Aspirasi

Senin 29 Februari 2016 | 22:10 WIB

Laporan: Nining Sri Wahyuni

Mengapa Wanita Lebih Rentan Stres?

Ilustrasi Wanita Stres

Visione.co.id Tulisan ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada para Ibu mengapa wanita gampang stres?, ada masalah sedikit gampang stres, ada persoalan anak-anak gampang stres, ada persoalan rumah tangga yang tidak segera diselesaikan juga gampang stres dan masih banyak hal-hal lain yang membuat Ibu-ibu gampang stres.

Oleh karena itu, kita harus mengetahui lebih dulu definisi stres itu apa?, penyebabnya  dan bagaimana mengatasinya. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang stres, berikut akan diulas secara sederhana apa itu stres.

Stres adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stres dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. (Herdiyani Dedeh, 2013). Respons itu muncul sebagai akibat dari tekanan-tekanan yang terus menerus terjadi sehingga timbullah ketegangan fisik, mental, psikis maupun emosional.

Mengapa wanita lebih rentan terhadap stres daripada pria?

Pada dasarnya  wanita mampu memproduksi hormon yang menyebabkan stres pada saat-saat mengalami kecemasan. Neuroscientists menyebutkan bahwa otak wanita lebih sensitif untuk memproduksi hormon yang dapat memengaruhi tingkat stres. Ayo kita lihat apa saja penyebab stres yang perlu diketahui agar anda dapat memahami  dengan baik gejala-gejalanya, dengan demikian anda dapat menghindari  atau mengantisipasi dampak yang akan terjadi.

Perlu Ibu-ibu ketahui bahwa stres dapat membuat kita menjadi kurang produktif, malas-malasan, rasa sakit di kepala, gangguan pencernaan dan gangguan-gangguan mental lainnya dan apabila berlanjut bisa menjadi gangguan yang lebih berat, misalnya sering bicara sendiri, tiba-tiba menangis tanpa sebab, teriak-teriak sendiri dan banyak gejala lainnya yang terjadi diluar kesadaran.

Stres menurut Abi Ilham (2007) antara lain: Menjadi mudah tersinggung dan marah terhadap teman, keluarga dan kolega; Bertindak secara agresif dan defensif; Merasa selalu lelah ; Sukar konsentrasi atau menjadi pelupa; Palpitasi atau jantung berdebar-debar; Otot-otot tegang;  Sakit kepala, sakit perut dan diare; Komplikasi – Tekanan darah tinggi dan serangan jantung; Sakit mental, hysteria; Gangguan makan seperti hilang nafsu makan atau terlalu banyak makan; Tidak bisa tidur (insomnia); Migren/kepala pusing; Sakit maag; Serangan asma yang tambah berat; Ruam kulit, dll

Stres merupakan bentuk-bentuk ketegangan fisik maupun mental, dimana sumber stres disebut stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stres, disebut strain. Dengan demikian Ibu-ibu telah tahu sedikit tentang stres, tingkatan stres, serta gejala-gejala yang ditimbulkannya.

Stressor atau sumber-sumber stres dapat diklasifikasikan menjadi stressor internal yang berasal dari dalam diri sendiri sedangkan stressor eksternal berasal dari luar atau lingkungannya. Yang berasal dari diri sendiri misalnya karena mengubah pola makan atau diet, baru datang bulan atau menstruasi, putus cinta, dll. Sedangkan yang berasal dari luar atau lingkungan misalnya pekerjaan di kantor yang menumpuk , mutasi yang tidak sesuai dengan yang diinginkan, kena marah atasan/boss, terkena PHK, situasi keuangan yang tidak mendukung, dll. Hampir semua karyawati pernah mengalami stres dalam pekerjaannya walaupun stres tersebut tingkatannya ringan.
Untuk stres yang tingkatannya ringan, sedang atau berat cara mengatasinya juga sesuai dengan gejala-gejala ketegangan yang ditimbulkannya. Yang ringan mungkin bisa diatasi sendiri maupun konsultasi dengan teman, orang yang dapat dipercaya  maupun saudara dekat. Stres yang tingkatannya sedang tentu saja penanganannya akan lebih sulit daripada stres ringan mungkin perlu konseling atau upaya-upaya lainnya. Sedangkan stress yang tingkatannya berat perlu penanganan serius dan seyogyanya segera menghubungi psikolog maupun psikiater karena mungkin diperlukan obat-obatan untuk mengurangi ketegangan yang terjadi. Biasanya stress baik pada tingkat ringan sampai berat akan melibatkan fisik, mental, maupun emosional.

Bagaimana Mencegah Stres?

Ibu-ibu tentu ingin tahu lebih jauh bagaimana cara-cara yang tepat untuk mencegah/menghindari terjadinya stres. Sebenarnya semua yang berawal dari diri sendiri tentu kita tahu bagaimana strategi menghindari stres, antara lain; Belajar untuk menerima apa adanya dan mencintai diri sendiri; Sesuaikan kemauan dengan kemampuan yang ada dalam diri kita baik berupa finansial maupun non finansial; Atur dengan baik pola hidup maupun pola makan; Berusaha bisa mengendalikan diri utamanya pengendalian emosi (cerdas emosi); Hati-hati dalam membuat keputusan, baik yang sifatnya mendesak maupun jangka panjang; Lebih banyak bersosialisasi dengan orang lain, misalnya ikut arisan, ikut kegiatan organisasi, ikut kegiatan keagamaan, membangun jejaring bisa melalui WA, BBM, Facebook, linkedlin, dll, yang tujuannya bisa menjalin pertemanan baik dalam suka maupun duka; Pererat hubungan keluarga baik kegiatan di rumah, maupun diluar rumah, misalnya rekreasi bersama, makan-makan bersama di restoran maupun tempat makan bersama yg menyenangkan.

Apabila Ibu-ibu sudah bisa menjalankan hal-hal tersebut diatas dengan baik, walaupun mungkin tidak semua hal bisa dilakukan, diharapkan ketegangan-ketegangan atau stressor akan mudah dihindari. Semua tergantung bagaimana Ibu-ibu bisa menyikapinya dengan baik.

Bagaimana Pengelolaan Stres?

Manajemen stres adalah kemampuan seseorang untuk mengatasi secara efektif ketegangan-ketegangan mental dan emosional yang terjadi sehubungan adanya tekanan-tekanan yang ada dalam diri seseorang tersebut. Mengutip  pendapat John Medina, Ph.D., director of the Brain Center for Applied Learning Research at Seattle Pacific University dalam, bahwa dengan kreatifitas, produktifitas, motivasi serta hal-hal lain yang berkaitan dengan system immune (kekebalan) yang ada di dalam tubuh kita, akan sangat mengurangi stres.

Selanjutnya Ibu-ibu perlu mengetahui zona-zona stres yang tingkatannya ringan maupun zona-zona yang tingkat stressnya tinggi.Untuk mengetahui sampai di tingkat/level stress berapa, hanya diri sendiri yang tahu kira-kira seberapa ringan atau berat stress yang dialami.

Apabila Ibu-ibu sedang dalam kondisi stres, banyak tekanan-tekanan dalam diri Anda, maka  upayakan untuk segera mengatasinya, apabila tidak bisa mengatasi sendiri Anda bisa meminta solusi dari teman, saudara, keluarga atau orang-orang yang dapat Anda percaya. Anda tidak hidup sendirian, banyak kawan, saudara dan handai tauladan yang siap membuka kedua tangannya untuk membantu mencarikan solusi yang terbaik.

Dengan rajin melakukan kegiatan olah raga, fitness, maupun kegiatan fisik sehubungan dengan berolah raga akan sangat membantu mengurangi berbagai tekanan-tekanan yang terjadi dalam diri kita. Ibu-ibu akan merasakan tubuh menjadi lebih fresh dan lebih sehat dengan tetap melakukan olah raga secara rutin, baik di rumah, di kantor, maupun di tempat kita sering bertemu dengan Ibu-ibu yang lain misalnya kegiatan organisasi dimana Ibu-ibu beraktifitas. Semoga tulisan ini bisa memberikan tambahan pengetahuan bagi Ibu-ibu untuk menjalani kehidupan ini dengan penuh semangat dan bahagia. Mensana in corpore sano, didalam tubuh yang sehat akan terpancar jiwa yang sehat. Selamat beraktifitas Ibu-ibu semuanya, selalu semangat…….

*Penulis adalah Pengurus IKAWATI Kementerian ATR/BPN RI

TAG BERITA

Comment