Opini
Rabu 30 September 2026 | 23:13 WIB
Laporan: Khotib
Sebelum Berkata "Anda Diterima", Perusahaan Harus Tahu Dulu Siapa Yang Dicari
Siti Musleha. Mahasiswi Univerwsitass Pamulang Prodi Manajemen
Satu kursi kosong, tumpukan lamaran, dan tekanan untuk segera mengisinya. Situasi ini akrab bagi banyak perusahaan. Dititik inilah godaan muncul: memilih cepat, mengandalkan kesan pertama, lalu berharap semuanya baik-baik saja. Padahal, keputusan menerima seseorang bukan sekadar menutup lowongan. Keputusan itu menentukan seperti apa perusahaan berjalan ke depan.
Dari yang saya pahami mengacu pada buku Manajemen Sumber Daya Manusia yang berjudul “Untuk Pemerintahan dari Teori ke Praktik” karya Pratama (2022), ditegaskan bahwa memilih pekerja yang tepat sangatlah penting. Alasannya sederhana: karyawan adalah penentu tercapainya tujuan perusahaan. Pekerja yang profesional akan memberikan segalanya bagi perusahaan, sedangkan staf yang tidak profesional tidak mampu menjalankan tugas dengan baik. Akibatnya, tujuan kerja tidak tercapai dan perusahaanlah yang dirugikan.
Lalu, apa sebenarnya seleksi itu? Menurut Rivai (2011), seleksi adalah kegiatan manajemen SDM yang dilakukan setelah rekrutmen selesai. Rekrutmen mengumpulkan calon, seleksi yang memutuskan. Simamora (2012) menyebutnya sebagai proses memilih dari sekelompok pelamar yang paling memenuhi kriteria untuk posisi yang tersedia. Teguh (2009) menambahkan bahwa seleksi terdiri dari beberapa langkah khusus untuk menemukan pelamar yang paling cocok dan memenuhi syarat bagi jabatan tertentu. Karena perannya sebesar itu, Rivai (2011) mengingatkan bahwa kesalahan HRD dalam proses seleksi dapat menjadi malapetaka bagi perusahaan.
Disinilah saya berpendapat bahwa seleksi tidak boleh diperlakukan sebagai urusan administratif diujung rekrutmen. Seleksi adalah keputusan yang harus direncanakan. Pratama (2022) menjelaskan bahwa sebelum seleksi dijalankan, perekrut wajib memiliki gambaran yang sangat jelas tentang tugas dan hal-hal yang harus dimiliki calon pengisi jabatan. Karena itu, langkah awal seleksi adalah analisis jabatan, yang hasilnya berupa uraian tertulis atau job description.
Menurut saya, inilah bagian yang paling sering diabaikan. Menyeleksi tanpa uraian jabatan ibarat mengukur tanpa penggaris: penilaian tetap berjalan, tetapi tidak ada ukuran yang jelas. Pratama (2022) mengajarkan prinsip "orang yang tepat di tempat yang tepat", dengan syarat perusahaan lebih dulu mempertimbangkan apa yang akan dikerjakan, baru kemudian siapa yang mengerjakannya. Spesifikasi pekerjaan, yakni kebutuhan minimal dan kualifikasi yang harus dimiliki, menjadi pegangan utamanya.
Dasar seleksi tidak berhenti disitu. Ada pertimbangan ekonomi rasional, agar biaya, waktu, dan pikiran yang dicurahkan dimanfaatkan secara efisien dan efektif serta hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Ada pula etika sosial, yang mencakup agama, kebudayaan, norma hukum, adat istiadat, dan hukum yang berlaku. Adapun sasaran seleksi meliputi keakuratan, keadilan, dan keyakinan. Keadilan, menurut saya, patut mendapat sorotan: setiap kandidat yang memenuhi syarat semestinya diproses dengan cara yang sama seperti kandidat lainnya.
Dalam praktiknya, tahapan seleksi cukup panjang: penyaringan pelamar, tes, wawancara awal, evaluasi latar belakang dan referensi, wawancara mendalam, tes kesehatan, hingga pengambilan keputusan manajemen. Panjang bukan berarti berbelit, sebab setiap tahap punya fungsi dan tidak ada satu pun alat ukur yang sempurna. Uji sampel kerja, misalnya, memang sangat operasional, tetapi tidak menilai kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, maupun keterampilan interpersonal. Tes kepribadian bisa sangat subyektif sehingga sering kali bukan satu-satunya faktor penentu. Wawancara terstruktur memungkinkan setiap kandidat ditanyai hal yang sama, sedangkan wawancara tidak terstruktur membuat perbandingan langsung antarcalon menjadi sulit.
Wawancara juga punya jebakan. Rivai (2011) menyebut wawancara bisa tidak produktif jika pewawancara berada diposisi yang lebih kuat, sehingga kandidat merasa tidak nyaman dan bakat aslinya tersembunyi. Kandidat pun cenderung menonjolkan sifat positif karena wawancara menentukan nasibnya. Disisi lain, pewawancara yang ingin menampilkan perusahaan sebagai tempat kerja yang baik kadang memberi gambaran tidak realistis, sehingga kandidat kecewa ketika kenyataan berbeda. Dari yang saya pahami mengacu pada buku Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan: dari Teori ke Praktik karya Rivai (2011), perusahaan sebaiknya menampilkan citra yang sebenarnya, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Kejujuran di awal lebih murah daripada kekecewaan di kemudian hari.
Satu hal lagi yang menarik: seleksi sesungguhnya proses dua arah, karena calon karyawan juga menilai perusahaan, posisi, dan tunjangan yang ditawarkan. Namun kenyataannya, prosesnya masih cenderung satu arah karena perusahaan memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Simamora (2012) mencatat, ketika tenaga kerja langka, pilihan pekerjaan bagi pelamar menjadi lebih luas sehingga perusahaan perlu membuat penawaran yang lebih memikat. Artinya, memperlakukan pelamar dengan baik adalah bagian dari strategi, bukan basa-basi.
Lantas, apa yang bisa dilakukan? Pertama, mulailah dari analisis jabatan dan susun uraian jabatan serta spesifikasi pekerjaan yang jelas sebelum seleksi berjalan. Kedua, pilih rangkaian tes sesuai jenis pekerjaan dan jangan bergantung pada satu alat ukur saja. Padukan, misalnya, uji sampel kerja dengan wawancara terstruktur, lalu verifikasi informasi lewat evaluasi latar belakang dan referensi. Ketiga, jalankan seleksi secara efisien dan sesuai etika sosial. Keempat, sampaikan gambaran perusahaan yang jujur kepada pelamar. Kelima, beri tahu kandidat yang ditolak beserta alasannya. Teguh (2009) menyebut alasan penolakan dapat dibakukan untuk mencegah kesalahan tafsir.
Pada akhirnya, keputusan menerima seseorang adalah keputusan strategis, karena memengaruhi posisi pelamar dalam perusahaan dan posisi yang kelak akan ia isi. Perusahaan yang merencanakan seleksinya dengan matang, mulai dari analisis jabatan, dijalankan secara adil dan efisien, hingga diakhiri keputusan yang bisa dipertanggungjawabkan, sedang menanamkan kualitas kedalam organisasinya. Maka sebelum berkata "Anda diterima", pastikan perusahaan sudah tahu persis siapa yang dicari. Jika proses ini dijalankan dengan baik, manfaatnya akan terasa jauh melampaui terisinya satu kursi kosong: perusahaan mendapat karyawan yang benar-benar cocok dengan pekerjaannya, biaya rekrutmen ulang akibat salah pilih dapat ditekan, produktivitas tim lebih cepat terbentuk karena karyawan baru lebih mudah beradaptasi, dan kepercayaan calon pelamar di masa depan pun ikut terjaga karena perusahaan dikenal selektif sekaligus adil.
Oleh: Siti Musleha. Mahasiswi Univerwsitass Pamulang Prodi Manajemen

Comment