Opini

Selasa 12 Juli 2022 | 11:41 WIB

Laporan: Nur Hafifah

Kode Etik Profesi Akuntan Dalam Membuat Laporan Keuangan

Kode Etik Profesi Akuntan Dalam Membuat Laporan Keuangan. Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi S-1 Akuntansi

Oleh: Rofi, Alif Setiawan, Reza Pahlepi, Nur Aeni, Nur Hafifah, Nur Rizky Aulia. Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi S-1 Akuntansi

Pada dasarnya, kode etik bertujuan untuk menjaga martabat suatu profesi agar tetap berada dalam nilai-nilai keprofesionalan, bertangung jawab, dan menjung tinggi profesi yang dipegangnya, serta dilain pihak untuk melindungi klien (warga masyarakat) dari penyalahgunaan keahlian dan atau otoritas professional, yang dalam perkembangan selanjutnya kode etik tersebut termasuk kelompok kaidah moral positif. Etika profesi sangat diperlukan dalam bisnis karena etika profesi berkaitan dengan bidang pekerjaan seseorang termasuk sebagai akuntan. Dengan adanya kode etik, seorang akuntan mempunyai pedoman dalam bekerja yang berprofesional. Akan tetepi dengan majunya ekonomi pada suatu negara akan menciptakan persaingan yang mendorong beberapa akuntan untuk melanggar kode etik sehingga dapat merugikan banyak pihak yang berkaitan dengan bisnis tersebut.

Profesi akuntan adalah semua bidang pekerjaan yang menggunakan keahlian di bidang akuntansi, termasuk pekerjaan sebagai akuntan publik, akuntan internal yang bekerja pada perusahaan jasa atau dagang, akuntan yang bekerja di pemerintahan, dan akuntan pendidik yang menyalurkan ilmu akuntansi.

Etika profesi akuntan memiliki beberapa kode etik yang harus dipahami oleh setiap Akuntan dalam menjalankan pekerjaannya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) diantaranya integritas, objektivitas, kompetensi dan kehati-hatian profesional, kerahasiaan. Namun dalam praktiknya masih banyak para akuntan yang melanggar kode etik meskipun para akuntan tersebut sudah memahami pengetahuan tentang kode etik profesi akuntansi, dan kebanyakan para Akuntan tersebut melakukannya dengan kesengajaan atau sadar. Bahkan terkadang tidak memikirkan dan tidak memperdulikan dampak yang ditimbulkan atas pelanggaran kode etik yang buat oleh mereka, padahal pelanggaran yang mereka lakukan dapat merugikan banyak pihak. Memang banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pelanggaran kode etik tersebut seperti kebutuhan individu dimana seseorang mendapatkan keinginannya dengan cara salah atau negatif yang tidak sesuai dengan kode etik profesi akuntan, faktor lainnya juga tidak adanya pandangan yang jelas bagi pelaku terhadap perilaku atau sikap yang sebagaimana harus dilakukan dan bisa saja faktor dari lingkungan yang tidak sesuai lebih jelas lagi beberapa faktor tersebut yang menyebabkan seorang Akuntan melakukan pelanggaran terhadap etika profesi, diantaranya:

1. Tidak berjalannya control dan pengawasan dri masyarakat

2. Kurangnya iman dari individu tersebut.

3. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai substansi kode etik pada setiap bidang, karena buruknya pelayanan sosialisasi dari pihak prepesi sendiri.

4. Belum terbentuknya kultur dan kesadaran dari orang tersebut.

5. Tidak adanya kesadaran etis da moralitas dari orang tersebut.

6. Kebutuhan individu.

7. Tidak ada pedoman hidup dari individu tersebut.

8. Perilaku dan kebiasaan individu yang buruk sehingga menjadi sebuah kebiasaan.

9. Lingkungan tidak etis mempengaruhi individu tersebut melakukan sebuah pelanggaran.

10. Kurangnya sanksi yang keras atau tegas di Negara kita tentang pelanggaran kode etik

Dalam pelanggaran kode etik ini, kita ambil contoh kasus yang pernah terjadi di PT. Garuda Indonesia sepertiyang sudah diberikatan oleh media on line berita merdeka, dimana terdapat pelanggaran yang tidak sesuai dengan standar yang seharusnya. Kasus manipulasi laporan keuangan yang melibatkan perusahaan maskapai terbesar di Indonesia, dalam kejadian tersebut didalamnya menyeret KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & rekan selaku Auditor yang mengaudit laporan keuangan tersebut, kasus laporan keuangan Garuda Indonesia pada tahun 2018 lalu dijelaskan secara singkat kronologi kasus laporan keuangan Garuda Indonesia dimulai ketika dua komisaris Garuda Indonesia yakni Chairal Tanjung dan Dony Oskaria menolak laporan keuangan tahun 2018 dan menganggap laporan keuangan 2018 tidak sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang ada. Pasalnya, Garuda Indonesia memasukan keuntungan dari PT Mahata Aero Teknologi yang memiliki utang kepada maskapai berpelat merah tersebut.

Dalam penjelasan Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengatakan, latar belakang mengenai laporan keuangan yang menjadi sangat menarik adalah soal kerjasama dengan PT Mahata Aero Teknologi, terkait penyediaan layanan WiFi on-board yang dapat dinikmati secara gratis. Dengan adanya laporan kisruh mengenai laporan keuangan PT. Garuda Indonesia pihak Bursa Efek Indonesia memanggil jajaran direksi Garuda Indonesia bersama auditor yang memeriksa keuangan GIAA, yakni KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang, dan Rekan. Pada Jumat, 28 Juni 2019 hasil pemeriksaan terhadap laporan keuangan PT. Garuda Indonesia Tbk tahun buku 2018 diumumkan. Dari pemeriksaan tersebut, ditemukan pelanggaran dalam pelaksanaan audit laporan keuangan Garuda Indonesia.

Akhirnya, Garuda Indonesia dikenakan sanksi oleh Kemenkeu, OJK, dan BEI. Selain Garuda, Akuntan Publik Kasner Sirumapea dan Kantor Akuntan Publik Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan selaku Auditor laporan keuangan PT. Garuda Indonesia tahun buku 2018 juga dijatuhi sanksi oleh Kemenkeu. Garuda Indonesia, yaitu Chairal Tanjung dan Dony Oskaria menolak untuk menandatangani laporan keuangan tahun 2018 karena mereka menganggap terdapat kejanggalan dalam laporan keuangan tersebut. Pasalnya, laporan keuangan tersebut menunjukkan bahwa PT. Garuda Indonesia berhasil mendapatkan laba bersih sebesar USD.809,85 ribu atau equal dengan Rp.11,33 miliar. Garuda Indonesia mengalami kerugian sebesar USD. 216,5 juta. Mereka menganggap bahwa penyusunan laporan keuangan tahun 2018 tidak sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. MAT menjelaskan bahwa mereka melaksanakan kerja sama dengan PT Garuda Indonesia terkait layanan konektivitas.

Pihak MAT mencatatkan utang sebesar USD.239 juta karena belum melakukan pembayaran kepada Garuda Indonesia, sedangkan pihak Garuda Indonesia mencatat kerja sama tersebut pada akun pendapatan. Sehubungan dengan hal ini terlihat jelas adanya penyusupan kepentingan oleh Garuda Indonesia untuk meningkatkan labanya. Namun, menurut auditor, laporan keuangan PT. Garuda Indonesia tersebut telah disajikan secara wajar. Selain itu, Akuntan publik belum mempertimbangkan fakta-fakta setelah tanggal laporan keuangan sebagai dasar pertimbangan ketepatan perlakuan akuntansi dan dalam hal ini telah melanggar Standar Audit 560. (https://www.beritamerdekaonline.com/2021/12/menilik-pelanggaran-kode-etik-profesi-akuntan-dalam-kasus-laporan-keuangan-pt-garuda-indonesia/)

Pelanggaran etika apa saja yang terjadi?

1. Integritas

PT Garuda Indonesia tidak mencerminkan keintegritasnya karena mereka tidak melukan kejujuran dalam hal ini adalah auditor melaporkan laporan keuangan namun laporan keuangan tersebut sudah direkayasa serta PT Garuda mengakui piutang sebagai pendapatan.

2. Objektivitas

PT Garuda Indonesia yang mendapati pengakuan yang tidak wajar pada laporan keuangan dan juga pembuatan laporan keuangan dari tahun sebelumnya yang menanggung kerugian menjadi untung di tahun selanjutnya seakan memberikan spekulasi  bahwa dalam bekerja auditor tidak terbebas dari tekanan yang berasal dari pihak manapun, sehingga auditor menyalahi aturan yang ada.

3. Perilaku Profesional

Setiap akuntan professional berkewajiban untuk memelihara pengetahuan dan keahlian professional pada tingkat yang dibutuhkan untuk menjamin klien atau pemberi kerja akan menerima layanan professional yang kompeten. Pada kasus PT Garuda membuat dampak buruk terhadap auditor salah satunya semakin berkurangnya rasa percaya masyarakat terhadap profesi akuntan.

https://www.researchgate.net/publication/359182851_Etika_Profesi_dan_Tata_Kelola_Korporat_Kasus_Pelanggaran_Etik_Akuntan_Publik_Pemeriksa_PT_Garuda_Indonesia )

Dari kejadian tersebut tentu menimbulkan dampak yang kurang baik bagi PT. Garuda Indonesia seperti:

1. Harga saham PT Garuda Indonesia anjlok dan penurunan level dari Rp.500 menjadi Rp. 478/saham.

2. OJK mengenakan sanksi administrative berupa denda Rp.100 juta atas pelannggaran Peraturan OJK Nomor 29/POJK.04/2016 tentang Laporan Tahunan Emiten atau Perusahaan Publik.

3. BEI resmi menjatuhkan sanksi kepada PT. Garuda Indonesia dengan denda senilai Rp. 250 juta dan restatement atau perbaikan laporan keuangan perusahaan dengan paling lambat 26 Juli 2019.

Dalam penanganan kasus tersebut guna menegakkan rasa keadilan dan menegakkan hukum, maka bagi pelaku sanksi berupa denda dijatuhkan pada masing-masing direksi PT. Garuda Indonesia sebesar Rp. 100 juta atas pelanggaran Peraturan Bapepam Nomor VIII.G.11 tentang tanggung jawab direksi atas laporan keuangan. (https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/Siaran-Pers--Otoritas-Jasa-Keuangan-Berikan-Sanksi-Kasus-Pt-Garuda-Indonesia-Persero-Tbk.aspx)

Pada dasarnya pelanggaran kode etik dalam akuntan adalah pelanggaran yang dilakukan oleh profesi akuntan yang tidak mencerminkan mutu profesi tersebut dimata masyarakat. Pelanggaran ini berupa ketidak jujuran dalam pembuatan laporan keuangan, hasil dari suatu laporan keuangannya yang cenderung menguntungkan pihak terkait karena adanya bias/benturan kepentingan, dll. Untuk itu sangat penting bagi seorang akuntan untuk bisa melindungi profesinya tersebut dengan menerapkan etika profesi akuntan yang dikeluarkan langsung oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Etika akuntan tersebut berisi berbagai panduan atau aturan seperti bagaimana seharusnya seorang akuntan berperilaku terhadap rekan kerja, klien, maupun hubungannya dengan masyarakat. Jika seorang akuntan sudah menerapkan aturan kode etiknya, sudah dapat dipastikan akuntan tersebut dapat menjamin profesi maupun kelembagaannya agar dapat terjaga dengan baik, serta akuntan dapat bekerja dengan profesinal sehingga dapat menjunjung tinggi harkat dan martabat profesi Akuntan dimata masyarakat.

*Penulis adalah Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi S-1 Akuntansi

* Segala bentuk isi tulisan menjadi tanggung jawab Penulis

TAG BERITA

Comment