Opini

Kamis 01 April 2021 | 11:20 WIB

Laporan: Dr. Tri Pujiati, S.S., M.M., M.Hum.

Membumikan Bahasa Indonesia di Area Publik

Dr. Tri Pujiati, S.S., M.M., M.Hum.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu di bumi Indonesia tercinta sejak tahun 1928. Tahun itu merupakan tonggak sejarah baru dijadikannya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Hal ini ditandai dengan pengesahan sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Salah satu ikrar sumpah pemuda berbunyi “Kami Putra dan Putri Indonesia Mengaku Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia”. Ikrar ini sebagai penanda awal munculnya rasa nasionalisme untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Begitu besar peranan pejuang bangsa terdahulu dalam upaya mewujudkan bahasa persatuan. Kita bisa bayangkan jika saat itu tidak ada bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, akankah Indonesia bisa merdeka pada tahun 1945?. Tak bisa dipungkiri juga bahwasanya lahirnya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan juga merupakan sesuatu yang sangat unik dan menarik. Bahasa Indonesia lahir sebelum Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus tahun 1945. Kita tengok sejarah bangsa kita dahulu, banyak pejuang yang berasal dari daerah dan wilayah yang tersebar di Nusantara dengan bahasa daerah yang berbeda-beda. Kita bisa bayangkan jika semua pejuang menggunakan bahasa daerahnya masingmasing, akankah Indonesia bisa merebut kemerdekaannya sendiri?. Tentu saja sulit untuk merebut kemerdekaan jika bahasa yang digunakan tidak bisa mengakomodir tujuan komunikasi antar pemuda kala itu.

Lalu, bagaimana dengan kondisi terkini? Di era milineal dengan segudang kemajuan teknologi yang sungguh luar biasa, kondisi remaja milineal dalam menggunakan bahasa sungguh sangat miris. Kondisi ini sungguh berbanding terbalik dengan keadaan saat ini. Penggunaan bahasa Indonesia kian tegerus oleh adanya bahasa asing ataupun bahasa gaul yang dianggap lebih keren dibandingkan bahasa Indonesia. Remaja milenial banyak yang sudah meninggalkan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Tidak dapat dipungkiri bahwasanya era teknologi membuat perkembangan bahasa semakin pesat. Bahasa asing dan bahasa gaul mampu merebut hati masyarakat milineal sehingga secara tidak langsung menggerus eksistensi bahasa Indonesia.

Berpijak dari fakta tersebut, perlu adanya upaya yang dilakukan oleh generasi milineal dengan memanfaatkan media sosial sebagai wadah untuk mendobrak penggunaan bahasa Indonesia di ranah publik.  Cara ini dinilai lebih efektif karena generasi milenial saat ini cenderung menggunakan media sosial dibandingkan dengan media lainnya untik berkomunikasi. Sayangnya, dalam kegiatan berkomunikasi pun, generasi milinial lebih sering menggunakan bahasa gaul maupun bahasa asing. Oleh karenanya, perlu adanya upaya membangunkan kesadaran generasi milinial untuk membumikan bahasa Indonesia melalui ranah publik. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menanamkan rasa cinta terhadap bahasa Indonesia. Upaya yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Menggunakan Bahasa Indonesia di Berbagai Media Sosial 

Upaya yang bisa dilakukan oleh generasi milenial dengan cara menggunakan bahasa Indonesia di berbagai media sosial. Misalnya Facebook (FB), Tweeter (T), Instagram (IG), Whatssup (WA), dll. Jadi mereka bisa menggunakan media tersebut untuk menyebarkan informasi terkait penggunaan bahasa Indonesia di area publik. Dalam menyebarkan informasi tersebut, generasi milenial dapat menggunakan bahasa Indonesia sehingga menjadi terbiasa dalam menggunakan bahasa Indonesia di area publik.

2. Menulis Status dengan menggunakan Bahasa Indonesia

Penggunaan status dalam aplikasi di media sosial sangat efektif sebagai bentuk kampanye dalam menggunakan bahasa Indonesia. Pada saat menulis status, cobalah untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

3. Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia

Pada saat berkomunikasi, seringkali generasi milenial menggunakan bahasa gaul mapun bahasa asing. Langkah yang bisa ditempuh sebagai upaya untuk membumikan bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi sehari-hari, baik komunikasi yang dilakukan secara langsung melalui tatap muka mapun komunikasi tidak langsung melalui HP, media sosial, dll. Komunikasi yang digunakan juga bisa menggunakan komunikasi yang dilakukan melalui media lisan maupun tulisan dengan beragam media komunikasi. Tujuannya adalah agar mereka terbiasa untuk menggunakan bahasa Indonesia di area publik.

Upaya yang dilakukan melalui media online di area publik tersebut diharapkan mampu menjadi solusi dalam upaya menjaga eksistensi bahasa Indonesia di ranah publik.Upaya ini sangat diperlukan sehingga kedepannya generasi yang akan datang dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik di ranah publik. Yuk, cintai bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang bisa meningkatkan rasa nasionalisme kita sebagai warga Negara Indonesia.

Comment