Opini

Minggu 08 Maret 2015 | 13:11 WIB

Laporan: Hanifah Husaen

Nuklir, Masa Depan Energi Indonesia

Hanifah Husein

Oleh : Hanifah Husaen

(Ketua Yayasan Mahkota Insani Cita)

Setahun lalu, kita banyak diganggu dengan pemberitaan yang simpang siur bahkan menyudutkan tentang energi nuklir dengan indikasi dari kejadian sejarah masa lalu yang mengerikan. Dari tanggapan yang saintifik sampai tanggapan historis perang akibat dari reaktor nuklir. Sebagai akademisi yang sedang bergiat dengan peluang dari nuklir, nampaknya saya selalu ingin mendemontrasikan peluang positif dari nuklir. Meskipun banyak tanggapan miring terkait dengan nuklir.

Sebelum itu, kita harus memetakan dulu persoalan ini. Persoalan nuklir sebenarnya tidak hanya dari persoalan saintifik saja melainkan dari persoalan sosial dan budaya bangsa Indonesia yang sudah tersandera dengan energi listrik yang berasal dari energi air. Apalagi sejarah bangsa kita selalu ditopang dari persoalan mitos belaka tanpa tedeng aling-aling manfaaat dari nuklir. Tentu ini menjadi tantangan bagi akademisi untuk terus bergulat dengan pandangan yang keliru tersebut.

Dari realitas kekinian kita sebenarnya bisa menangkap peluang yang tiada terkira dari penggunaan nuklir. Kita bisa belajar dari negeri ginseng–Korea Selatan—semenjak bergulirnya penelitian nuklir, Korea Selatan sejak tahun 1978 sampai tahun 2005 telah bisa membangun pembangkit nuklir mencapai 20 unit. Angka ini bertambah menjadi 22 unit pada saat ini dan akan terus ditambah lagi menjadi 28 unit pada tahun-tahun mendatang. Saat ini sekitar 40 persen dari kebutuhan listrik masyarakat di Korea Selatan dipasok oleh PLTN. Luar biasa bukan!

Kita juga bisa melihat perbandingan negara lain. Misalnya negara matahari Jepang, negeri ini kini justru memiliki jumlah unit PLTN lebih besar dibandingkan dengan Korea Selatan. Jumlah unit PLTN di Jepang kini mencapai 55 unit dan dalam waktu dekat akan bertambah 2 unit serta 11 unit dijadwalkan akan dibangun pada masa mendatang. Saat ini pasokan listrik dari unit PLTN telah mendominasi energi alternatif lainnya (LNG, minyak bumi, dan batu bara) dengan kontribusi di atas 30 persen. Sangat fantastis bukan!

Penggunaan nuklir sebagai sumber pasokan energi telah banyak diaplikasikan di negara-negara maju. Tercatat negara-negara eropa seperti Prancis, dan Amerika telah mampu memanfaatkan energi ini untuk kebutuhan listrik nasional mereka dengan proporsi masing-masing sebesar 77,68 persen, 27 persen dan 19,86 persen. Alasan ini bukan ingin mereduksi pengaruh negara luar agar nuklir menjadi bahan yang terbaik bagi listrik nasional. Melainkan kita harus bisa membaca pengaruh dan potensi positif dari nuklir sebagai energi masa depan Indonesia.

Dengan berpegang pada prinsip kajian empiris, negara diatas ini telah melangkah pesat dalam membangun PLTN dalam 30 tahun belakangan ini. Tentu saja, pemberlakuan nuklir dinegara di atas bagian dari studi komparatif dan empiris agar bangsa ini belajar dari kesuksesan negara luar. Belajar dari keberhasilan negara di atas. Kita selayaknya membuka lebar-lebar peluang yang akan dihasilkan dari PLTN. Bukan mengkritik tanpa dasar saintifik yang jelas.

Melihat potensi sumber energi Indonesia ternyata sumber energi nuklir lumayan besar namun belum digunakan sama sekali. Indonesia memiliki sumber daya uranium sebayak 24.112 ton yang setara dengan 33,0 GW yang sumbernya berasal dari gunung Kalan, Kalimantan Barat.

Penggunaan sumber energi nuklir di Indonesia, BATAN sendiri sebagai instansi yang bertanggung jawab terhadap nuklir di Indonesia sebenarnya telah membuat suatu Roadmap sektor energi Nuklir yang terdapat pada buku putih energi. Dalam roadmap tersebut, kita ketahui dengan jelas bahwa seharusnya PLTN ke I & II di Indonesia seharusnya dibangun pada tahun 2010 dan 2011 dengan harapan bahwa pada tahun 2016 dan 2017 pembangkit ini dapat beroperasi. Pembangkit ini diharapkan dapat menghasilkan energi sebesar 4×1000 MWe. Namun kenyataannya sampai sekarang tahun 2015, pembangunan PLTN ini belum terealisasi.

Diharapkan dengan penggunaan energi nuklir ini, Peraturan Presiden RI No. 5 tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional dapat terpenuhi di mana energi nuklir memegang peranan 5% dari energi nasional Indonesia dan penggunaan energi minyak bumi berkurang dibawah 20% sehingga terjadi keseimbangan energi Indonesia pada tahun 2025. Pembangunan pembangkit nuklir harus merupakan rencana panjang pemerintah untuk mengatasi krisis energi.

Pembangkit nuklir memang membutuhkan investasi awal yang besar, waktu pembangunan yang relatif lama namun hasil yang akan didapatkan akan sebanding. Lagi pula, pembangkit tenaga nuklir merupakan pembangkit dengan emisi karbon dioksida (CO2) yang sangat rendah sehingga negara kita ikut berperan aktif dalam pengurangan emisi untuk mengurangi global warming.

Pembangunan PLTN dapat berhasil jika dan hanya jika pemerintah memiliki konsensus yang besar dan mau bekerjasama dengan pemerintah daerah dan masyarakat. Kekhawatiran terhadap korupsi tidak akan memberikan solusi terhadap upaya suatu negara dalam mengatasi krisis energi yang dihadapinya.

TAG BERITA

Comment