Nasional

Senin 29 Februari 2016 | 11:00 WIB

Laporan: Amir Fiqi

GAPKI Apresiasi Respon Kilat Pemerintah Menyidak Produk Berlabel Palm Oil Free

Minyak Sawit

Jakarta, Visione.co.id- Kampanye hitam minyak sawit Indonesia semakin marak, hal ini dibuktikan dengan ditemukannya produk makanan impor yang berlabel “Palm Oil Free” di beberapa gerai pusat perbelanjaan/mall di Jakarta. Penemuan produk berlabel ini “Palm Oil Free” (POF) ini sangat mengagetkan bagi industri sawit. Label ini seperti memberi stigma minyak sawit adalah haram untuk dikonsumsi.

Produk berlabel POF ini pertama kali ditemukan tanpa sengaja oleh Bendahara GAPKI, Kanya Lakshmi Sidarta yang pada minggu lalu sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari di gerai yang menjual kebutuhan sehari-hari di mall bilangan Dharmawangsa.

“Saya sedang memilih makanan ringan, tanpa sengaja saya melihat snack dengan sticker hijau yang sangat menyolok sehingga menarik perhatian saya. Saya sangat kaget ketika melihat tulisan pada sticker tersebut – Palm Oil Free,” ujar Kanya di acara rapat internal GAPKI.

Mendapatkan laporan serta membeli beberapa sampel produk berlabel POF, GAPKI langsung menyurati Menteri Perdagangan RI untuk menyampaikan keberatan ada beredarnya produk makanan berlabel POF di Indonesia.

"GAPKI sangat keberatan dengan beredarnya produk makanan impor yang berlabel anti minyak sawit. Hal ini tentu sangat merugikan industri minyak sawit Indonesia, yang telah ditetapkan menjadi industri strategis nasional yang menyumbang devisa non-migas terbesar," jelas Fadhil Hasan, Direktur Eksekutif GAPKI.

Menurut Fadhil, selain menyumbang devisa yang besar, industri ini juga membuka lapangan kerja yang luas bagi masyarakat khususnya pedesaan dan motor penggerak ekonomi daerah. Selain itu, ada hal yang paling penting yakni total perkebunan kelapa sawit Indonesia sebesar 10,5 juta hektar, 43 persennya adalah milik rakyat yang dikelola oleh sekitar 2,14 juta kepala keluarga petani sawit.

"Jika dalam 1 keluarga terdiri dari 4 orang, maka ada sekitar 8,56 juta jiwa dari keluarga petani yang hidupnya tergantung dari perkebunan sawit. Belum lagi 4 juta tenaga kerja yang bekerja di perkebunan sawit, yang jika dihitung dalam 1 keluarga ada 4 orang maka ada 16 juta jiwa, sehingga total orang yang menggantungkan hidupnya dari perkebunan sawit adalah lebih dari 22 juta jiwa," paparnya.

Lebih lanjut ia menuturkan bahwa hingga saat ini dengan dominasi minyak sawit di pasar minyak nabati global telah memicu terjadinya persaingan bisnis di antara minyak nabati salah satunya menjadi sebab maraknya kampanye anti sawit dengan mengatasnamakan isu lingkungan, isu kesehatan maupun isu sosial.

"Kami, sangat mengapresiasi gerak cepat Menteri Perdagangan yang meminta Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) RI menindaklanjuti untuk memeriksa ke lapangan terkait beredarnya produk makanan impor berlabel Palm Oil Free," Katanya.

Pihaknya juga sangat mengapresiasi Badan POM yang telah bekerja dengan efektif dan memerintahkan distributor untuk menarik peredaran produk berlabel POF dari masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas respon cepat pemerintah khususnya Badan POM yang segera turun ke lapangan memeriksa kebenaran produk berlabel POF,” katanya.

TAG BERITA

Comment