Opini

Senin 28 September 2020 | 15:07 WIB

Laporan: Dr. Amaliyah, S.Ag., M.A

KESINERGIAN AKAL, HATI DAN JASMANI DALAM MENULIS

Dr. Amaliyah, S.Ag., M.A.Dosen Universitas Pamulang

Dewasa ini bukan hal baru tentang dunia menulis, semua orang berlomba untuk menulis menuangkan ide, gagasan, pemikiran baik daya ilmiah atau daya imajinasinya. Perlombaan menulis ini terlihat dengan adanya perang pemikiran, perang opini, perang berita, bahkan semua orang dengan mudahnya dapat menuliskan apapun yang dia mau, kapanpun dan dimanapun dengan akses yang terbuka, tak berbatas ruang dan waktu. Detik ini kita menulis, detik ini juga semua telah dapat di akses. Menulis itu sangat mudah, jika menggunakan hawa saja. Membuat status pada facebook, instagram, membuat blog atau tulisan yang disebarkan di group WA.

Saat akses telah terbuka luas, pemikiran seseorang di ujung tempat yang tersembunyipun dapat di akses. Terlebih untuk saat ini, siapapun dapat menampilkan pemikirannya pada blog – blog pribadi sesuka pemikirannya. Maka jangan heran ketika terjadi perang pemikiran yang justru berdampak negatif, yaitu menghina pemikiran orang lain, mencemarkan nama baik, membangun image sesuai dengan kepentingan ekonomi, politik atau kepentingan pribadi yang menguntungkan namanya, ataupun hanya untuk agar terkenal dan viral saja.

Menulis merupakan tuntutan ilmu pengetahuan.  Oleh karena itu, tuntutan tersebut menjadi tugas yang tak dapat dielakkan. Kewajiban menulis  masuk di segala aspek bidang kehidupan baik politik, ekonomi, sosial, budaya terkhusus di dunia pendidikan, yaitu Guru atau siswa dari tingkat SD hingga SMA mulai diwajibkan untuk membuat karya ilmiah. Di tingkat perguruan tinggi, dosen harus membuat jurnal dan laporan lainnya, bahwa intinya segala kegiatan akademisi harus di publikasi untuk ditulis. Sebuah bentuk pengejaran capaian kuantitas laporan kegiatan pada instansi pendidikan yang berlaku saat ini.

Terdapat hal yang harus kita pahami bahwa menulis itu bukan untuk membangun pemikiran diri. Menulis bertujuan untuk memberi jalan di mana letak sebuah  kebenaran, tentu sesuai dengan aturan tuhan. Maka nilai-nilai yang ada dalam tulisan harus jelas. Namun sayangnya banyak tulisan yang tidak berdasar pada kebenaran akan tetapi berdasar pada kepentingan. Perbedaan tersebut dapat terlihat dari substansi isi sebuah tulisan.  Jika kita perhatikan tulisan saat ini yang berkembang, baik jurnal, buku atau lainnya di internet, sangat terlihat sekali kepentingan aliran, golongan, kecendrungannya. Berbeda ketika kita membaca buku karya ulama klasik, terdapat keseimbangan ilmu dan memahami alasan perbedaan pendapat dari pemikiran orang lain, yang dianalisis dengan bahasa yang nyaman dipahami dengan ilmu dan iman.

Cara menulis telah banyak di media massa dan buku, dengan berbagai trik yang memudahkan kita untuk berlatih menulis. Dimana sebetulnya hanya satu rumus utama untuk bisa menulis  yaitu “Mulai Menulis”.  Pada paparan ini, berbeda dalam langkah menulis pada umumnya. Terdapat beberapa langkah yang harus kita lakukan dalam menulis antara lain:

1. Mengerakkan akal.

Arti mengerakkan akal adalah dengan cara berpikir secara keilmuan, kita memahami secara keilmuan sebuah aturan hukum keilmuan, dan jika terdapat perbedaan pendapat kita-pun memahaminya. Ketika secara keilmuan itu kita bisa memahaminya, maka apa yang kita pikirkan tersebut terstandar. (inilah kenapa dalam tulisan ilmiah diwajibkan adanya referensi). Sebetulnya sama halnya dengan opini, harus berstandar keilmuan, sehingga apa yang kita tulis bukan karena kepentingan pribadi, golongan atau sebagian saja. Melainkan tulisan yang bersifat keilmuan. Untuk menghasilkan gerak akal yang baik, salah satu hal yang harus dilakukan adalah dengan membaca tentang ilmu (materi) yang akan kita tulis. Banyak membaca akan memberi pengembangan akal tentang bagaimana menganalisis suatu tema materi. Membaca ini adalah perintah agama untuk kita memberi makanan akal agar mampu berpikir dengan baik. Tanpa wawasan ilmu, tulisan yang kita tulis tak ada dasar, dan tidak memiliki jiwa ilmu, tulisan akan terasa kosong dan membosankan jika dibaca, orang cenderung melihat sekilas untuk tidak menghiraukan.

2. Mengerakkan Hati.

Kenapa mengerakkan hati dalam menulis? Standar hati merupakan standar norma, etika dan keimanan. Pada tulisan yang menggunakan hati akan tercipta suasana nyaman dari yang membacanya. Maka dapat dirasakan oleh kita, tulisan yang mampu mengerakkan hati untuk dipaham dan tulisan yang membuat kita malas membaca hingga akhir. Untuk menghasilkan gerak hati, salah satu hal yang harus kita lakukan adalah dengan berdzikir. Hal tersebut sebagai makanan hati kita, sehingga apa yang kita tulis bersandarkan pada keimanan dan petunjuk dari Allah. Di sinilah nilai norma agama, nilai norma sosial budaya mewarnai isi tulisan kita.

3. Mengerakkan jasmani.

Jasmani yang sehat akan menghasilkan tulisan yang sehat pula. Maka gerak tubuh dalam hal ini adalah jari tangan, menerima hasil pemikiran dari analisis keilmuan dari akal dan hati dalam sebuah tulisan. Maka rumusnya : 3 M (menulis-menulis-menulis) artinya perlu latihan untuk menyatukan analisis akal dan hati untuk menuangkan pemikiran dalam sebuah kalimat. Tanpa kita berlatih, tak akan pernah bisa kita menghasilkan tulisan yang mengandung nilai, norma dan ilmu yang didasari keimanan.

Jika ketiga hal dari akal, hati dan jasmani ini dilakukan akan menghasilkan ide, gagasan pemikiran yang mampu mengerakkan pembaca melihat kebenaran. Keilmuan dan keimanan yang tertuang dalam tulisan akan memberi dampak positif bagi yang membacanya.  Menulis itu mudah akan tetapi menulis yang membawa kemaslahatan itu membutuhkan latihan, baik pada tulisan ilmiah jurnal ataupun pada tulisan buku (fiksi atau non fiksi), ataupun sekedar tulisan di facebook, instagram atau WA. Bukan hanya latihan merangkai kata atau kalimat, akan tetapi mendudukan kata atau kalimat pada kebenaran materi tema yang semestinya.

Alasan menulis harus mensinergikan akal, hati dan jasmani, karena apa yang kita tulis harus berlandaskan untuk mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran. Membangun kemaslahatan, bukan kemudhorotan. Menjelaskan kebenaran, bukan menebarkan kesalahan. Tulisan berprinsip menunjukkan jalan kebenaran.

*Penulis adalah Pemerhati Pendidikan dan Dosen Universitas Pamulang

Comment