Opini

Kamis 11 Nopember 2021 | 19:19 WIB

Laporan: Budi Firmansyah

Restrukturisasi Pendidikan di Era Digital : Kajian Pandemi Covid-19

Dokumentasi SMKM 4 Jakarta

Istilah restrukturisasi yang pemaknaannya dapat diartikan "Menata kembali", menjadi sangat relevan dengan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Adanya perubahan penyikapan dalam menyelenggarakan pendidikan pada kondisi pandemi Covid-19, menjadi alasan yang dapat dibenarkan demi keberlangsungan pembelajaran di sekolah.

Pasca gelombang kedua Pandemi Covid-19 mereda, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), memberikan izin pelaksanaan Pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas, mulai Senin, 30 Agustus 2021, kepada beberapa daerah untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas. Pemberlakuan itu tentu merujuk pada kondisi adanya level PPKM pada suatu daerah.

Terlepas dari proses keputusan pemberlakukan pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT), muncul kekhawatiran tentang pendidikan di Indonesia yang bisa saja mengalami "Lost Generation"jika tidak segera ditangani. Maka, realisasi ide merestrukturisasi karena adanya pandemi Covid-19 bisa dijadikan gerakkan semangat menggali potensi memperbaiki pendidikan di Indonesia.

Pertama, dalam menyikapi keterbatasan ruang dan waktu dalam pembelajaran. Tidak bisa dipungkiri, perlunya pemilihan metode yang tepat ketika pembelajaran tidak berjalan sebagaimana sebelum pandemi. Sebagai contoh, pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang sudah dijalankan selama masa pandemi Covid-19, telah meninggalkan pola pembelajaran yang merubah sudut pandang terhadap pembelajaran. Guru yang semula berhadapan langsung dengan siswa di kelas, terpaksa menjalankan PJJ karena didorong adanya keharusan menyelenggarakan pembelajaran apapun kondisinya.

Dalam hal ini, keterbatasan ruang dan waktu mendorong perlunya kreatifitas dalam menyusun rencana pembelajaran dengan memperhatikan aspek ketercapaian materi yang diajarkan. Demikian juga dengan siswa, mereka didorong untuk beradaptasi dengan pilihan metode pembelajaran. Secara tidak langsung, perubahan tersebut perlu ditata kembali, agar tidak menimbulkan masalah. Restruturisasi yang dimaksud adalah mengubah cara pandang guru dengan menghadirkan pelatihan-pelatihan yang menunjang bertambahnya kemampuan guru dalam mengajar dengan memanfaatkan teknologi.

Pemanfaatan teknologi itu yang menjadi pembeda di masa sekarang, yakni penambahan pengetahuan guru bisa dilakukan secara mandiri tanpa batas ruang dan waktu.

Kedua, penyikapan atas perubahan cara mengajar yang mengoptimalkan pemanfaatkan teknologi. Pola pengajaran yang memanfaatkan aplikasi pembelajaran daring tidak bisa begitu saja ditinggalkan. Oleh karenanya, ini harus dipandang sebagai suatu kemajuan di tengah perubahan zaman yang bisa dipertahankan, bahkan ketika pembelajaran sudah kembali seperti semula. Sesuai dengan peruntukkannya, kehadiran teknologi untuk mempermudah pekerjaan manusia bisa dijadikan alasan mendasar mengapa teknologi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia, termasuk pemanfaatannya untuk pendidikan.

Adapun pengembangannya, guru akan terdorong untuk menciptakan inovasi pembelajaran dengan memaksimalkan pemanfaatkan teknologi. Minimal, menggunakan teknologi yang sudah ada agar benar - benar menjadi bagian dari proses pembelajaran, sehingga siswa terbantu memahami materi yang disampaikan. Pada ranah ini, restrukturisasi mengenai pemanfaatan teknologi perlu diatur lebih lanjut sebagai pola baru pengajaran yang membutuhkan teknologi, bukan sekedar menjadinya pelengkap.

Ketiga, mengenai pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana penunjang pembelajaran. Pada era digital seperti sekarang, disaat arus informasi begitu cepat, menjadi tantangan tersendiri terpenuhinya sarana dan prasarana penunjang pembelajaran yang berbasis teknologi di manapun berada. Sebabnya, karena semua guru maupun siswa memiliki kebutuhan yang sama akan sumber belajar. Di masa mendatang, tidak ada lagi alasan yang mengemuka tentang kendala  pembelajaran karena  sarana dan prasarananya tidak memadahi.

Pada bagian ini, harapan tertumpu pada pemerintah. Dengan kuasanya, bisa memanfaatkan modal sumber daya yang ada, untuk melakukan pemerataan akan ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran. Sarana tersebut baik berupa akses jaringan yang memadahi, maupun ketersediaan perangkat untuk menjalankan pembelajaran.

Terkait pembahasan di atas, restrukturisasi dibutuhkan untuk mengurutkan kembali alur penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Hal ini selaras dengan semangat dalam mencapai tujuan nasional pendidikan sesuai   Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tentang tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tentu, mewujudkan tujuan pendidikan nasional pada keadaan yang terus berubah tidaklah mudah. Perlunya sikap adaptif dalam menyelenggaran pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan tanpa menghilangkan identitas diri sebagai bangsa Indonesia.

Untuk itu semua, restrukturisasi dapat dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga keberjalanan pendidikan tetap berada pada jalur yang benar di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat. Jika kemudian ditemukan hal yang perlu diatur dalam sebuah konsep, maka semuanya merasa bertanggungjawab untuk menyukseskan gerakkan semangat memperbaiki pendidikan di Indonesia dalam kondisi pandemi Covid-19.

Penulis adalah Budi Firmansyah, Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UHAMKA

TAG BERITA

Comment