Aspirasi

Sabtu 01 Agustus 2026 | 14:56 WIB

Laporan: Sugiyo, S.Pd., M.Pd. Dosen Sastra Indonesia, Universitas Pamulang

Koneksi

Reflektif

Enaknya punya banyak saudara. Ungkapan kuno “Banyak anak, banyak rezeki” dalam konteks kasus Doni ada benarnya. Kakek-nenek dari pihak bapaknya mempunyai sembilan anak. Setelah tamat sekolah mereka merantau ke berbagai kota. Mereka menikah dan beranak pinak. Salah satunya pakde dan Bulek Imel. Bulek Imel anak dari bude Pariyem, adik dari pakde. Lewat Bulek Imel ini Doni mendapat pekerjaan.

Zaman sekarang pintar saja tidak cukup. Untuk mencari pekerjaan di Jakarta, pintar baru salah satu syarat. Meskipun nilai ijazah di SMA  rata-rata sembilan koma sembilan, kalau hanya sebatas rangking satu dan tidak punya ketrampilan serta koneksi ujung-ujungnya seperti Doni. Kerja di warung tenda pecel lele. Itu pun harus masuk lewat orang dalam, pakdenya. Tukang parkir di Blok M yang wilayahnya mencakup sekitaran warung itu.

Di SD MD rasa kekeluargaanya sangat kuat. Mereka mudah akrab satu dengan yang lain. Hubung guru, TU, bendahara, pustakawan, OB, dan satpam tidak ada jarak. Guru tidak merasa kastanya lebih tinggi. Mereka mau ngopi bareng, mancing, dan sesekali judi qiu-qiu dua ribuan untuk mengakrabkan tali persaudaraan mereka. Tak lupa kegiatan olah raga bareng, seperti badminton, volley, atau futsal. Kegiatan kerohanian apalagi. Mereka sering tugas koor di gereja. Setiap latihan koor tidak jarang guru dan pegawai senior sering saling ledek dan bergurau. Doni semakin nyaman dan betah bekerja.

Tidak heran waktu nimbrung ngobrol bareng OB lain, saat istirahat seorang OB bertanya, “Siapa yang membawa kamu?”

“Bulek Imel,” sahut Doni, “Kenapa?”

“Kerja di sini susah kalau tidak ada yang bawa,” sahut OB bertubuh kecil. Badannya seukuran Doni,  “Mun, ini contohnya. Kalau tidak dibawa Omnya dia masih gembel di kampung.”

“Enak saja,” jawab Mun. “Arif lebih parah. Dia menjual nama bapak dan omnya. Kalau tidak dia masih di pabrik.” Mun menyerang balik pada Arif.

“Jangan salah,” kata Arif. “Gaji pabrik lebih gede, UMR. Di sini gak jelas. Gaji pokok berapa, Lo?”

“Seribu lima ratus,’ jawab Doni.

“Berapa itu?” Mun bingung

“Makanya gaul,” samber Arif. “Masak seribu lima ratus tidak tahu. Satu juta lima ratus, bego.”

“Terus kenapa kamu keluar pabrik kalau gajinya UMR, bego dong Lo?” tanya Mun penasaran.

“Waktu itu kontrak saya habis,” seru Arif, “Untuk memperpanjang harus bayar ke calo. Saya habis nikah sama Bunga jadi tidak ada uang.”

“Terus kamu telpon Om kamu,” kata Mun semangat, “Om kamu menjual Bapakmu dan kamu diterima kerja di sini.”

“Itu masih lebih baik,” OB berkumis tebal ikut menimpali.

“Maksudnya?” Doni bingung.

“Komar jangan ngompor-ngompori!” seru Arif.

“Itu” Komar nunjuk Mun.

“Ono, Imam” Arif nunjuk pemuda tinggi, kurus, sedang jongkok sedang merokok sambil menikmati secangkir kopi. Yang di tunjuk bangkit berdiri dan protes, “Kenapa bawa-bawa saya?”

“Lo berdua,” kata Komar. “KKN.”

Doni semangkin bingung. Arif tertawa terpingkal-pingkal. Mun dan Imam hanya mesam-mesem.

“KKN?” tanya Doni.

“Kolusi, korupsi, dan nepotisme,” Arif menerangkan. “Setidaknya Mbah Untung, Mun, dan Imam itu kerja di sini hasil dari nepotisme. Hasil dari koneksi saudara dan teman. Dari cerita yang saya dengar dari Bapak saya, Mbah Untung dibawa Pak Nafi, ayah dari Imam. Mun dibawa Mbah Untung. Karena ibunya Mun adiknya dari Ibunya Mbah Untung. Sementara Imam dibawa Mbah Untung karena Mbah Untung hutang budi sama kebaikan Pak Nafi.”

“Setan, Arif!” seru Mbah Untung keluar dari dapur. Arif tidak mengira seniornya ada di dapur sedang merebus air untuk kopi.

“Maaf Mbah,” kata Arif  “Ini gara Doni penasaran teman-teman ini bisa masuk kerja di sini dibawa siapa.”  Arif hanya bisa menunduk dan bingung harus berbuat apa. Sementara Komar, Mun, dan Imam pergi. Mereka pura-pura mengecek kamar mandi dan selasar sekolah. “Imam,”  seru Komar, “WCmu bau itu, segera siram. Jangan ngopi dan udut melulu.”

Doni belum kenal sosok Mbah Untung. Dia OB paling senior dari segi usia dan masa kerja. Jangan teman-teman OB. Beberapa guru dan pegawai lainnya saja tidak berani mengingatkan dia apabila ada kekeliruan atau kealfaan dalam tugasnya. Baik sebagai OB dan penyedia makan untuk seluruh guru-karyawan.

Mbah Untung berjalan mendekati Arif dan Doni sambil membawa secangkir kopi. “Ngopi, Don” tanya Mbak Untung memecah keheningan. “Masih ada air panas.”

“Terima kasih, Mbah,” jawab Doni sambil garuk-garuk. Arif mulutnya manyun. Dia tidak merokok. Kopi di gelas tinggal apas. Dia sudah memegang gelas hendak ke dapur untuk mencuci. Baru mau melangkah tiba-tiba Mbah Untung berkata, “Tidak masalah kerja lewat koneksi saudara atau orang tua,” Untuk berhenti. Dia merogoh kantong. Mengeluarkan rokok Sampoerna Mild. Mengambil sebatang , “Komar,” teriak Mbah Untung.

“Apa Mbah?” sahut Komar sedang menyapu di selasar depan kelas.

“Korek ku mana?”

“Di bawa Imam.”

“Saya ada,” Doni menyodorkan korek sambil menyalakan sebagai bentuk penghormatan.

Mbah Untung mengisap rokok dalam-dalam. Ia mengeluarkan pelan-pelan lewat hidung. Kopi masih mengepul. Aromanya tercium wangi di hidung Doni. Ingin rasanya dia ke dapur dan menyeduh. Rokoknya yang masih seperempat batang tentu nikmati sekali ditemani kopi. Tapi sebagai pegawai baru tidak boleh langsung menerima tawaran dari senior. Dia harus kenal dulu. Mbah Untung ini tipe orang basa-basi atau memang pemurah.

“Tidak usah malu kerja hasil dari koneksi,” Mbah Untung melanjutkan, “Yang penting rajin, jujur, disiplin, dan ...” dia berhenti. Mengambil gelas, meniup tiga kali dan menyeruput tiga kali pula. Doni dan Arif hanya bisa diam dan penasaran menunggu kelanjutannya. Mbah Untung kembali mengisap rokok dalam-dalam. Ia menahan beberapa detik di paru-paru dan pelan sekali mengeluarkan lewat hidup.

Mbah Untung kembali mengambil gelas. Mulutnya membetuk bulatan kecil dan buh ... buh ... buh. Dia tiup perlahan-lahan. Dan srut ...  srut ... srut dia menyeruput. Doni heran dengan ritual ngopi Mbah Untung. Tiga kali tiup, disusul tiga kali menyeruput. Apa maknanya? Tapi Doni tidak berani bertanya.

“Tidak usah malu kerja hasil dari koneksi,” Mbah Untung mengulangi, “Yang penting rajin, jujur, disiplin, dan menjaga nama baik yang membawa kamu. Tolong kamu ingat-ingat itu, ya!!” kali ini Mbah Untung memandang ke arah Doni dan Arif.

“Siap, Mbah!” jawab Doni mantab. Arif hanya menunduk sambil manggut-manggut.

“Koneksi itu penting,” ujar Mbah Untung. “Saudara harus diutamakan. Apalagi saudara kita membutuhkan dan kita bisa mempertiimbangkan orangnya mampu mengerjakan pekerjaan itu. Atasan kita juga lebih tenang. Saya yang membawa Mun dan Arif menjadi garansi, jaminannya. Misal dia mencuri. Mudah mencarinya. Paling jauh lari ke kampung. Coba kalau menerima orang dari yang tidak dikenal dan tidak ada sanak-saudara yang jadi jaminan. Repot ketika terjadi sesuatu. Untuk menjadi OB yang sukses kamu harus menerapkan rumus Judiseram yaitu: Jujur, disiplin, rajin, sehat, dan menjaga nama baik yang membawa kita.”

Di masa mendatang Mbah Untung dibuat kecewa dengan ulah Doni tentang Judiseram ini.

Komar kembali menggabungkan diri lagi. Mukanya basah oleh keringat. Di saat Imam dan Mun baru mendapat setengah menyapu selasar, dia sudah selesai. Komar pegawai paling kuat tenaganya, dan sat – set dalam bekerja. Namun, tidak jarang dampaknya sering terjadi beberapa barang rusak karena grusah-grusuh.

Komar membuka baju dan menyampirkan di kursi kosong. Dia mengambil gelas. Duduk di kursi kosong  dan minum sisa kopi yang sudah dingin. Dia mengeluarkan rokok sebatang dari saku celana dan menikmati setiap hisapan penuh perasaan.

“Komar lewat jalur koneksi antar jemput,” ujar Mbah Untung, “Pakdenya sopir antar jemput. Waktu itu posisi satpam kosong satu. Pakdenya menyodorkan nama Komar. Waktu itu dia penggangguran, alias gembel.”

“Jadi semua yang kerja di sekolah ini lewat koneksi antar saudara.”

“Betul.” Sahut Komar mantap tanpa malu-malu.

“Kenapa sekarang jadi OB kalau awalnya satpam?” tanya Doni penasaran.

“Kalau ingin tahu itu harus beli Sampoerna Mild sebungkus dan kopi satu renceng,” sahut Komar yang diamini Mbah Untung.

Comment