Opini

Kamis 24 Agustus 2017 | 17:29 WIB

Laporan: Iffatul Fajriyati

Jangan Panik Saat Dolar Naik, Rupiah Turun

Iffatul Fajriyati adalah Mahasiswa Program Studi Manajemen FEB-UHAMKA


Sejak negara Indonesia merdeka tahun 1945, perekonomian negara ini mulai berkembang serta mengalami pasang surut. Pada saat era orde lama dan orde baru perekonomian Indonesia perlahan tumbuh hingga akhirnya pada masa runtuhnya pemerintahan presiden soeharto tahun 1998.

Pada tahun 1998 Indonesia  dilanda krisis moneter yang melumpuhkan segala aspek perekonomian dan kembali membaik pada tahun 2009 yang mana saat dunia sedang dilanda krisis global perekonomian Indonesia tetap tumbuh sekitar 4,3% - 4,4%.

Krisis ekonomi pada sebuah negara tidak terjadi begitu saja, beberapa kelemahan struktural yang umumnya menjadi penyebab krisis adalah kerentanan disektor keuangan seperti terlalu tingginya hutang baik pemerintahan maupun swasta, melemahnya harga komoditas ekspor, pelarian modal secara besar-besaran dan serentak serta ringkihnya sektor perbankan.

Semua penyebab umum diatas merupakan gambaran yang terjadi pada tahun 1998. ditahun 2018 kini Indonesia kembali mengalami keterpurukan rupiah terhadap valuta asing, rupiah sempat sentuh level terendah pada posisi Rp 14.901/ U$ dollar.

Bukan hanya rupiah, mata uang negara lain juga mendapatkan imbas dari si Dolar. Dolar AS merupakan mata uang internasional yang menjadi patokan pembanding mata uang lain. Nilai dolar terus menunjukkan penguatan terhadap rupiah sejak awal tahun, ada tiga faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah tidak stabil ditahun 2018 menurut data-data yang terkumpul. 1). Perubahan kebijakan di AS yang berdampak keseluruh negara, yaitu kenaikan suku bunga the fed. kalau pengibaratannya AS bersin Indonesia dan negara lainnya juga ikutan bersin. 2). Kebijakan fiskal yang lebih ekspansi, seperti penurunan tarif pajak untuk penghasilan korporasi dan meningkatkan belanja infrasturuktur. Sehingga sukuk bunga US treasury bondnya naik. 3). Geopolitik yang terjadi perang dagang antara AS dengan china.

Banyak orang beranggapan jika rupiah terus menerus melemah, maka Indonesia bisa tamat. Menurut saya, nggak juga! segala hal memiliki nilai positif dan negatifnya masing-masing. Naiknya harga dolar memang bak angin tornado yang memporak porandakan perekonomian Indonesia, tapi ada hal positif yang bisa kita ambil, yaitu: Eksportir akan meraih keuntungan yang lumayan.

Indonesia adalah negara yang hobi mengimpor banyak sekali barang kebutuhan dari luar. Karna masyarakat indonesia lebih konsumtif dibanding produktifnya. Sektor ekspor akan mendulang untung banyak karna barang-barang yang terjual keluar negeri mungkin harganya sama (dibayar menggunakan dolar).

Nah dengan mengekspor akan membantu untuk kembali menstabilkan rupiah. biarpun demikian, pelaku ekspor tetap ingin rupiah kembali menguat, karna jika terus tertekan akan memberikan efek domino yang sangat besar bagi Indonesia.


Barang lokal Indonesia bisa berjaya di negeri sendiri. Melemahnya rupiah terhadap dolar berimbas terhadap kenaikan harga barang impor. Sehingga masyarakat akan berfikir dua kali untuk membeli. Sementara itu, produk dalam negeri harganya masih akan stabil walaupun ada kenaikan mungkin tidak signifikan. Dengan adanya momen langka ini seharusnya menjadi peluang bagi para pelaku UMKM diIndonesia untuk terus mempromosikan produk mereka. Karna masyarakat Indonesia cenderung mencari barang yang lebih murah daripada mahal namun fungsinya sama.

Bijak dalam melakukan kredit.

Indonesia dikenal gemar sekali melakukan utang mengutang kelembaga asing ataupun negara lain yang lebih maju. Utang ini akan digunakan untuk menutupi kebutuhan negara.

Namun pada momen seperti ini, ketika dolar mengalami kenaikan harusnya pemimpin lebih bijak dalam melakukan utang kepada negara lain. Karena semakin banyak utang semakin banyak pula tanggungan yang harus dilunasi. Bisa-bisa masyarakat akan menderita karna krisis ekonomi. Utang Indonesia diperkirakan sebesar 28,5 % atau sekitar 399,2 triliun.

Menumbuhkan perilaku hemat pada masyarakat
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang memiliki sifat konsumtif yang tinggi, dan kita sadar akan hal itu. Sulit bagi masyarakat Indonesia untuk tidak termakan iklan apalagi melihat diskon. Namun saat keadaan dolar naik daun seperti sekarang dengan sangat terpaksa kita harus hemat. Tabung saja uangnya dan sabar menunggu sampai nilai rupiah kembali menguat.

Sektor pariwisata akan mengalami peningkatan

Melemahnya nilai rupiah terhadap dolar ternyata juga berimbas besar disektor pariwisata. Akan banyak turis yang berkunjung datang untuk liburan ataupun berbelanja karna murahnya biaya hidup disini. Semakin banyak turis yang datang artinya geliat pariwisata Indonesia akan semakin bagus. Sehingga ada harapan cerah untuk memperoleh keuntungan besar dari sektor yang mulai berkembang ini.

Memang sampai saat ini dolar benar-benar mempengaruhi perekomian sebagian dunia. Namun indonesia yang kaya akan  sumber daya alam dan budayanya tak selamanya harus terpuruk dan hanya diam meratapi. Yang harus ditingkatkan kembali adalah sumber daya manusia, serta perilaku masyarakat dalam menanggapi krisis perekonomian saat ini.

Iffatul Fajriyati adalah Mahasiswa Program Studi Manajemen FEB-UHAMKA

TAG BERITA

Comment