Opini

Rabu 01 Juli 2020 | 11:00 WIB

Laporan: Sugiyo, S.Pd., M.Pd.

Perceraian Masalah Ekonomi

Sugiyo, S.Pd., M.Pd.

Sebuah televisi swasta nasional  pada Selasa, 13 Juni 2020, mewartakan angka perceraian di Semarang meningkat di masa pandemi Covid 19. Sembilan puluh persen penggugat dari pihat istri dan delapan puluh persen penyebab gugatan cerai masalah ekonomi. Demi mendengar berita itu penulis jadi ingat kisah Syakutanla ketika dipinang olah Raja Dhusmanta. Sepanjang penulis baca dan ingat dalam epos Mahabarata tidak ada perceraian. Apalagi cerai gara-gara masalah ekonomi. Dan itu terjadi karena para calon istri ketika dilamar untuk dijadikan istri atau permaisuri selalu mengajukan syarat. Saat itu Syakunta mengajukan syarat: Berjanjilah bahwa apapun yang hamba pinta akan Paduka kabulkan . Anak laki-laki yang akan hamba lahirikan hendakanya kelak menjadi ahli waris kerajaan Paduka. Tanpa mempertimbangka syarat-syarat yang diajukan Syakuntala. Raja Dhusmanta memenuhi.   

Demikian halnya  Satyawati dengan suaminya, Raja Sentanu. Kita tahu Satyawati seorang pencari ikan, anak seorang kepala kampung nelayan, sedangkan Sentanu Raja Hastinapura. Seorang raja tidak hanya bergelimang harta, kehormatan, kemasyuran, dan tahta. Tetapi ayah Satyawati toh tidak serta merta percaya dan menyerahkan anaknya begitu saja. Dia tidak percaya dan mengajukan syarat: “Jika anak hamba melahirkan seorang bayi lelaki, Paduka harus menobatkannya menjadi putra mahkota dan kelak setelah Paduka mengundurkan diri, Paduka harus mewariskan kerajaan ini kepadanya.”  Saat itu Raja Santanu menolak karena tidak tega menyingkirkan Dewabrata yang sudah diangkat sebagai yuwaraja atau putra mahkota, meskipun pada akhrinya  Santanu menikahi Satyawati melalui pengorbanan sang anak, Dewabrata, yang bersedia menyerahkan jabatan putra mahkota bahkan bersumpah tidak akan menikah.

Belajar dari pengalaman di atas, para orang tui, khusnya kaum hawa saat belajar dari para tokoh Mahabarata. Saatnya ada berani mengajukan syarat atau perjanjian pranikah di depan notaries kalau perlu.   Saya bersedia menjadi istri dengan mas kawin akta rumah minimal tipy 21. SK pengangkatan atau akta  usaha. BPKB kendaran dan sebagainya. Sehingga  hidup nyaman dan tidak ada pembohongan public.

Mengutip perkataan Emha Ainum Nadjib (Cak Nun) dalam ceramah Maiyah, orang Indonesia itu pemberani. Tidak punya apa-apa berani nikah. Kredit motor belum lunas bernai hamil lagi. Betul. Tidak salah apa kata Can Nun. Dan ini realita masyarakat kita. Hidup di zaman sekarang yang serba mahal butuh uang. Orang bilang uang buka segala-galanya. Tapi segalanya butuh uang. Dan perceraian di Semarang itu bisa jadi parameter hancurnya rumah tangga. Karena modal nekad. Modal nafsu. Butuh pertimbangan terutama ekonomi.

Cinta

Penulis yakin, mereka yang sedang berseteru di Pengadilan Agama Semarang itu waktu nikah dipersatukan atas dasar cinta. Hanya setelah menikah si suami tidak tahu menjabarkan dan menerjemahkan makna cinta. Kurang kerja keras sehingga pemasukan sedikit dan menyebabkan istri uring-uringan. Kerja keras itu juga cinta. Suamiu banting tulang, tidak kenal matahari karena berangkat subuh dan pulang larut itu wujud cinta. Seorang ayah sambil narik Ojeg online selepas kerja ini juga bentuk cinta. Seorang suami pulang kerja mencuci pakaian dan bantu bebenah di rumah juga ungkapan cinta. Jadi makna cinta itu luas untuk ukuran keluarga-pasangan suami-isti.

Budaya patriaki - feodal masyarakat kita juga belum bisa dihapus. Kaum adam masih banyak yang pantang masuk ke wilayah domestik. Tidak mau masak. Lebih senang nongkrong di pos ronda daripada momong anak. Pergi mincing sementara istri sibuk bebenah rumah. Sedangkan suami memberi uang bulanan lima belas koma (15,) artinya tanggal lima belas sudah habis dan harus ngutang.

Penulis membayangkan menjadi hakim pengadilan agama dan mengajukan pertanyaan kepada suami, tergugat. “Berapa Anda memberi uang bulanan pada istri? “

“Tiga juta?”

“Menurut Anda itu cukup?”

“Tidak”

“Layaknya berapa?”

“Enam sampai delapan juta”

Sementara sehari suami minta dilayani, kopi, makan, pakaian disetrika rapi, anak dua, butuh susu, uang sekolah, dan belum urusan ranjang.

Dalam posisi seperti ini, suami dituntui memahi makda gender. Mau masuk wilayah domestk. Selain itu harus dituntut mengubah pola komunikasi. Dari kalimat seru menjadi kalimat tanya.. Mama buatkan ayah mie!  Menjadi, Ayah mau buat mie rebus. Mama mau?

Doa Syukur

Sesekali Anda menghadiri sidang perceraian. Coba ajukan pertanyaan pada mereka yang berseteru. Apakah  Anda sering berdoa bersama?. Saya bisa pastikan mereka menggelengkan kepada. Tidak pernah. Kehidupan kita tidak ada yang sempurna, pun pula keluarga. Tidak ada keluarga yang prefek. Kerikil-kerikil  kecil-cekcok itu biasa. Pengen sesuatu belum bisa beli itu wajar. Nabung untuk beli barang idaman tiba-tiba harus diambil di ATM karena anggota keluarga sakit itu normal. Segala kekurangan itu harus dibawa dalam doa syukur. Jika istri malas doa karena capek, suami ambil inisiatif dan tetap berdoa dan ajak anak-anak ambil air wudu dan berdoa. Ingat suami adalah Imam, jadi harus mengajak istri-anak  berdoa. Minimal sekali dalam satu hari adakan doa berjamaah. Insya Allah keluarga utuh dan bahagia.

*) Penulis adalah Dosen Fakultas Sastra Universitas Pamulang 

Comment