Opini

Sabtu 03 Juli 2021 | 19:12 WIB

Laporan: Qothrunnada Asywaq Islami

Penggunaan Sosial Media Pada Masa Pandemi

Qothrunnada Asywaq Islami. Mahasiswi S1 Akuntansi Unversitas Pamulang: Penggunaan Sosial Media Pada Masa Pandemi

Bermula pada tanggal 2 Maret tahun lalu, Presiden Indonesia, Jokowi Widodo, mengumumkan dua kasus terkonfirmasi positif COVID-19. Kedua pasien tersebut dikabarkan memiliki kontak dengan seseorang berkewarganegaraan Jepang yang dinyatakan positif pada akhir Februari. Hingga pada tanggal 27 Juni 2021, Indonesia memiliki jumlah kasus sebanyak 2.115.304, dengan jumlah kasus kesembuhan 1.850.481, dan jumlah kasus kematian 57.138 (Sumber data: Kementerian Kesehatan RI). Angka diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan melemahnya kerjasama antara pemerintah dan rakyat dalam penerapan protokol kesehatan.

Salah satu anjuran dari pemerintah adalah untuk berisolasi mandiri dirumah, didukung oleh pembatasan kegiatan di luar sebagai upaya pencegahan dari paparan virus. Sehingga dengan adanya new normal yang serba daring, penggunaan sosial media pun melesat tinggi. Sosial media sendiri mengambil peranan penting dalam penyebaran informasi. Hanya saja, informasi yang beredar cenderung bersifat subjektif dan/atau tidak akurat karena mengandung berbagai opini, persepsi, dan sikap dengan bias yang melekat dari suatu individu atau kelompok. Konsumsi informasi yang tidak disaring dengan baik akan berdampak pada pengambilan keputusan yang ceroboh oleh individu atau kelompok lain.

Tidak hanya sebagai alat informasi, sosial media juga berfungsi sebagai sarana komunikasi. Sosial media mendukung kebutuhan emosional dengan adanya rasa kebersamaan dan kenyamanan, serta dukungan sosial dari teman, keluarga, maupun sesama pejuang pandemi. Dengan demikian, penggunaan sosial media berpengaruh terhadap pembentukan ketahanan psikologis individu melalui masa sulit. Sayangnya, alih-alih membantu dalam meringankan konsekuensi, penggunaan sosial media yang ekstrem justru memberikan risiko kesehatan mental yang tinggi melalui pembentukan ikatan emosional yang erat dengan penggunanya. Faktanya, suatu penelitian menemukan bahwa perilaku adiktif pengguna sosial media cenderung merusak kualitas tidur, menimbulkan gejala cemas, serta diiringi dengan perasaan isolasi sosial yang lebih besar.

Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari sosial media. Namun, banyak pula bahaya yang mengancam. Maka dari itu, jadilah pengguna sosial media yang cerdas dalam menerima dan memilah informasi, serta kurangi penggunaan yang berlebih. Anda dapat memulai dengan membaca buku, menulis jurnal, berkreasi dengan resep makanan atau bercocok tanam untuk mengisi waktu di rumah. Tetap perhatikan kesehatan, jangan lupa untuk selalu mengenakan masker dan mencuci tangan. Stay at home.

*) Semua isi tulisan tanggung jawab penulis

*) Penulis adalah Mahasiswi Universitas Pamulang

Comment