Opini

Minggu 22 Agustus 2021 | 16:40 WIB

Laporan: Ahmad Fihri

Term Ulama dalam Perspektif Sejarah

Dokumen Pribadi Ahmad Fihri

Dalam perkembangannya didunia Islam, istilah ulama telah memanifestasikan       pada awal sejarah Islam. Pada masa hidup Muhammad beliau sendiri yang menjadi rujukanumat dalam menghadapi segala problema, memberikanpenjelasan dan penafsiran terhadap isi Al qu'an sekaligusmemberikan tuntunan dan bimbingan serta suri tauladan bagiumat Islam dalam pelasanakan ajaran Islam, baik mengenahitata cara kehidupan bermasyarakat. Penjelasan dan tuntunannabi itulah yang selanjutnya dikenal dengan istilah sunnah Nabi, yang menjadi sumber utama ajaran Islam yang keduasetelah Al Qur'an.​

Meskipun nabi merupakan satu-satunya rujukan terhadappemahaman ajaran Islam, namun kelihatnnya Nabi memberikan isyarat adanya sejumlah orang di kalangansahabat yang memilki kelebihan dalam memahami Al Qur'an dan sunnah Nabi, selanjutnya disebut Ulama, dibandingkandengan rata-rata kemampuan sahabat lainnya. Hal itu dapatdilihat dalam kasus, antara lain : pemilihan dan pembinaantujuh orang sahabat, yang mempunyai kelebihan dalampenguasaan dan pemahaman Al Qur'an serta menugaskanmereka untuk mengajarkan pengetahuan yang diperolenyakepada warga masyarakat Islam lainnya, yaitu: Usman bin Affan, Ali bin tahlib, Ubay bin ka'ab, Zaid bin Sabit, Abdullah bin Mas'ud, Abu Darda dan Abu Musa al Asyha'ri.​

Setelah nabi wafat, kepemimpinan umat Islam dipegangaal Khulafaur Rasyidin : Abu Bakar al-Siddiq, Umar bin al Khattab, Usman bin Affan, ketigannyaberkedudukan di Madinah dan Ali bin Thalib yang memindahkan pusatpemerintahannya ke Kufah. Al Khulafaur Rasyididn, dimatamasyarakat pada masa kekuasannya adalah kepalapemerintahan sekaligus pemimpin agama yang pengaruh dan wibawanya sebagai ulama dikalangan sahabat, yakni sebagaipanutan masyarakat.

Pada masa Khulafaur Rasyidin, wilayah kekuasaan Islam telah meluas, sehingga permasalahan yang mereka hadapisemakin kompleks, yakni menghadapi rakyat yang terdiri dariberagam latar belakang budaya dan agama yang dianutnya. Kondisi masyarakat yang majemuk itu harus diatur dalamsuatu tertib sosial yang tidak akan berbenturan antara satusama lain, walaupun tidak seragam, konsekuensinyadiperlukan penetapan-penetapan hukum baru.

Karena kebutuhan terhadap hukum itulah, baik yang menyangkut masalah kenegaraan maupun hubungan antaraanggota masyarakat, maka pembahasan masalahhukummenjadi isu aktual. Oleh sebab itu, cendekiawan sahabatmengkonsentrasikan diri untuk membahas masalah-masalahhukum yang akhirnya melahirkan ulum al fiqh denganberpedoman pada Al Qur'an dan hadits sangat diperlukan, bukan hanya sekedar mengetahui teksnya, tetapi juga memahami makna yang tersirat dan tujuan sekedarmengetahui teksnya, tetapi juga memahami makna yang tersirat dan tujuan hukum yang dimaksudkan oleh teks-teksitu.

Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui ilmu yang dikuasai cendekkiawan sahabat masa al Khulafaur rasyidinyang membuat ia disebut Ulama adalah ilmu tentang Al Qur'an, hadis, dan fiqh yang ketiganya berkategori dalam al ulum al diniyahPemfokusan penguasaan mereka terhadap al ulum al diniyah karena pada waktu itu ilmu tersebut yang dibutuhkan dan juga belum berkembangnya ilmu pengetahuanlain. Dengan kata lain ilmu yang dikuasai cendekiawansahabat sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan ilmupada saat itu.

Pada masa Khulafaur Rasyidin menjadi khalifah sekaligus menjadi ulama, tapi pada periode Umayyah, karenapengangkatan khalifah tidak lagi berdasarkan musyawarahumat sebagaimana masa Khulafaur rasyidin yakni denganmempertimbangkan penguasaan atas pengetahuan agama, tetapi berdasarkan penunjukan terhadap keturunan ataukeluarga khalifah, sehingga pada umumnya khalifah bukanlahorang alim (ulama). Pada saat itulah terjadinya pemisahanantara otoritas keagamaan dan politik. Hal itu dibuktikandengan para khalifah mengangkat para qodi dan fungsionariskeagamaan yang bertugas untuk mengadminstrasi shari'ahatas nama negara.Sementara itu, ditengah-tengah masyarakatjuga banyak ulama yang secara mandiri selalu berusahamenuntun masyarakat dalam melaksanakan ajaran Islam. Adanya keterlibatan langsung Ulama dalam birokrasipemerintahan mendorong munculnya dikotomi ulama, yaitupejabat dan ulama bebas (independen). Kedua kelompok itusering mempunyai pandangan yang berbeda, khsusnya dalammerspon masalah-masalah yang berkaitan dengankebijaksanaan pemerintahan.Sehingga fatwa-fatwa Ulama independen sering berhadapan dan berbenturan dengankebijaksanaan atau tindakan-tindakan khalifah. Karena itusejak sat itu timbullah jarak antara khalifah dengan ulama independen yang selanjutnya melahirkan dikotomipenmgertian pemimpi formal dan informal atau dikotomipengertian umara' atau ulama dikalangan masyarakat Islam.

Sebagaimana kita tahu, bahwa pada akhir masa khalifah Ali bin Thalib dan menjelang periode Umayyah, umat Islam terpecah ,menjadi tiga kelompok politik. Ketiga kelompok tersebut memerlukan dukungan teologis untuk menunjang keabsahan ide politik. Ketiga kelompok tersebut memerlukan dukungan teologis untuk menunjang keabsahan ide politik atau hak kekuasaan politik yang diklaim oleh masing-masing kelompok.

Untuk menggali dan memperoleh keabsahan teologis seperti itulah itulah lalu muncul dan berkembang ilmu yang membahas segi-segi teologi dalam ajaran Islam yang dalam perkembangan kemudian dikenal dengan nama ilmu kalam, dan orang yang ahli dalam bidang itu disebut mutakallimin.

Berbeda dengan dinasti Umayyah, yang berkedudukan di Damskus, maka dinasti Abbasiyah yang berkedudukan di Bagdad, menginginkan semua kebijaksanaan yang mereka jalankan agar diberi cap agama, artinya mereka berkuasa atas mandat ilahi, sehingga mereka menjadi pemegang kekuasaan politik dan agama sekaligus. Hal itu terlihat pada perubahan gelar dari Pengganti Rasul Allah menjadi Wakil Allah. Dan penggunaan gelar tahta yang disandangnya, seprti al-Hadi, al-Rashid, al-Mansur dan sebagainya yang memberi isyarat bahwa mereka adalah pemimpin agama disamping memangku jabatan kepala pemerintahan.

​Disamping itu Abbasiyah sampai masa kepemimpinan alMutawakkil menjadikan aliran Mu'tazilah sebagai madzabnegara. Hal itu membuat kebebasan ulama menjadi terbatas artinya ulama yang mengikuti madzab negara mendapat tekanan dan ancaman , sebagaimana yang dialami Ahmad bin Hanbal (241 H/855 M). Namun disisi lain dengan mentapkanaliran Mu'tazilah adalah rasionalis, membuat dinasti Abbasiyah banyak mendorong dan menggalakan pengkajian ilmu pengetahuan dalam segala macam cabangnya, yakni dengan melakaukan kegiatan penterjemahan buku-buku ilmu pengetahuan (sains) dan filsafat yang berbahasa Yunani, Persia, dan India kedalam bahasa Arab.

​Diadakannya kegiatan penterjemahan ilmu pengetahuan dapat memberi pengaruh yang sanagat besdar pada kebudayaan dan perdaban umat Islam. Ilmu pengetahuan berkembang pesat dan melahirkan tokoh-tokoh muslim yang handal dalam bidang ilmu pengetahuan, seperti Musa alKharizmi seorang ahli astronomi dan matekatika. Dalam bidang filsafat lahir- lahir tokoh al-Kindi yang ahli dalam bidang astronomi, kimia, penyakit mata, dan teori-teori musik, Ibnu Sina yang ahli juga dalam bidang kedokteran dan teologi. Pada waktu itu para tokoh yang menguasahi berbagai cabang ilmu pengetahuan diberi gelar hakim ( jama' hukama'). Gelar hakim tidak diberikan kepada orang yang hanya menguasai satu cabang ilmu pengetahuan. Hal itu dimungkinkan karena pada saat itu belum adanya pemisahan antara pengetahuan dengan filsafat, ia menyatu dalam satu nama yaitu filsafat.

​Namun dalam perkembangan senjutnya terjadi dikotomi dalam pemberian terhadap para ilmuan itu, mereka yang membahas semua masalah yang tidak terbatas dengan masalah-masalah agama diberi gelar filosof (tunggal-failasufjamak, falasifah) atau hukama, sedang mereka yang membahas filsafat tetapi terbatas dalam ruang lingkup agama dinamakan mutakallimun.

​Disamping itu, cabang-cabang ilmu pengetahuan khusus keislaman juga berkembang pesat, seperti bidang fikih, orang ahli dalam bidang fuqoha (tunggal: faqih), tafsir dan 'ulum Al-Qur'an, mereka yang mengkhususkan diri pada pengkajian Al Qur'an dinamakan mufassirinulum Al-hadith (muhaddithin). Selain itu, untuk dapat mengkaji dan memahami Al Qur'andan hadis secara baik dan tepat diperlukan penguasaan bahasa Arab dan sejarah.

​Pada abad IVH, 10 M, cabang-cabang ilmu pengetahuan baik ilmu pengetahuan umum maupun keislaman (agama) cukup baik, dan setiap bagian ilmu pengetahuan itu memerlukan pengkajian yang serius dan mendalam. Karena itu, sulit bagi seseorang untuk menguasai secara mendalam berbagai disiplin ilmu sebagaimana para pendahulunya (al-Kindi, al Farabi, dan Ibn Sina).

​Dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, maka al Ghazali membagi ilmu pengetahuan dalam dua bagian besar, yaitu ilmu yang fard 'ain dan fard kifayah, dan dari kedua tipe ilmu tersebut dibagi menjadi mahmud dan madhmum.Sedangkan Mulla Sadra membagi ilmu menjadi : "ulum al Ukhrawiyah (the knowledge.of the next world) dan "ulum dunyawiyah (worldly knowledge) Adanya dikotomi seperti itu tidaklah menjadi masalah, jika keduanya saling mengisi, namun dikalangan masyarakat, sejak adanya pembagian ilmu pengetahuan menjadi dua tersebut, timbul pemahaman bahwa ilmu akhiratlah yang paling penting, sedang ilmu dunia tidak begitu penting bahkan ada yang yangberpendapat dapat menjerumuskan kejurang kenistaan. Sejak saat itulah, istilah Ulama mengalami penyempitan, yakni disanjungkan hanya kepada orang-orang yang menguasai ilmu akhirat (agama) secara mendalam dan luas, khususnya bidang teologi (kalam), fiqh, tafsir, hadis dan tasawuf . Sebagaimana istilah ulama, istilah fiqh juga mengalami reduksi, yakni istilah tersebut pada awalnyadimaksdukan sebagai suatu pengetahuan yang menyeluruh tentang agama, mencakup hukum, keimanan akhlaq, Al Qur'an dan hadis, tetapi dikemudian hari dipakai khsus menyangkut pengetahuan hukum agama saja.12 Selanjutnya Qwuraish Sihahmengatakan bahwa Ulama adalah orang yang pengetahuannya mengantarkan kepada pengetahuan tentang kebenaran Allah SWT, Serta melahirkan sikap tunduk, taqwa, khasyah (takut) apapun disiplin ilmunya.

​Dalam konsteks sosiologis di Indonesia, pengertian tersebut bahkan dipersempit lagi dengan kriteria adanya pengakuan dari masyarakat.14 Meskipun kurang meperhatikankriteria adanya penguasaan ilmu agama yang mendalam, juga kriteria kebiasaan memberikan pengajian atau ceramah agama, meskipun hal itu sering ditentukan oleh ketrampilan seseorang berbicara didepan umum dan bukan pada kemampuan substansialnya mengenahi ilmu-ilmu agama.

​Ulama menduduki tempat yang tinggi dan mempunyai peran yang sangat penting dalam Islam dan kehidupan kummuslimin. Mereka dalam banyak hal, dipandang menempati kedudukan dan otoritas keagamaan setelah Nabi Muhammad, karena itu mereka sangat dihormati kaum muslimin lainnya.

Ahmad Fihri adalah Dosen tetap Al Islam dan Kemuhammadiyahan FEB Uhamka

TAG BERITA

Comment