Nasional

Kamis 25 Februari 2016 | 09:48 WIB

Laporan: Amir Fiqi

Supiadin Aries: RRI Harus Menjadi Media yang Dinamis

Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Nasdem, Supiadin Aries

Jakarta, Visione.co.id– Di tengah persaingan industri hiburan yang kian ketat, Radio Republik Indonesia (RRI) harus mampu menjadi media yang dinamis. RRI tidak hanya berperan sebagai corong propaganda pemerintah, namun harus memposisikan diri sebagai Lembaga Penyiaran Publik (LPP). Demikian disampaikan Anggota Komisi I DPR RI Supiadin Aries dalam Uji Kelayakan dan Kepatutan calon Dewan Pengawas LPP RRI di ruang Komisi I DPR, Komplek Parlemen, Jakarta, Rabu (24/02).

Lebih lanjut politikus Nasdem ini menuturkan untuk mampu bersaing manajemen RRI harus lebih peka terhadap selera pendengar, terlebih di tengah rencana penggabungan manajemennya dengan Televisi Republik Indonesia (TVRI). Keduanya adalah lembaga penyiaran yang tumbuh besar di bawah rezim Orde Baru, yang sama-sama menghadapi tantangan baru di era pasca reformasi.

“Seperti apa konsep dan road mapnya, agar penyatuan manajemen TVRI dan RRI juga bisa meningkatkan kualitas RRI sendiri?” tanya Supiadin

Road Map yang dimaksud legislator Fraksi Partai Nasdem dari Dapil Jawa Barat XI ini khususnya terkait perencanaan jangka menengah dan jangka pendek RRI dalam upaya pengembangan institusinya. Dalam kerangka itu, RRI harus mengidentifikasi secara jernih persoalan-persoalan yang selama ini dihadapi, salah satunya terkait jumlah pendengar yang minim. Persoalan itu cukup ironis jika mengingat jaringan penyiaran RRI yang sangat luas, dengan fasilitas pemancar yang tersedia di seluruh Indonesia.

Supiadin menegaskan, semua itu harus menjadi bahan refleksi bagi RRI. Jika akar persoalannya bisa dipetakan secara jernih, baru lembaga itu bisa merumuskan strategi yang bisa membawanya menjadi radio nomor wahid di Indonesia. Berbagai fasilitas yang disandang RRI, menurut Supiadin tak menutup kemungkinan untuk menjadi sekelas ABC Radio milik Australia, BBC milik Inggris atau NHK milik Jepang. Tentu saja, sebelum berkembang ke sana, RRI harus benar-benar mengenali kelebihan dan kekurangannya.

“Dewan Pengawas LPP RRI ini harus berpikir strategis untuk menuju kesana. Apa lagi penggabungan itu (TVRI dan RRI, red) akan segera berlaku pasca ditandatanganinya RUU Radio dan Televisi Republik Indonesia,” tandas Supiadin.

RUU Radio dan Televisi Republik Indonesia (RTRI) yang sebenarnya sudah masuk prioritas dalam program legislasi nasional (Prolegnas) 2014, hingga kini belum disahkan. Sesuai agenda DPR, penesahan itu baru akan dilakukan beberapa bulan ke depan. Pengesahan yang berimbas pada penggabungan dua media massa plat merah itu, dalam hemat supiadin bisa menjadi peluang atau pun tantangan bagi RRI sendiri. Jika kedua lembaga bisa bersinergi, maka akan berimbas positif pada perkembangannya ke depan. Sebaliknya, jika kedua tidak bisa bersinergi, maka kedua media itu tetap akan tersingkir dari arena persaingan.

“Sekarang RUU RTRI sudah masuk Prolegnas prioritas 2016, termasuk kewenangan Dewan Pengawas RRI diatur di situ. Kita lihat saja mainnya seperti apa. Ke depan, bagaimana membangun komunikasi efektif antar keduanya untuk menjaga kinerja RRI ini,” pungkasnya.

TAG BERITA

Comment