Opini

Sabtu 28 Agustus 2021 | 17:52 WIB

Laporan: Amilia Zainita Saini

Indonesia dan Middle Income Trap

Dokumentasi Pribadi Amilia Zainita Saini

Dampak dari pandemi Covid sendiri sangat terasa terhadap perekonomian Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik, pada tahun 2020 Indonesia memasuki resesi dimana pertumbuhan ekonomi turun menjadi -3,49 % yang berdampak pada seluruh sektor industri. Sekitar 35 persen perusahaan di Indonesia mengurangi jumlah pegawai. Angka pengangguran naik mencapai 10 juta orang. Bahkan pada tanggal 1 Juli 2021, World Bank menurunkan status Indonesia dari “upper middle income country” (negara berpenghasilan menengah ke atas) menjadi “lower middle income country” (negara berpenghasilan menengah ke bawah).

Lalu bagiamana dengan nasib Indonesia kedepan, apakah Indonesia bisa lepas dari middle income trap pada tahun 2035? Jawabannya sendiri bergantung dari bagaimana Indonesia menangani efek negatif pandemi terhadap perekonomian.

Middle income trap itu sendiri merupakan keadaan dimana negara berhasil lepas dari kemiskinan, tetapi tidak dapat berkembang menjadi negara maju. Alhasil negara tersebut tidak dapat bersaing dalam perekonomian global, dan rakyatnya tidak dapat meningkatkan drajat hidupnya.

Salah satu cara untuk lepas adalah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal tersebut dapat diimplementasikan dengan meningkatkan kualitas pengajaran pada siswa dari jenjang SD sampai perkuliahan. Kemudian siswa perlu ditanamkan untuk mempunyai “growth mindset”, dalam artian siswa harus percaya bahwa semua kemampuannya bisa ditingkatkan melalui dedikasi dan kerja keras. Bagi yang sudah dewasa, harus ada tindakan untuk mempelajari skill baru sehingga bisa tetap kompetitif dalam persaingan usaha. Baik mempelajari skill dari internet, maupun datang ke event pelatihan.

Kemudian pernyataannya, apakah SDM di Indonesia sudah berkualitas? Sayangnya belum sama sekali. Menurut dari hasil test PISA, kualitas siswa di Indonesia masih jauh dibawah rata-rata global. Yang lebih parah lagi, hanya 29 persen siswa Indonesia yang memiliki growth mindset. Juga mayoritas siswa Indonesia merasa bahagia & puas terhadap pencapaiannya, padahal pencapaiannya sendiri jauh tertinggal dibanding siswa di negara lain. Hal tersebut menunjukan akan sangat sulit untuk meningkatkan kualitas SDM.

Lalu bagaimana untuk orang-orang Indonesia yang memiliki skill berkualitas. Walaupun jumlah mereka sedikit, apakah mereka mampu membebaskan Indonesia dari jurang middle income trap? Sayangnya usaha mereka kemungkinan besar akan terhambat. Dari report yang dikeluarkan World Bank berjudul “Pathways to Middle-Class Jobs in Indonesia”, menunjukan bahwa perusahaan di Indonesia enggan untuk membuka lowongan kerjaan untuk Middle Class. Perusahaan cenderung lebih suka untuk membuka pekerjaan bagi Lower Class dikarenakan upah yang jauh lebih kecil (mendekati UMR), dan juga dikarenakan perusahaan di Indonesia jarang melakukan inovasi sehingga tidak memperlukan karyawan yang memiliki skill tinggi. Mereka yang mempunyai skill tidak mendapat kesempatan. Alhasil bagi yang mempunyai skill berkualitas lebih memilih untuk kerja di luar negri.

Hal-hal di atas membuat Indonesia nampak seperti akan gagal melewati Middle Income Trap. Tapi ingat, 2035 masih 14 tahun lagi, dan 14 tahun itu waktu yang sangat lama. Sebagai komparasi, 23 tahun yang lalu reformasi terjadi di Indonesia, 17 tahun yang lalu pemilihan presiden secara langsung terjadi untuk pertama kalinya di Indonesia. Bisa saja dalam 14 tahun kedepan terjadi keajaiban yang membuat Indonesia terbebas dari Middle Income Trap dan menjadi negara maju.

Penulis adalah Amilia Zainita Saini, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Uhamka

Comment