Opini

Sabtu 13 Februari 2021 | 18:27 WIB

Laporan: Sinta Nurlia

Rahasia Sukses Pendidikan Jarak Jauh

Sinta Nurlia, Guru SMA Negeri 1 Cibinong, Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Sekolah Pascasarjana UHAMKA.

Pandemi covid 19 atau wabah virus korona masih belum berakhir. Dampak Covid-19 terhadap seluruh bidang kegiatan memiliki dampak yang luar biasa. Bahkan sektor pendidikanpun terdampak musibah ini. Di berbagai negara termasuk Indonesia sekolah maupun perguruan tinggi diberhentikan, contohnya:SMA Negeri 1 Cibinong Kabupaten Bogor sudah hampir semester 2 ini kegiatan pembelajaran yang sepenuhnya dilakukan dengan tatap muka, akibat virus Covid-19 menjadi sistem pembelajaran jarak jauh dengan sistem daring dan luring. Namun, tidak seluruh sekolah melakukan pembelajaran jarak jauh, mengingat masih ada daerah berstatus zona hijau yang bisa melakukan pembelajaran tatap muka. Perlu persiapan dan manajemen yang matang di setiap sekolah demi terciptanya kegiatan pembelajaran tatap muka diadakan atau menciptakanpembelajaran jarak jauh. Keduanya sama-sama memiliki dampak positif dan negatif bagi keberlangsungan pembelajaran di sekolah.

Berdasarkan situasi di atas menyadarkan perlunya revolusi pola pikir gaptek menjadi pantek baik untuk guru maupun peserta didik. Pola pikir yang selama ini gagap teknologi harus diubah menjadi pandai teknologi atau melek teknologi.Teknologi menjadi opsi terbaik dalam kelancaran pembelajaran jarak jauh. Pada kenyataannya guru wajib lebih keras dalam menanggulangi dampak pendidikan akibat Covid 19. Guru menjadi garda terdepan yang bisa mengajak dan mengajarkan karakter baik kepada peserta didik. Banyak hal yang harus diajarkan guru dan beberapa hal juga yang harus dipelajari oleh guru. Perkembangan teknologi menjadi sarana dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan secara tidak langsung mengharuskan guru untuk berlatih memanfaatkan jenis teknologi yang tersedia.

Salah satu yang bisa diperhatikan guru ketika sedang melaksanakan PJJ yakni menyediakan dan memilih media teknologi serta sumber daya yang tersedia agar dapat digunakan dengan baik. Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah bertanggungjawab menentukan teknologi, platform, peralatan dan sumber daya yang tersedia untuk keberhasilan belajar mengajar khususnya selama Pembelajaran Jarak Jauh. Guru bisamemanfaatkan teknologi dan mengajak peserta didik dengan membangun pemaknaan (pemahaman) dari materi yang disampaikan, serta mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik teknologi dengan karakteristik siswa dan materi pembelajaran yang diampu. Guru perlu memahami teknologi semiotika untuk mempresentasikan sebuah perangkat teknologi yang digunakan dalam membentuk makna. 

Istilah semiotika merupakan ilmu atau metode ilmiah untuk melakukan analisis terhadap tanda dan segala hal yang berhubungan dengan tanda. Tanda merupakan bagian yang penting dalam bahasa. Dalam proses PJJ agar komunikasi berjalan dengan lancar maka guru perlu memahami semiotika pada perangkat teknologi yang digunakan. 

Sekolah SMA Negeri 1 Cibinong, Kab. Bogor memanfaatkan media zoom dalam sistem daring pembelajaran jarak jauh, sedangkan kegiatan luring memanfaatkan powerpoint, modul, google classroom, video, dsb. Pilihan atas sumber-sumber semiotika yang ada diharapkan dapat memanfaatkan fitur-fitur dan fungsi menu yang disediakan dalam aplikasi yang dipakai, seperti desain, layer, tata letak, warna, teks, garis, suara, tulisan, simbol, gambar, ikon, dan bentuk abstrak lainnya. Jika semua artifak fitur pada zoom dimanfaatkan dengan baik maka guru bisa memberikan makna dalam pembelajaran daring melalui komunikasi verbal, mimik wajah, gerak tangan, dan gerak anggota tubuh lainnya, sekaligus membentuk karakter baik pada peserta didik. 

Pembahasan mengenai teknologi semiotika membuktikan bahwa peran dan fungsi teknologi yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran daring sangat penting. Guru bukan hanya diharapkan mampu menggunakan teknologi saja, tetapi diharapkan dapat menciptakan kelas menyenangkan dan pembelajaran bermakna. Penggunaan zoom ketika pembelajaran berlangsung bukan hanya menyampaikan materi semata, namun lebih dari itu zoom diharapkan dapat membantu membentuk kedisipilinan peserta didik selama proses pembelajaran daring berlangsung. 

Contoh dalam kelas daring melalui zoom, setiap harinya SMA Negeri 1 Cibinong memanfaatkan artifak virtual background. Alasannya ada beberapa sebagian siswa yang tidak mau mengaktifkan kamera karena kamarnya berantakan, dll. Untuk itu, guru bisa mengajak peserta didik mengganti background setiap harinya sesuai dengan tema yang ditentukan. Sehingga tidak ada alasan tidak mau mengaktifkan kamera.  Artifak fitur ‘waiting room’ pada zoom dapat dimanfaatkan guru untuk membentuk disiplin pada siswa. Selain bermanfaat untuk melihat siapa saja yang mencoba bergabung dan mengindari Zoombombingartifak ‘waiting room’ bisa dimanfaatkan untuk menahan siswa-siswi yang telat masuk dan tidak disiplin sesuai dengan jadwal. Sehingga guru memiliki penilaian siapa saja yang lalai dalam pembelajaran untuk dijadikan bahan evaluasi pada wali kelas dan wali murid.

Selanjutnya, artifak fitur ‘setting audio-video’ membentuk karakter siswa agar tetap kondusif dalam pembejaran daring.Istilah asbun atau asal bunyi bisa terkendali dengan memanfaatkan artifak setting mute audio. Siswa diharapkan tetap aktif namun tetap sesuai dengan konteks pembelajaran berlangsung. Selain itu, apabila ada lingkungan peserta didik yang ramai, artifak fitur setting mute audio bisa membantu menjaga agar kelas PJJ tetap kondusif dan peserta didik laintidak merasa terganggu. Artifak fitur setting video juga diharapkan membentuk karakter baik siswa. Peserta didik wajib mengaktifkan kamera ketika zoom bisa menandakan bahwa salah satu kesantunan dalam bertutur adalah wajib menampakkan atau memperlihatkan wajah. Dengan begitu komunikasi dapat terjalin dengan baik. Guru dapat menilai langsung bahasa tubuh yang digunakan siswa dan memberikan penilaian terhadap sikap peserta didik. Terlebih ada beberapa sekolah yang mewajibkan menggunakan seragam ketika PJJ zoom belangsung, sehingga artifak setting video bisa membantu guru dalam mendisipinkan peserta didik terhadap peraturan zoom sekolah.

Penggunaan artifak emoticon pada menu reactions di saat PJJ zoom berlangung juga membantu mengajarkan pada peserta didik untuk lebih sopan lagi ketika ingin mengutarakan tuturannya. Peserta didik dapat memanfaatkan artifak ‘raise hand’ ketika ingin memotong atau menanggapi lawan bicaranya.Siswa akan memulai tuturannya, jika sudah diizankan oleh lawan tutur. Cara tersebut membiasakan peserta didik untuk tetap sopan dan santun walaupun pembelajaran melalui daring zoom. Selain itu, guru bisa memberikan penghargaan langsung bagi peserta didik yang aktif dengan memberikan emoticon bintang, love, tepuk tangan, dan lain-lain. Begitupun sebaliknya, peserta didik diwajibkan memberikan penghargaan atau apresiasi pada teman-temannya yang mau aktif menjawab pertanyaan guru. Hal tersebut membiasakan peserta didik untuk menghargai mitra tuturnya.

Artifak selanjutnya yang memiliki tanda teknologi semiotika pada zoom yakni fitur ‘chat’. Apabila seorang guru memberikan link presensi di kolom chat, kemudian peserta didik mengerti apa yang dimaksud tanpa diberi instruksi berulang-ulang, maka teknologi semiotika yang diberikan memiliki sebuah makna yang dapat tersampaikan dengan baik.

Artifak fitur ‘host dan co-host’ melatih siswa untuk bertanggungjawab. Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memimpin jalannya PJJ dan menampilkan layar kepada teman-temannya sesuai dengan konteks pembelajaran. Selain itu, bagi yang bertanggungjawab menampilkan materi pada layar bisa memanfaatkan artifak fitur annotation tools yang dapat digunakan untuk memberikan catatan langsung, sehingga peserta didik terbiasa dengan presentasi yang maksimal. Masih banyak lagi artifak zoom yang bisa dimanfaatkan guru dalam membentuk pembelajaran bermakna. Berdasarkan contoh ringkas di atas memberikan penjelasan bahwa tanda-tanda atau fitur yang ada pada zoom bukan hanya membantu mempresentasikan materi saja tetapi bisa membiasakan peserta didik terampil dalam bersikap dan lainnya.

Selain media daring zoom masih banyak teknologi dan fitur yang bisa dimanfaatkan untuk dalam PJJ, misal youtube. Ada tiga teknologi semiotika yang dikenal pada youtube, yakni like, comment, and subscribe. Masih banyak yang bisa dimanfaatkan dari youtube, namun ketiga artifak ini memiliki daya magis bagi pengguna masing-masing youtube. Guru dapat memanfaatkan artifak like sebagai tanda kehadiran. Jika peserta didik menyukai video tersebut, maka dianggap telah menonton atau ikut hadir pada PJJ. Selanjutnya, setelah me-like video yang ditonton, peserta didik diwajibkan komentar mengenai apa yang dilihat. Bisa saja kolom komentar dipakai untuk interaksi saling balas menanggapi materi yang tersedia. Komentar peserta didik pada kolom chat menandakan kehadiran pada kelas tersebut. 

Selanjutnya, memahami setiap simbol artifak yang tersedia.Guru juga bisa menambah pengetahuan pedagogi, konten, dan teknologi melalui pelatihan webinar dengan memperhatikan kesesuaian antara karakteristik teknologi dengan karakteristik siswa serta materi pembelajaran. Sehingga komunikasi selama PJJ tidak hanya bersifat otoriter dalam mengarahkan kegiatan pembelajaran daring. Sekolah SMA Plus PGRI Cibinong contohnya menyediakan pelatihan teknologi khusus untuk guru. Dengan memahami semiotika teknologi pada proses PJJ, makadapat mengembangkan pemahaman antara guru dan siswa. Sebuah makna akan terbentuk dan dapat digunakan secara optimal. Semakin banyak semiotika teknologi yang ada dalam proses pembelajaran daring akan meningkatkan pemahaman antara guru dan siswa. Sehingga, materi pelajaran yang diberikan oleh guru akan mudah dipahami oleh siswa dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.

Penulis adalah Sinta Nurlia, Guru SMA Negeri 1 Cibinong, Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Sekolah Pascasarjana UHAMKA.

TAG BERITA

Comment