Opini

Minggu 21 Oktober 2018 | 11:46 WIB

Laporan: Edi Setiawan

Revitalisasi Link and Match SMK Digital

Edi Setiawan, Sekretaris Program Studi Manajemen FEB-UHAMKA

Jumlah penganggur lulusan SMK dianggap sebagai buah dari belum terbentuknya keserasian antara sisi suplai dan permintaan tenaga kerja di Indonesia. Setiap tahun jumlah lulusanSMK di atas 3,5 juta orang. Belum optimal daya serap lulusan SMK yang ditandai dengan angka angkatan kerja lulusan SMK hanya 10 persen. Hal ini terlihat dari data BPS (2019) menunjukan tingkat pengangguran terbuka sebesar 25 persen dari lulusan SMK. Berarti ada 75 persen lulusan SMK yang belum terserat di industri.

Angka pengangguran TPT lulusan SMK  tertinggi sebesar 8,63% pada Februari 2019. Hal ini menunjukkan adanya penawaran tenaga kerja yang tidak terserap. Angka TPT lulusan SMK ini turun masing-masing sebesar 29 basis poin dan 35 bps jika dibandingkan dengan angka Februari 2018 sebesar 8,92% dan Februari 2017 sebesar 9,27%. Penurunan TPT lulusan SMK dikontribusikan oleh program pemerintah yang mendorong link and match bagi lulusan SMK untuk mendapatkan pekerjaan di sektor industri.

Pengangguran SMK seharusnya harus dicukupkan sebagai sebuah antitesa dari pelaksanaan pembelajaran yang telah terjadi. Perlu perenungan strategis akan pencapaian pembelajaran yang akan dihasilkand ari lulusan SMK. Jangan sampai lulusan SMK hanya sekedar buah bibir tanpa ujung. Pemerintah diyakini harus mampu memberi sinyal positif bagi keberlangsungan pembelajaran SMK. Perlu regulasi dalam menciptakan iklim kuat sistem kurikulum SMK berbasis 4.0.

Penguatan sistem kurikulum SMK harus merespon revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Bila tidak maka merek akan usang dalam pergaulan dunia industri. Kurikulum SMK harus ditopang dengan regulasi secara local wisdom  sesuai dengan kebutuhan dan potensi daerah yang menaunginya. Bila daerah pertanian maka SMK harus menyesuaikan dengan hadirnya jurusan pertanian yang terintegrasi dengan revolusi 4.0.

Secara local wisdom SMK dibutuhkan sebagai bagian dari solusi putusnya harapan sekolah bagi sebuah daerah. Bila mana siswa tak mampu melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Hadirnya SMK menjadikan penguatan bagi respon peningkatan angkat putus sekolah di daerah. Mungkin saja hadirnya SMK menjadi pelipur lara akan keberlanjutan pembelajaran bagi siswa yang tak punya harapan untuk lanjut kepada jenjang yang lebih tinggi. Bisa saja menjadi bagian dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia sebuah daerah dalam menyiapkan kompetensi lingkungan yang dibutuhkan.  

Revitalisasi SMK

Perlunya revitalisasi SMK yang disesuaikan dengan kebutuhan saat ini. Meskipun pemerintah sudah melakukan revitalisasi terhadap 219 SMK dengan alokasi anggaran sebesar Rp 71 miliar. Tapi faktanya, program penguatan SMK yang seyogyanya diharapkan memenuhi kebutuah industri sepertinya masih jauh api dari panggang. Berhapaf besar boleh saja,  adanya revitalisasi SMK secara bertahap lebih banyak dibanding SMA. Untuk itu diperlukan sistem kurikulum diubah dari semula supply base ke demand base. Kurikulum ini dapat menguatkan base kebutuhan yang inginkan industri.

Ironi, dilapangan banyak SMK yang masih kekuarangan skill guru mumpuni sesuai kebutuhan industri. Kebutuhan guru SMK yang profesional memerlukan pelatihan khusus bagi link and match dengan industri. Ditambah sarana dan prasarana praktik di sebagian SMK perlu dibenahi. Banyak jurusan SMK masih kurang relevan dengan kebutuhan kerja. Disisi lain perlunya relevansi jurusan yang sesuai dengan konteks kekinian.

Diperlukan 144 kompetensi keahlian sesuai dengan revolusi industri 4.0. Kompetensi yang diperlukan berupa bobot struktur kurikulum untuk pendidikan umum sebesar 39,59 dari mata pelajaran muatan nasional dan kewilayahan. Lalu peminatan kejuruan bobotnya sebesar 60,41 persen. Kompetensi yang dibutuhkan sesuai industri milsalnya bisnis digital, desain komunikasi visual, animasi dan logistik.

Sayangnya, kebutuhan industri tidak dibarengi dengan pendampingan bagi sertifikasi guru. Guru selayaknya memiliki kompetensi yang dibutuhkan peserta didik. Diperlukan pendampingan dari para pakar yang menggeluti dibidang digital. Para pakar tersebut meliputi profesional mulai dari bidang industri, teknik, hingga perhotelan. Para ahli dapat memberikan pendampingan untuk siswa-siswi SMK.

Kreativitas dan berpikir cerdas merupakan salah satu keunggulan dari skill yang dibutuhkan di Indonesia. Agar tidak terbenam menghadapi kerasnya perubahan zaman serba digital, Perlunya jurusan-jurusan sejalan dengan perkembangan tren global, seperti jurusan Animasi, Rekayasa Perangkat Lunak, Teknik Komputer & Jaringan dan Mekatronik.

Penguatan SMK Digital

Hadirnya artifisial intelegensia menjadikan pendidikan semakin inovatif. Bukti kehadiran artifisial intelegensia ditunjukan dengan menguatnya siswa didik lebih tertarik untuk belajar dengan menggunakan internet. Banyak kurusu-kursus skill yang dijadikan promosi untuk mengambil konsumen siswa. Mereka lebih tertaik belajr menggunakan gadget dan smartphone.

Alasan inilah yang harus disambungkan dengan sistem pembelajaran SMK. Sekolah tak lagi hanya bersandar pada pembelajaran manual melainkan digital yang memadukan tutorial dan modul-modul yang berkualitas. Setiap aktivitas SMK Digital akan nampak bila pembelajaran yang ditawarkan sesuai dengan kondisi dan keinginan kaum millenial.

Namun, semua ini perlu kerjasama antar stakeholders dimulai dari Kepala Sekolah, Guru dan Civitas Akademika dalam menyiapkan perangkat software dan hardware pembelajaran yang dirasa sangat menyita waktu. Tapi ini tidak bisa ditolerir lagi sebagai sebuah kebutuhan primer bagi kaum millenial hari ini.  Dengan regulasi penguatan SMK digital akan mampu memberikan kontribusi lebih bagi menopang penguatan industri.

Kapasitas skill siswa akan terus selaras dengan kebutuhan dunia industri. Selain itu, penopang dari penumbuhan kinerja industri akan terlihat dari rekruitment pegawai yang sesuai dengan skill dan kompetensi yang dibutuhkan. Pemberlakuan kelembagaan kompetensi pada SMK digital dirasa perlu dikuatkan. Tanpa banyak pertimbangan akan pelaksanaannya.

Penulis adalah Edi Setiawan, Sekretaris Program Studi Manajemen FEB-UHAMKA 

TAG BERITA

Comment