal dari legenda itu. Nah, sebutan matahari terbit ini sering digunakan dalam urusan resmi, termasuk nama negara dalam uang Jepang, perangko, dan pertandingan olahraga internasional, karena itulah sebutan sebagai negara Matahari Terbit telah melekat kepada Jepang secara internasional.

Lalu, sebutan apa yang pantas untuk Indonesia? Banyak orang bilang Indonesia negeri kaya raya, negeri agraris—pertanian—mungkin masih banyak negara lain menyangkal untuk menyebut itu. Atau sebutan pada bendera merah putih masih dikenal dengan negara Monako—negara kecil selatan Prancis—lalu apa yang bisa dikenal di Indonesia selain warga negara yang ramah. Bahkan dalam kasus cibiran sepakbola sekalipun Presiden klub Sampdoria, Massimo Ferrero, merujuk Eric Tohir sebagai 'orang Filipina' bukan orang Indonesia.

Apalah arti sebuah nama?

Sangat tragis bukan, mungkin benar seorang pujangga Eropa yang terkenal William Shakespeare, menulis “What is in a name?” (Apalah arti sebuah nama?). Jelasnya kembali, That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” (Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi). Tentulah tidak berlebihan apa yang coba dijelaskan oleh William Shakespeare tentang nama bunga mawar. Sebab, jika pun mawar diganti dengan nama bangkai tetap bunga tersebut melekat padanya bau yang wangi.

Sama halnya dengan negara tercinta ini. Mungkin banyak yang belum menyadari kalau Indonesia sebagai negara seribu pulau—katanya--Indonesia terdiri dari setidaknya 13.487 pulau yang tersebar dari sabang sampai merauke menyebabkan negara Indonesia disebut sebagai negara Seribu Pulau sekaligus sebagai negara Kepulauan—maritim--katanya. Banyak turis hanya mengenal Bali sebagai pulau yang eksotis bukan karena melihat negara Indonesia. Tentu hal ini sangat menyedihkan.

Benar apa yang di katakan Raymond Miller, dalam bukunya ‘Globalization and Identity’, Sebuah negara harus memiliki ‘nation branding’. Sesuai dengan definisinya, ‘nation branding’  berfungsi untuk membangun, mengembangkan, dan mempertahankan pencitraan (reputasi) yang baik tentang suatu negara.

Pandangan Miller menyatakan bahwa kesuksesan suatu negara dalam berkompetisi di pasar global sangat dipengaruhi oleh brand image negara tersebut. Bahkan, dikatakan bahwa branding dan image dari suatu negara—ditambah dengan transfer yang sepadan antara image tersebut kepada produk-produk yang dihasilkan—sama pentingnya dengan produk yang dihasilkan oleh negara itu sendiri.

‘Nation Branding’ sendiri terbukti berhasil dalam melekatkan image suatu negara dengan produk yang berasal dari negara itu sendiri sehingga mampu untuk meningkatkan penjualan produk tersebut. Lihat saja, ketika membicarakan Swiss, selain keju dan cokelatnya, orang pasti akan langsung ingat merek jam tangan Swiss Army; atau ketika seorang anak ditanyakan mengenai produk Jepang, mereka pasti akan menjawab, Honda, Yamaha, dan sebagainya

Country Image

Untuk itu, negara ini perlu membangun ‘nation branding’ lebih ke arah menciptakan country image. Country image ini dipercaya mampu menarik investasi, turis, penciptaan lapangan kerja, meningkatkan ekspor. ‘Nation branding’ itu choice untuk mengaplikasikan marketing dan branding strategy untuk mempromosikan image Indonesia.

Sebagai suatu negara, Indonesia memang harus memiliki konsep branding yang matang. Alasannya adalah meningkatkan daya jual dan persuasi komunikasi pemasaran, mengefektifkan anggaran komunikasi pemasaran, meminimalkan dampak bila terjadi krisis kepercayaan, membangun kebanggaan dan loyalitas dan meningkatkan daya saing.

Untuk membangun branding yang kuat, diperlukan beberapa langkah strategis yaitu komitmen pemerintah bersama swasta merumusan strategi dan program pengembangan merek. Membangun kecukupan anggaran promosi serta konsistensi sikap pencitraan, pandangan dan langkah pengembangan merek disemua kementerian.

Tidak hanya kementerian pariwisata dan kementerian perdagangan yang berhak menggawangi proyek ‘nation branding’. Tapi semua elemen ikut berperan di dalamnya. Perlunya semua elemen masyarakat untuk telibat dalam pemenuhan hajat image Indonesia dimata dunia. Apalagi kaum muda gemar melakukan hal-hal yang kreatif harus ikut bagian. Bukan menjadi penonton setia melainkan ikut berperan melakukan pencitraan  lewat jejaring sosial dan media sejenis.  

Dengan zaken kabinet yang telah disusun sebaiknya pemerintah lebih serius untuk membangkitkan ‘nation branding’ bukan hanya sekedar pencitraan belaka. Melainkan membuat kebijakan yang pro akan keberlangsungan produk dalam negeri. Perlunya rekayasa pencitraan Indonesia sebagai negara yang tidak dianggap sebelah mata.

*Penulis adalah Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

TAG BERITA

Comment