Pendidikan

Kamis 21 Mei 2026 | 15:16 WIB

Laporan: Khotib

LKK UNPAM Melalui Seminar Nasional Gaungkan Pentingnya Kerukunan dan Harmoni Lintas Iman

Seminar Nasional LKK UNPAM (Dokumentasi Deni Darmawan)

Visione.co.id - Tangerang Selatan - Lembaga Kajian Keagamaan (LKK) Universitas Pamulang adakan seminar bertajuk “Harmonisasi Lintas Iman: Reorientasi Nilai-nilai Religiusitas untuk Menjawab Tantangan Peradaban Modern”, di Aula H. Darsono Gedung Viktor Kampus 2 Universitas Pamulang, Jalan Raya Puspiptek, Viktor Serpong, Kota Tangerang Selatan. Kamis, (21/05/2026).

Seminar yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian Keagamaan (LKK-UNPAM) yang diketuai oleh Dr. Sofyan Hadi Musa. M.A tersebut menjadi lebih elegan. dengan kepiawaian-nya dalam mengelola dan meramu pengetahuan untuk disajikan kepada halayak patut diapresisi, baginya dalam hal ini patut menjadi kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh lembaga kajian keagamaan Universita Pamulang sebagai bentuk kepedulian dan ruang publik bagi mahasiswa terhadap isu yang beredar diluar, hal ini dimanfaatkan lebih mendalam menjadi ruang dialog dan refleksi antara mahasiswa/peserta seminar dan narasumber yang membahas tentang pentingnya menjaga toleransi, persatuan, serta nilai religiusitas ditengah kehidupan masyarakat yang majemuk.

Dalam hal ini ketua LKK Sofyan Hadi Musa sengaja merencanakan dan membentuk kepanitiaan guna menggelar acara semacam ini dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan umum mengenai permasalahan yang bergulir diluar sana dengan harapan jangan sampai isu-isu atau kejadian-kejaidan diluar dapat mempengaruhi mentalitas terutama moril mahasiswa yang ada di Universitas Pamulang.

Dalam ruang yang bernama Aula H. Darsono gedung Viktor kampus 2 Universitas Pamulang yang berlokasi di Jalan Raya Puspitek, Serpong – Tangerang Selatan, seminar dimulai pukul 08.00 s.d 11.30 WIB dalam acara tersebut selain dihadiri oleh para mahasiswa selaku peserta turut hadi pula Rektor UNPAM Dr. H. E. Nurzaman, M.M., M.Si dan Empat tokoh lintas agama hadir sebagai narasumber, yakni Habib Isa Al-Kaff, Pdt. Marcel Saerang, Bhante Dhirapunno, serta Assoc. Prof. Dr. Yan Mitha Dhaksana.

Muhammad Mamduh Nuruddin selaku moderator mengemas acara dengan format talkshow sehingga Seminar belanggsung sangat hangat dan penuh dengan antusias peserta yang dalam hal ini ditunjukkan dengan terlontarnya beberapa pertanyaan dan tepuk tangan dari yang hadir.

Dr. H. E. Nurzaman, M.M., M.Si. Rektor Universitas Pamulang turut hadir sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan tersebut sekaligus memberikan nuansa yang berbeda.

Nurzaman, sapaan akrabnya memaparkan kepada awak media Visione menyampaikan bahwa menurutnya bahwa kerukunan merupakan fondasi utama dalam menjaga keharmonisan bangsa dan terdapat beberapa bentuk kerukunan yang harus terus dipelihara dalam kehidupan bermasyarakat.

“Mari kita hidup rukun dan saling menghormati segala perbedaan, karena perbedaan adalah rahmat dari Yang Maha Kuasa. Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Karena itu, perbedaan adalah bentuk kebesaran Tuhan yang harus kita jaga bersama”. pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nurzaman menilai bahwa nilai religiusitas memiliki peran penting dalam membentuk karakter masyarakat yang damai dan saling menghormati. Ia mengatakan, apabila Universitas Pamulang terus memegang teguh nilai-nilai religius, maka tujuan pendidikan dan kehidupan bermasyarakat akan lebih mudah tercapai.

“Jika UNPAM memegang nilai-nilai religius, maka kita akan semakin dekat dengan tujuan hidup yang baik dan penuh kedamaian,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Nurzaman secara resmi membuka Seminar Nasional Keagamaan tersebut. Pembukaan acara disambut antusias oleh peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, dan tamu undangan dari berbagai latar belakang agama

Keempat tokoh lintas agama yang hadir sebagai narasumber yang kompeten sesuai dengan keilmuannya, yakni Habib Isa Al-Kaff, Pdt. Marcel Saerang, Bhante Dhirapunno, serta Assoc. Prof. Dr. Yan Mitha Dhaksana akan diberikan waktu untuk memaparkan esensi keimanan, keberagaman, kerukunan serta kemajemukan menurut pandangan keagamaan masing-masing, sehingga akan tercipta nuansa nilai-nilai toleransi yang harus dibangun dimulai dari lingkungan pendidikan. 

Habib Isa Al-Kaff selaku pemateri dari sisi agama Islam menjelaskan bahwa Al-Qur’an hadir sebagai obat atau penawar sekaligus rahmat bagi kehidupan umat manusia. Menurutnya, nilai religius tidak cukup hanya dipahami secara simbolis, tetapi harus diwujudkan melalui kepedulian dan sikap saling mencintai antar sesama.

“Kebaikan seseorang tidak akan sempurna sampai orang tersebut mampu memberikan apa yang dicintainya kepada orang lain,” paparnya.

Habib Isa Al-Kaff menekankan bahwa Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi cinta kasih dan kedamaian. Iman adalah kepercayaan kepada Allah. Didalam surat Al-Mujadilah ayat 11, kepercayaan dibangun atas dasar ilmu bukan tahayul.

“Kalau mau kenal Allah lihat tanda-tanda kebesarannya bagi yang yakin. Juga di dalam diri kita ada tanda-tanda kekuasaan Allah. Keyakinan harus dengan ilmu, mendapat ilmu dengan belajar. Keimanan akan mendorong untuk belajar dan mencintai antar sesama,” imbuhnya.

Habib Isa menjelaskan bahwa Al-Qur’an hadir sebagai obat atau penawar sekaligus rahmat bagi kehidupan manusia. Menurutnya, nilai religius tidak cukup hanya dipahami secara simbolik, tetapi harus diwujudkan melalui kepedulian dan sikap saling mencintai antar sesama.

“Kebaikan tidak akan sempurna sampai manusia mampu memberikan apa yang dicintainya kepada orang lain,” tambahnya.

Setelah Habib Isa memaparkan penjelasan mengenai kecintaan terhadap sesama dengan begitu gamblangnya, sekarang giliran Bhante Dhirapunno yang memaparkan pandangannya menurut agama Budha.

Menurut pandangan Bhante Dhirapunno juga menyampaikan hal serupa dan menekankan bahwa toleransi harus dibangun atas dasar cinta kasih. Dalam perspektif agama Buddha, menurutnya rasa cinta menjadi dasar untuk menghilangkan kebencian dan ego dalam menyikapi perbedaan.

“Ketika toleransi dilandasi rasa cinta, maka perbedaan tidak lagi menjadi sumber konflik, tetapi menjadi kekuatan untuk hidup berdampingan dan bahagia,” ungkap Bhante.

Ia juga menilai bahwa keberadaan tokoh agama yang berbeda dalam satu forum seminar ini menunjukkan dan pembuktian bahwa harmoni dapat diwujudkan melalui sikap saling menghargai dan memahami.

“Kita hadir di tempat ini dengan perbedaan tanpa ada rasa iri dan permusuhan karena kita dipersatukan oleh cinta”, imbuhnya.

Hal senada dalam pemaparannya, Pdt. Marcel Saerang menilai bahwa nilai toleransi harus terus dibangun, khususnya di lingkungan pendidikan. Menurutnya, kampus memiliki peran penting dalam menciptakan toleransi diatas perbedaan sehingga akan tercipta lingkungan kampus yang sehat, tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki sikap menghargai keberagaman.

Pdt. Marcel menyampaikan bahwa seminar lintas iman menjadi salah satu langkah konkret dalam mengurangi potensi intoleran di lingkungan kampus. 

“Pondasi ke-kristenan adalah rasa kasih sayang terhadap Tuhan, manusia, lingkungan, kasih yang mengasihi diri sendiri, tidak merusak dirinya dan orang lain, pentingnya menyadari bahwa kasih itu menjadi pondasi dari segala tantangan dan dasar toleransi,” ujarnya.

Menurutnya, Universitas Pamulang memiliki visi religius dan nasionalis yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Acara seperti ini menjadi ruang untuk menjaga nilai religius sekaligus memperkuat nilai humanis yang bisa dimulai dari lingkungan akademik.

Narasumber lainnya, Assoc. Prof. Dr. Yan Mitha Dhaksana, menyampaikan bahwa agama Hindu memandang perbedaan sebagai sesuatu yang alami dalam kehidupan manusia. Ia mengibaratkan manusia seperti sungai yang terus mengalir dan pohon yang tumbuh untuk memberi manfaat kepada sekitarnya.

“Esensi manusia adalah hidup untuk memberi manfaat kepada orang lain,” ujarnya.

Sosok yang akrab dengan panggilan pak Yan juga mengapresiasi lingkungan Universitas Pamulang yang dinilai inklusif terhadap berbagai perbedaan, baik agama maupun latar belakang sosial lainnya, termasuk mahasiswa dan dosen penyandang disabilitas.

“LKK menjadi salah satu ruang bersama yang menaungi seluruh agama dan menjadi tempat bertumbuhnya nilai toleransi di kampus,” jelasnya.

Melalui seminar nasional ini, LKK UNPAM dibawah kepemimpinan Dr. Sofyan Hadi Musa. M.A berharap nilai harmonisasi lintas iman dapat terus berkembang dilingkungan pendidikan dan masyarakat luas dan menjadi pengingat bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk membangun kehidupan yang damai, religius, dan humanis sesuai dengan visi misi Universitas Pamulang.*Tib

Comment