Opini

Minggu 28 Juni 2020 | 18:58 WIB

Laporan: Afridayani

UKM Tangsel Bersatu Bangkit Melawan Covid 19

Afridayani Dosen Universitas Pamulang

Sudah hampir 4 bulan Wabah covid 19  melanda Indonesia, yang berawal dari bulan maret 2020. Wabah tersebut merusak tatanan perekonomian, tak terkecuali Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). UKM dan UMKM merupakan salah satu bidang yang memberikan kontribusi signifikan dalam memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini dikarenakan daya serap UKM dan UMKM terhadap tenaga kerja yang tidak terlalu mementingkan tingkat pendidikan formal dan dekat dengan rakyat kecil. UKM dan UMKM adalah sektor yang dapat bertahan di tengah kondisi  wabah virus covid 19.

Merujuk pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, UMKM alias usaha mikro adalah usaha milik perseorangan atau badan usaha perorangan yang produktif dan memenuhi kriteria yang ditulis oleh Undang-Undang. Aset maksimal dari usaha ini adalah Rp50.000.000,00. Sedangkan, omset maksimalnya Rp300.000.000,00.

Sedangkan UKM alias usaha kecil menengah adalah usaha yang juga dijalankan oleh perorangan atau badan usaha yang bukan bagian dari usaha menengah atau usaha besar. Asetnya berkisar antara Rp50.000.000,00 - Rp500.000.000,00 dengan omzet Rp300.000.000,00-Rp2.500.000.000,00.

Dengan mulai diberlakukannya PSBB di daerah Tangerang Selatan tanggal 18 April 2020, para pelaku UKM dan UMKM terus bersatu dalam menghadapi dampak ekonomi yang terjadi. Pendapatan UKM dan UMKM sendiri telah menurun ketika wabah Covid 19 melanda Indonesia awal bulan Februari hingga diberlakukannya sistem PSBB. Sebelum PSBB, pelaku UKM sudah terdampak lebih dahulu.

Pelaku usaha UKM dan UMKM mengubah model bauran pemasaran (marketing mix ) Product, Place, Price dan Promotoion. Product yang ditawarkan cenderung kepada makanan dan untuk keperluan kesehatan sebagai contoh hand sanitizer, masker, face shild. Place, untuk tempat menjalankan usaha lebih kepada di rumah masing masing, sehingga tidak perlu lagi membayar biaya sewa untuk meminimalisir pengeluaran/ biaya. Price, untuk harga para pelaku usaha tidak menargetkan margin yang tinggi, namun cenderung untuk “bertahan hidup”. Sedangkan untuk model promotion  menggunakan media sosial yang ada seperti memanfaatkan WAG, sehingga biaya promosi dapat ditekan seminimal mungkin.

Kegigihan para pelaku UKM dan UMKM Tangsel  untuk melawan dampak covid 19 sungguh pantas diacungi jempol.  Tanpa lelah terus berjuang mempertahankan usaha. “Tak hanya satu jalan menuju Roma”, mungkin itulah kata yang tepat menggambarkan cara pelaku UKM dan UMKM di Tangerang Selatan, khususnya di kecamatan  Pamulang dalam berjuang menghadapi dampak wabah covid 19.

Para pelaku usaha UKM dan UMKM  tergabung dalam Koperasi Tangsel Berkibar. Koperasi ini beranggotakan kurang lebih 176 pelaku UKM dan UMKM. Mereka terdiri dari pelaku usaha di bidang kuliner dan fashion. Dibidang kuliner seperti sayur mayur, lauk pauk, dan minuman. Pada  makanan ringan, seperti kue kue basah, jajanan pasar dan cemilan. Kebutuhan pokok, seperti beras, gula, tepung. Minuman, seperti jamu, jus buah, dan minuman kesehatan yang siap seduh. Pada bidang fashion mulai dari pakaian anak, jilbab, mukena, handuk, selimut. Frozen food  cireng, donut, bakso, sosis, daging fillet. Buku dan mainan anak anak juga tersedia.

Tidak banyak yang diharapkan dengan penjualan seperti di atas. Bagi mereka, yang penting usaha dapat tetap berjalan dan tercukupi makan sehari-hari. Selain itu, memperluas pasaran dengan jaringan yang ada juga diniatkan untuk saling membantu sesama pedagang di dalam komunitas TB Pamulang. Meski keadaan sedang sulit, prinsip tangan di atas lebih baik daripada di bawah tetap dipegang.

Beragam cerita dapat ditemui di antara anggota TB Pamulang. Salah satunya adalah kisah Bu Narti, pedagang gado-gado yang biasa berjualan di daerah Kampung Utan, Ciputat. Saat PSBB diberlakukan, Bu Narti memilih berjualan online melalui marketplace. Di sana ia memasarkan kolang kaling, bumbu pecel, dan keripik tempe. Bersyukur, hasilnya cukup untuk menghidupi keluarga dalam menghadapi pandemi Covid 19.

“Kisah tidak jauh berbeda juga dialami dari ibu ibu pelaku UKM dan UMKM yang lain. Mereka terus berusaha ditengah wabah covid 19”. Tangsel berkibar (TB) di bawah kepemimpinan Tasrudin Muzakir pada umumnya beranggotakan dan didominasi oleh kaum ibu-ibu.

Dengan cara merubah bauran pemasaran (marketing mix )sangat  membantu para pelaku usaha agar dapat menjalankan roda perkekonomian keluarga yang sedikit banyak akan berpengaruh terhadp perkonomian nasional. Disamping merubah  model bauran pemasaran (marketing mix), para pelaku UKM dan UMKM memegang prinsip kejujuran dalam menjalankan usaha. Sesama pelaku usaha mengedepankan itikad baik, meski tidak saling mengenal satu sama lain. Akibatnya, dampak ekonomi dari wabah covid 19 dapat diatasi bersama.

Itulah sedikit cerita tentang para pelaku UKM dan UMKM Tangsel dalam menghadapi dampak pandemi Covid 19. Semoga dapat menginspirasi pembaca agar terus survive  menghadapi dampak wabah covid 19

TAG BERITA

Comment