Opini

Senin 30 Nopember 2020 | 20:30 WIB

Laporan: Yoni Haris Setiawan

Refleksi Hari Guru Nasional, Spirit Bhakti yang Terlupakan

Yoni Haris Setiawan adalah Kepala Biro AAK Institut Bisnis Muhammadiyah Bekasi dan CEO Lembaga Motivasi Training dan Edukasi Literasi Indonesia QURUTA

Peringatan Hari Guru Nasional (25/11/20) masih diselimut dengan tingginya kasus virus Corona. Sebagaimana dilansir laman covid-19.go.id. kasus terkonfirmasi positif corona di Indonesia ini tersebar dalam 34 provinsi, hingga Kamis (26/11/2020) siang, tercatat menjadi 516.753 orang. Sepuluh bulan (Februari-November 2020) para guru di Indonesia menghadapi masa-masa sulit, berjibaku dan bekerja keras untuk menyelenggarakan pembelajaran. Akankah tantangan ini teratasi?

Kado istimewa di peringatan Hari Guru Nasional tidak dirayakan dengan kemeriahan, sukacita, atau pesta yang tumpah ruah. Namun ada yang lebih penting dari itu adalah pengakuan dan penghormatan profesi guru. Peringatan dihadirkan dengan sederhana akan tetapi khidmat penuh doa. 

Bahwa guru memiliki kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan pembangunan nasional, khususnya dalam rangka pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.  Sebagai pengakuan dan penghormatan kepada guru, pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan tanggal 25 November selain sebagai HUT PGRI juga sebagai Hari Guru Nasional. Keppres tersebut ditetapkan di Jakarta pada tanggal 24 November 1994.

Masih tingginya kasus terkonfirmasi virus dibelahan dunia dan khususnya Indonesia menjadi pilihan serba sulit terutama dalam penyelenggaraan pendidikan/pembelajaran. Sekolah ditutup untuk pembelajaran, tidak ada belajar tatap muka/luring. Selama masa pandemi, sistem, pola, metode, teknik, dan pendekatan terus dikembangkan menjadi alternatif solutif untuk memediasi anak-anak/mahasiswa/masyarakat pembelajar agar tetap menuntut ilmu. Bahkan Kurikulum Darurat pun diterbitkan. Pandemi boleh beraksi, namun menuntut ilmu tidak boleh berhenti.

Guru dan Tantangan Habitus Orde ke Orde

Sejak awal, guru sebagai tenaga pendidik banyak mengalami tantangan dalam melakukan proses pencerahan, perubahan, peradaban, dan pencerdasan anak bangsa. Baik di masa penjajahan, orde baru, orde lama maupun masa reformasi sekarang ini. Tantangan yang dihadapi oleh para guru yaitu tantangan eksternal dan internal. Tantangan Ekternal yang dihadapi cukup menguras tenaga dan pikiran.

Pertama, Pelarangan beraktivitas. Guru menjadi terdiskriminasi karena dianggap memberikan pelajaran yang memprovokasi menentang penjajah. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sebagai organisasi besar yang menghimpun profesi guru-guru di seluruh Indonesia yang didirikan pada tanggal 24-25 November 1945 di Kota Surakarta, Jawa Tengah, tiga bulan setelah diproklamirkannya Kemerdekaan RI (17 Agustus 1945) mengalami pasang surut, karena represifnya penjajah (Belanda, Jepang) terhadap guru pribumi. Organisasi guru Indonesia dianggap sebagai sebuah ancaman bagi mereka.

Kedua, organisasi guru terpecah belah oleh kepentingan politik. Banyak organisasi-organisasi guru di daerah-daerah didirikan dan dibentuk. Karena kepentingan partai politik yang berhaluan kiri, menyebabkan dualisme organisasi dan kepemimpinan. Dan politik individu yang seharusnya berjuang membela pada guru pribumi, menjadi membelot mendukung negara penjajah. Organisasi yang dibentuk pun mengalami perubahan nama, semisal Belanda tidak suka dengan kata “Indonesia”, maka diberi bernama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang beranggotakan dari berbagai guru dengan latar pendidikan yang berbeda-beda. Di masa kolonial, organisasi ini beranggotakan para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan pemilik sekolah. Umumnya mereka bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua. Di masa yang sama, berkembang juga organisasi guru dengan beragam latar belakang seperti keagamaan, kebangsaan, dan lainnya.

Kedua tantangan itu tidak menyurutkan semangat kebangsaan (nasionalisme) para guru pribumi. Para guru melawan diskriminasi itu dengan suara lantang mempertahankan idealisme dan kemerdekaan berpendapat. Dengan gelora kebangsaan itu perubahan nama organisasi pun dilakukan dari Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Dengan PGI semakin nasionalis dan perjuangan kemerdekaan Indonesia semakin kuat bersama guru. Maka kekuatan persatuan dan kesatuan guru pribumi membuahkan hasil, PGI menggelar Kongres Guru Indonesia pada 24-25 November 1945 di Kota Surakarta. Dalam kondisi dan situasi yang serba terbatas itulah momentum tonggak sejarah diukir oleh para guru pribumi menetapkan 25 November 1945 terbentuk dan lahirnya organisasi guru bernama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Hari itu juga ditetapkan sebagai Hari Guru, namun belum ada keputusan resmi dari pemerintah.

Memaknai Hari Guru; Dedikasi, Inspirasi, dan Apresiasi

Gema memperingati Hari Guru sesungguhnya tidak hanya di Indonesia. Hari Guru bukan saja hanya milik Guru Indonesia, namun ada dibelahan dunia. Hari Guru adalah hari untuk menunjukkan penghargaan terhadap guru, dan diperingati pada tanggal yang berbeda-beda bergantung pada negaranya. Di beberapa negara, hari guru merupakan hari libur sekolah.

Sebagai bentuk apresiasi kepada guru atas dedikasi, inspirasi, dan baktinya, di beberapa negara diperingati Hari Guru Nasional. Seperti di Benua Amerika – Amerika Serikat: Mei (pada hari Selasa di minggu pertama), Argentina: 11 September, Brasil: 15 Oktober (sejak 1963), Chili: 16 Oktober, Meksiko: 15 Mei (sejak 1918), Peru: 6 Juli (sejak 1953). Di benua Asia – Filipina: 5 Oktober, Hong Kong: 10 September (hingga 1997: 28 September), India: 5 September, Indonesia: 25 November, Iran: 2 Mei, Korea Selatan: 15 Mei, Malaysia: 16 Mei, Pakistan: 5 Oktober, RRC: 10 September, Singapura: 1 September (hari libur sekolah), Taiwan: 28 September (ulang tahun Konfusius), Thailand: 16 Januari (sejak 1957), Turki: 24 November (sejak 1981), Vietnam: 20 November. Di benua Eropa Albania: 7 Maret, Ceko: 28 Maret, Rusia: 5 Oktober, Polandia: 14 Oktober. Dan di benua Australia; Hari Jumat terakhir bulan Oktober.

Hari Guru Sedunia diperingati setiap tanggal 5 Oktober, sejak tahun 1994. Tujuan diperingatinya hari ini adalah untuk memberikan dukungan kepada para guru di seluruh dunia dan meyakinkan mereka bahwa keberlangsungan generasi pada masa depan ditentukan oleh guru. Menurut United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hari Guru Sedunia mewakili sebuah kepedulian, pemahaman, dan apresiasi yang ditampilkan demi peran vital guru, yaitu mengajarkan ilmu pengetahuan dan membangun generasi. Rekomendasi tentang status guru mengatur berbagai hal terkait hak dan tanggung jawab, serta standar persiapan awal seorang guru (adopsi 1966 ILO/UNESCO). Sasaran khusus di bidang pendidikan bahwa guru diakui sebagai kunci keberhasilan pencapaian target pada 2030.

Artinya, Hari Guru Sedunia menjadi tanda dan refleksi berbagai hal yang menjadi tantangan sekaligus keberhasilan. UNESCO menyatakan bahwa adanya peringatan Hari Guru Sedunia ini merupakan sebuah wujud rasa peduli, pemahaman, dan apresiasi untuk guru yang mengajar dan mendidik membangun generasi.

Dilansir dari laman situs UNESCO, tema Hari Guru Sedunia (5/10/2020),  adalah Teachers: Leading in crisis (memimpin dalam krisis), reimagining the future (membayangkan kembali masa depan), kurang lebih bermakna peran penting kepemimpinan guru di masa krisis akibat pandemi COVID-19. Peran penting lainnya adalah dalam membentuk optimisme dan keyakinan terhadap masa depan. Mengingat guru mengalami tantangan dalam mengajar semasa pandemi Covid-19.

Sejalan dengan itu, di Indonesia pada tahun ini Peringatan Hari Guru Nasional (25/11/2020) mengusung tema Bangkitkan Semangat Wujudkan Merdeka Belajar. Memiliki makna, dalam kondisi pandemi Covid-19 menuntut ilmu tidak boleh surut oleh keadaan yang mempengaruhinya, tanpa tertekan, tanpa terbebani tetap belajar dengan kebebasan, inovasi dan kreativitas.

Pemerintah telah memberikan kemudahan kepada kita semua khususnya tenaga guru untuk dapat meningkatkan kompetensi, keahlian, dan keterampilan. Bahkan telah menerbitkan Standar Kompetensi. Standar kompetensi guru meliputi empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut bersifat holistik dan integratif dalam kinerja guru. Untuk Guru PAI ditambah dengan kompetensi leadership dan spiritual.

Selain itu, bergembiralah bagi para guru, oleh karena sudah dipayungi oleh perundang-undangan, antara lain UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen; Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru; Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya; Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 14 Tahun 2010 dan Nomor 03/V/PB/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional dan Angka Kreditnya; Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru; Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya; Permendiknas Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dan Jabatan.

Landasan yuridis tersebut memperkuat profesi guru. Guru adalah agen sosialisasi utama bagi masyarakat dalam menyampaikan, mempraktikkan, bahkan menjadi bagian dari upaya mengembangan IPTEK itu sendiri. Di titik inilah guru, sebagai agen nasionalisme berperan. harus terus berjuang untuk menyemai nasionalisme, cinta tanah air, cinta persatuan, cinta Kebhinekaan, dan menjaga ideologi negara dan UUD 1945, sebagai dasar negara yang mempersatukan dan menguatkan bangsa Indonesia. Hal ini sesuai dengan landasan gerak PGRI yaitu UUD 1945 dan Pancasila.

Guru pejuang hari ini  adalah guru yang berjuang untuk terus meningkatkan kualitas dirinya untuk memberi pelayanan terbaik bagi peserta didiknya, yang berjuang memberikan keteladanan, guru yang berjuang untuk membuat dan menyiapkan berbagai perangkat mengajarnya. Guru yang berjuang untuk tetap menunaikan tugas pokok mengajarnya, guru yang berjuang untuk meningkatkan kesejahteraannya melalui karya-karya kreatif dan inovatifnya, guru yang berjuang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Penulis adalah Yoni Haris Setiawan, Kepala Biro AAK Institut Bisnis Muhammadiyah Bekasi dan CEO Lembaga Motivasi Training dan Edukasi Literasi Indonesia QURUTA

Comment