Opini

Selasa 01 Juni 2021 | 22:45 WIB

Laporan: Al-Fina Nuraeni

DAMPAK PEMBELAJARAN DARING TERHADAP PSIKOLOGIS MAHASISWA

Al-Fina Nuraeni (Mahasiswi Universitas Pamulang-Prodi S1-Akuntansi)

Adanya pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) berdampak pada sektor-sektor kehidupan, salah satunya adalah pendidikan. Terlepas dari keberadaan pandemi Covid-19, pendidikan masih harus tetap berjalan dengan menggunakan metode  jarak jauh (daring). Maka dari itu, Bapak Nadiem Anwar Makarim selaku Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), menerbitkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Corona Virus Disease (Covid-19). Salah satu pokok yang disampaikan dalam Surat Edaran tersebut ialah mengenai pembelajaran jarak jauh atau daring sebagai upaya pencegahan terhadap perkembangan dan penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19).

Lalu apakah model pembelajaran secara daring memiliki dampak terhadap psikologis mahasiswa? Perubahan metode pembelajaran menjadi salah satu penyebab perubahan psikologis pada mahasiswa, salah satunya yaitu kecemasan. Karena adanya Corona Virus Disease (Covid-19) tetapi pendidikan masih harus tetap berjalan, maka tentunya pembelajaran dilakukan secara daring. Dikarenakan pembelajaran dilakukan secara daring maka membutuhkan sebuah media berupa gadget, laptop, IOS, dan lain sebagainya. Biasanya pembelajaran tersebut dilakukan melalui platform yang telah disediakan oleh pihak kampus. Sehingga, mau tidak mau mahasiswa dan dosen yang terlibat dalam pembelajaran harus menatap layar lebih lama dari biasanya. Hal ini bisa membuat mata lelah dan juga membuat kebosanan, karena tidak dapat berinteraksi secara langsung baik dengan dosen maupun teman. Selain itu mahasiswa memiliki beberapa kendala dalam melaksanakan pembelajaran daring seperti, lokasi rumah tidak terjangkau oleh sinyal, kuota internet yang tidak memadai, walaupun sekarang ini kemendikbud sudah memberikan kuota gratis kepada mahasiswa. Namun terkadang kuota yang telah diberikan kemendikbud tidak cukup untuk dipakai pembelajaran daring selama satu bulan.

Pembelajaran daring disertai dengan tumpukan tugas menyebabkan semakin meluas terjadinya kecemasan terhadap mahasiswa terlebih lagi dimasa Covid-19. Kecemasan tersebut dapat memengaruhi hasil belajar mahasiswa, karena kecemasan cenderung menghasilkan kebingungan serta distorsi presepsi. Distorsi dapat mengganggu belajar dengan menurunkan daya ingat, menurunkan kemampuan memusatkan perhatian, dan mengganggu kemampuan untuk menghubungkan satu hal dengan hal lainnya.

Menurut Agista (2011), stres akademik adalah suatu kondisi berupa gangguan mental atau emosional, serta fisik yang diakibatkan oleh ketidakcocokan antara tuntutan lingkungan dengan Sumber Daya Aktual yang biasanya dirasakan oleh mahasiswa yang akhirnya mereka semakin terbebani dengan segala tekanan serta tuntutan dalam menjalankan studinya. Oljenik dan Holschuh (dalam Hasfrentia, 2016) menggambarkan bahwa stres akademik merupakan respon yang timbul akibat terlalu banyaknya tuntutan serta tugas yang harus dikerjakan oleh mahasiswa. Sebagian sumber stres pada mahasiswa berasal dari masalah akademik. Stres pada bidang akademik pada mahasiswa timbul ketika harapan untuk mencapai prestasi akademik meningkat, baik dari orang tua, dosen ataupun teman sebaya. Harapan-harapan tersebut seringkali tidak sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.

Selain kondisi pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) dan tugas pembelajaran daring yang menjadi pemicu gangguan psikolog pada mahasiswa, ada faktor lain yang membuat mahasiswa mengalami gangguan psikologi dalam melaksanakan pembelajaran daring, salah satunya yaitu keluarga yang tidak harmonis. Kurangnya dukungan, perhatian, serta melihat orangtua nya berdebat dan bertengkar menyebabkan anak memiliki pribadi yang mudah stres dan kurang bahagia.

Dukungan dari keluarga sangat berpengaruh guna meminimalisir gangguan psikologis pada anak. Ketika anak mengalami kendala atau kesulitan, orangtua baiknya menenangkan mereka serta membantu mencari solusi yang baik. Karena hal itulah yang membuat anak merasa tidak sendiri dan ada orang lain yang peduli terhadap masalah yang sedang mereka hadapi. Oleh karena itu, orangtua harus berperan penting dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Dengan adanya dukungan, perhatian serta kasih sayang dari orangtua maka kondisi psikologis anak pun bisa diatasi dengan baik.

Stres memang tidak bisa dihindari, namun dapat diminimalisir dengan bertindak positif, memperbaiki kualitas tidur, membicarakan segala keluhan pada orang yang kita percaya ataupun memanfaatkan hobi untuk menyegarkan pikiran. Oleh karena itu diperlukan manajemen stres yang luas serta menyeluruh. ketitka kita merasa bosan dan lelah dalam melaksanakan pembelajaran daring bahkan stres mengerjakan tugas, maka istirahatlah sejenak untuk memulihkan pikiran. Memikirkan masa depan dan bekerja keras memanglah suatu keharusan, tetapi menghargai diri sendiri dan menyemangati diri sendiri, membahagiakan diri, dan mencintai diri sendiri pun merupakan hal yang paling penting.

Penulis: Al-Fina Nuraeni - Mahasiswi Universitas Pamulang Program Studi S1-Akuntansi

*) Segala isi tulisan yang dikirim oleh penulis sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Comment