Opini

Senin 18 April 2016 | 02:17 WIB

Laporan: Budi Firmansyah

Mendidik Melalui Generasi Literasi

Foto Pribadi Budi Firmansyah

Visione.co.id-Tepat rasanya ketika kita memahami apa yang ditekankan pada wahyu pertama Allah kepada Nabi Muhammad SAW, yakni perintah membaca (Iqra) yang kemudian dilanjutkan “Allama Bil Qalam”, mendidik melalui membaca.

Literasi (membaca-menulis) merupakan salah satu aktifitas penting dalam hidup. Sebagian besar proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran akan sebuah literasi. Budaya literasi yang tertanam dalam diri peserta didik mempengaruhi tingkat keberhasilan baik di sekolah/kampus atau dalam kehidupan bermasyarakat.

Kaitannya dengan menulis, Hernowo (2005) dalam bukunya “Mengikat Makna” menyebut bahwa menulis dapat membuat pikiran kita lebih tertata tentang topik yang kita tulis, membuat kita bisa merumuskan keadaan diri, mengikat dan mengonstruksi gagasan, mengefektifkan atau membuat kita memiliki sugesti (keyakinan/ pengaruh) positif, membuat kita semakin pandai memahami sesuatu (menajamkan pemahaman), meningkatkan daya ingat, membuat kita lebih mengenali diri kita sendiri, mengalirkan diri, membuang kotoran diri, merekam momen mengesankan yang kita alami, meninggalkan jejak pikiran yang sangat jelas, memfasihkan komunikasi, memperbanyak kosa-kata, membantu bekerjanya imajinasi, dan menyebarkan pengetahuan.

Jauh sebelumnya UNESCO di tahun 1996 mencanangkan empat prinsip belajar abad 21, yakni: 1. Learning to think (belajar berpikir), 2. Learning to do (belajar berbuat), 3. Learning to be (belajar untuk menjadi), 4. Learning to live together (belajar hidup bersama). Keempat pilar prinsip pembelajaran ini sepenuhnya didasarkan pada kemampuan literasi (Literary skills).

Dalam konteks pendidikan nasional kita, minat baca-tulis masyarakat kita sangat menghawatirkan. Hal ini disebabkan adanya pelbagai persoalan, misalnya: hampir semua kota-kota besar di Indonesia tidak punya perpustakaan yang memadai, padahal keberadaan perpustakaan yang memadai adalah salah satu ciri kota-kota modern di negara maju, perpustakaan yang ada di sebagian kota/kabupaten memiliki tingkat kunjungan pembaca yang rendah, perpustakaan bukan tempat yang menarik untuk dikunjungi atau berlama-lama oleh peserta didik/mahasiswa.

Kebiasaan remaja saat ini lebih sering menghabiskan waktunya untuk bermain dengan gadget, menonton tv, internet yang tak tepat pemanfaatannya, ke Mall dsb. Kebiasaan itu bisa jadi bukan tanpa alasan, ketika para peserta didik/mahasiswa merasa lebih menikmati segala hal dengan instan tak hayal itupun diikuti oleh sebagian pendidik, tak menemukan sesuatu yang baru ketika berada di perpustakaan. Meskipun demikan kegiatan membaca tidak hanya dapat dilakukan diperpustakaan, tapi apakah tempat-tempat yang sering dikunjungi atau menjadi tempat yang nyaman untuk berkumpul telah menyediakan bahan bacaan? Apa yang harus dilakukan oleh pendidik untuk menyikapi hal ini?

Ancaman Global, rendahnya literacy awareness bangsa Indonesia sekarang ini akan semakin melemahkan daya saing bangsa dalam persaingan global yang semakin kompetitif, 70% anak Indonesia akan Sulit Hidup di Abad 21,” demikian kata Prof Iwan Pranoto dari ITB. Indonesia termasuk negara yang prestasi membacanya berada di bawah rata-rata negara peserta PIRLS 2006 secara keseluruhan yaitu 500, 510, dan 493. Indonesia berada di urutan ke-lima dari bawah, sedikit lebih tinggi dari Qatar (356), Quwait (333), Maroko (326), dan Afrika Utara (304). Sumber Daya Manusia Indonesia kurang kompetitif karena kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, ini adalah akibat turunan dari rendahnya kemampuan baca-tulis. Membaca belum menjadi kebutuhan hidup dan belum menjadi budaya sebuah sekolah/kampus.

Melihat persoalan ini dibutuhkan kerjasama banyak pihak, terutama para pendidik karena mendidik dengan gerakan literasi tak melulu harus di dalam ruang kelas atau ruang yang penuh buku-buku, tetapi dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja terlebih dengan kecanggihan teknologi, penggunaan internet di Indonesia mengalahkan negara maju lainnya dalam keseharian, lalu kenapa itu tidak kita manfaatkan untuk dijadikan media mendidik dengan gerakan literasi, peserta didik/mahasiswa kita rangsang untuk mau dan mau mebaca buku-buku/sumber bacaan yang bermanfaat dan bukan pada waktu-waktu tertentu saja. Menulis dengan baik dari apa yang pernah mereka baca. Paling penting adalah adanya tindakan nyata yang bukan sekedar wacana semata atau sekedar deklarasi-deklarasi gerakan literasi.

Dibutuhkan intervensi secara sistemik, masif, dan berkelanjutan untuk menumbuhkan budaya literasi peserta didik/mahasiswa dan masyarakat pada umumnya. Pendekatan yang dianggap paling efektif adalah penyadaran literasi sejak dini dengan melibatkan dunia pendidikan. Hal ini karena tidak dipungkiri hampir seluruh anak berstatus sebagai pelajar dan melalui proses pendidikan, sebuah program yang sistematik bisa masuk dengan efektif.

Dan yang paling terpenting adalah “melakukan hal kecil, untuk perubahan nyata” dalam gerakan literasi!

*Penulis adalah Dosen Univesitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka dan Sekjen Relawan Membaca 15 Menit

TAG BERITA

Comment