Pendidikan

Senin 23 Januari 2023 | 08:36 WIB

Laporan: Alif

Wadek I FISIP Uhamka Beberkan Cara Public Speaking yang Baik pada Siswa SMKN 3 Jakarta

Dokumentasi Uhamka

Nurlina Rahman selaku Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (FISIP Uhamka) menjadi narasumber pada kegiatan Program Guru Tamu (PGT) dalam rangka memberi wawasan dan pengenalan terhadap dunia kerja dan dunia industri (DUDI) di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Jakarta. Tema yang dibawakan adalah Berani Tampil di Depan Publik dalam Tugas dan Fungsi Keprotokolan dan MC/Pewara, pada 4 Januari dan 19 Januari 2023 di aula SMKN 3 Jakarta.

Kegiatan yang diikuti oleh siswa kelas XI dan kelas XII Program Otomatisasi Tata Kelola Perkantoran (OTKP) tersebut dibuka resmi oleh Waka Bidang Kurikulum SMKN 3 Jakarta, Lilik Musyarofah dan ditutup oleh Toali Waka Bidang Hubin SMKN 3 Jakarta.

Adapun materi yang disampaikan mencakup manajemen event, fungsi dan tugas menjadi pembawa acara (MC), etika kepribadian, dan teknik vokal.

Nurlina menyampaikan bahwa materi yang mencakup Manajemen Event, Fungsi dan Tugas Pembaca Acara (MC), Etika Kepribadian dan Teknik Vokal tersebut disampaikan tidak hanya berupa teori tetapi sekaligus juga praktik lapangan. Para siswa diajak untuk merencanakan sebuah event, menyusun acara hingga menuliskan naskah pembawa acara/pewara (MC).

“Siswa kami ajak langsung praktik, mengorganisir event sekaligus menjadi pewara atau MC agar mereka semakin paham. Event juga menjadi sebuah kegiatan yang sangat penting bagi sebuah lembaga atau organisasi. Karena melalui event, sebuah lembaga atau organisasi dapat mengkomunikasikan dan mempublikasikan diri juga membangun reputasi. Peranan event bagi public relations dan event organizer, selain memberikan kepuasan bagi lembaga, juga memberikan kepuasaan pada pihak yang terlibat serta publik atau khalayak yang jadi sasarannya ,” tutur Nurlina.

Nurlina menambahkan, agar event tersebut berjalan dengan baik dan sesuai tujuan yang diinginkan, kuncinya adalah bagaimana memenej atau mengelola event dengan baik. Melalui manajemen event atau biasa dikenal sebagai event organizer, sebuah kegiatan dikelola untuk memenuhi target yang ditentukan baik oleh seseorang, kelompok maupun organisasi.

“Adapun tahapan manajemen event meliputi persiapan, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga melakukan evaluasi. Seorang EO juga harus melakukan tahapan orientasi, menyiapkan acara, melaksanakan dan menutupnya,” tambah Nurlina.

Selain mengajak siswa belajar menjadi seorang EO, Nurlina juga mengajak siswa belajar menjadi seorang MC atau pembawa acara (pewara). Karena sebuah event tidak akan menarik jika MC-nya kurang professional. Menurutnya seorang pembawa acara atau pewara memiliki setidaknya 5 fungsi yakni mengumumkan akan dimulainya acara, menarik perhatian audiens, mengatasi hambatan yang muncul selama acara berlangsung, memberikan informasi, menstimulir/menggugah/menggerakkan khalayak atau seseorang untuk terlibat dalam kegiatan.

 “Jadi MC menjadi kunci penting sukses tidaknya sebuah event. Intinya seorang pewara harus membuka, memandu dan menutup acara,” tegas Nurlina.

Selanjutnya Nurlina menyebutkan beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang pewara adalah menyiapkan mental sebelum tampil, memahami aturan dan fungsi sebagai pewara, memperhatikan tampilan fisik seperti riasan dan pakaian, penguasaan bahasa yang baik, kemampuan membentuk atau menyusun kalimat yang singkat, padat dan menarik.

“Seorang pewara juga harus mampu mengatur volume suara, intonasi suara, pacing dan kontak mata selama bertugas. Ini semua merupakan aspek ekspresif yang harus dimiliki seorang pewara,” tambahnya. Untuk dapat tampil maksimal, seorang pewara setidaknya harus melakukan dua hal. Pertama harus banyak berlatih, baik di depan teman, di depan keluarga maupun di depan umum. Hitunglah waktu untuk setiap sesi presentasi dan buatlah jadwal. Kedua, ingatlah dua menit pertama presentasi sehingga anda dapat melewati waktu dengan mudah apabila suasana menjadi lebih aktif,” ujar Nurlina.

Seorang pewara, lanjut Nurlina, harus mengindari beberapa hal seperti bermain-main atau menarik- narik rambut, meregangkan tubuh, mengorek-ngorek gigi, kuping dan hidung, bermain dengan jari, menggigit kuku, membersihkan/bermain dengan kuku, membunyikan tangan, mengetuk- ngetuk/menggoyang- goyangkan kaki dan lainnya.

Hal penting lainnya, kata Nurlina, seorang pewara mestinya belajar etika kepribadian, agar dapat membangun hubungan dengan siapapun dengan cara meningkatkan komunikasi personal.

Sebelumnya Emmi Pasaribu selaku Ketua Program Otomatisasi Tata Kelola Perkantoran (OTKP) SMKN 3 Jakarta dalam sambutannya mengatakan kegiatan pelatihan public speaking dilakukan dalam rangka pembekalan kompetensi siswa kelas XI dan kelas XII Program OTKP khususnya dalam mengembangkan tugas fungsi SDM menjadi penyelenggara kegiatan dan keterampilan berbicara di depan publik sebagai pewara/MC. Dengan pelatihan diharapkan dapat digunakan sebagai modal siswa jika nanti sudah menyelesaikan studinya.

“Menjadi sesuatu yang penting untuk dipahami, betapa bermanfaatnya penguasaan komunikasi. Juga perlu diketahui bahwa public speaking merupakan salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki siswa. Ini adalah salah satu soft skill  yang paling serbaguna di dunia kerja. Mempunyai kemampuan public speaking yang baik juga akan memudahkan komunikasi dengan rekan kerja, masyarakat dan atasan,” kata Emmi.

Sementara itu di lain pihak,  Toali selaku Waka Bidang Hubin SMKN 3 Jakarta saat menutup kegiatan mengatakan ada 4 kriteria lulusan yang sangat dibutuhkan DUDI yakni, siswa atau lulusan memiliki tantangan kerja dengan ketahanmalangan, kreatif, komunikatif, dan mampu bekerjasama dengan tim.

“Dalam pelatihan ini siswa dapat berlatih memantapkan keempat kriteria tersebut,” tandas Toali.

Terhadap kegiatan pelatihan, sebagian besar siswa menyatakan pelatihan memberi mereka motivasi untuk tampil percaya diri di depan publik, belajar tata krama berkomunikasi secara benar, belajar bekerja secara tim, dapat  praktik olah vokal dan pernafasan.

Comment