Seni

Senin 22 Februari 2016 | 09:53 WIB

Laporan: Amir Fiqi

Keroncong Musik Perjuangan yang Tersisihkan

Keroncong Tugu.

Kendati keroncong bukanlah musik asli Indonesia. Musik yang berakar dari bangsa Portugis ini memiliki sejarah tersendiri. Di masa-masa perjuangan musik keroncong berkembang pesat dan mampu melahirkan lagu-lagu yang kental semangat nasionalisme.

Seiring berjalannya waktu,  eksistensi musik keroncong di Indonesia berlahan tapi pasti tergerus  oleh perubahan zaman yang memaksa masyarakat Indonesia mengubah kiblat aliran musiknya dengan lebih menggandrungi aliran-aliran musik moderen seperti pop, rock, blues, jazz dan aliran musik moderen lainnya. Bahkan lebih miris, musik keroncong bisa dikatakan mati suri karena tak lagi memiliki tempat yang luas di hati masyarakat Indonesia.

Jika melihat rekam sejarah perjuangan dalam merebut kemerdekaan Indonesia, musik keroncong memberikan makna sendiri pada perjuangan bangsa untuk terbebas dari kungkungan  penjajah. Meskipun musik keroncong memiliki irama yang halus dan lambat, jenis musik ini mampu menghipnotis rakyat Indonesia untuk bangkit dan bergerak melawan imprialis. Tak pelak, musik keroncong bisa dikatakan mampu menyisipkan unsur-unsur kepahlawanan dan memupuk rasa nasionalisme kepada jiwa anak muda pada masa itu.

Musik keroncong tidak bisa dipisahkan dari bagian sejarah bangsa Indoensia. Pasalnya, lagu-lagu yang dihasilkan mampu memberikan semangat perjuangan dalam usaha merebut kemerdekaan. Hal itu tercermin dari karya-karya yang dicipta oleh maestro keroncong seperti Ismail Marzuki dan Kusbini (Pencipta lagu Bagimu Negeri) yang dinilai berhasil menciptakan lagu-lagu fenomenal yang mampu membangkitkan semangat nasionalisme dan rasa cinta tanah air.

Apabila merunut sejarah asal mula lahirnya jenis musik keroncong, sejatini jenis musik memiliki hubungan sejarah yang panjang dengan jenis musik yang berasal dari Portugis yang dikenal sebagai fado dan mulai berkembang pesat di Nusantara sejak abad ke-19. Seperti dikutip dari berbagai sumber,  awal mula hadirnya musik ini sebenarnya mulai ada di Nusantara sejak akhir abad ke-16 yang pada awalnya dimainkan oleh  para budak dan opsir Portugis dari daratan India (Goa) serta Maluku. Bentuk awal jenis musik ini dinamakan moresco, yang diiringi oleh alat musik dawai. Dalam perkembangannya jenis musik ini mendapat pengaruh dari unsur-unsur musik tradisional Nusantara, seperti penggunaan seruling serta beberapa komponen gamelan.

Seiring berjalannya waktu, sekitar  abad ke-19 musik yang telah dikombinasi alat-alat musik tradisional Nusantara ini mendapatkan tempat yang luas di bumi Nusantara. Sehingga pada masa itu keroncong menjadi musik yang sangat populer bahkan hingga ke Semenanjung Malaya. Masa keemasan ini mampu bertahan hingga masa pemerintahan Orde lama, sekitar tahun 1960.

Eksistensi musik keroncong mulai meredup akibat masuknya gelombang musik populer (musik rock yang berkembang sejak 1950, dan berjayanya musik Beatle dan sejenisnya sejak tahun 1961 hingga sekarang). Meskipun meredup, kehadiran musik keroncong di Indonesia tidak sepenuhnya punah, ia masih tetap dimainkan dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia dan Malaysia hingga sekarang, meskipun sangat minim penggemar.

Redupnya musik keroncong dari belantika musik Indonesia ini akibat tidak mampunya musik keroncong mengikuti perkembangan zaman yang lebih dinamis. Musik keroncong dinilai lamban dan tidak mampu menyesuaikan tuntutan perubahan zaman. Berbeda dengan musik moderen terlihat lebih energik dan kreatif.  Sehingga kehadirannya memperoleh respon cepat dari masyarakat Indonesia. Mengutip pendapat Harmunah dalam bukunya yang berjudul “Musik Keroncong” ia menyatakan tersisihnya musik keroncong dalam belantika musik Indonesia karena jenis musik ini cenderung lamban dan malas. Sehingga masyarakat enggan untuk menjadikan musik ini sebagai hiburan. Sehingga apa yang terjadi? Meskipun keroncong memiliki akar sejarah yang kuat, saat ini jarang sekali masyarakat Indonesia yang mengenali jenis musik ini. 

Musik keroncong merupakan salah satu cabang seni pertunjukan yang hidup, serta berkembang di bumi nusantara. Sehingga ini merupakan salah satu seni yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Pada masa pergerakan dan awal masa kemerdekaan  musik keroncong merupakan musik yang populer. Sehingga keroncong menguasai perusahaan rekaman yang pada masa itu masih dalam bentuk piringan hitam atau pita kaset. Selain itu musik keroncong juga selalu mengudara melalui radio ketika radio mulai mengudara pada tahun 1925 di Jawa. Sehingga menjadikan musik ini menjadi hiburan utama rakyat Indonesia.

Kusbini sebagai tokoh dan pelaku yang berkecimpung dalam perjalanan musik keroncong telah melakukan penyebaran musik keroncong melalui siaran radio di Surabaya dari tahun 1933 sampai 1939 di N.I.R.O.M. (Netherlandsch Indische Radio Omroep Maatschappy) C.I.R.V.O. (Chinesche Inheemsche Radioluisteraars Vereniging Oost Java), Kemudian di Jakarta pada tahun 1942 – 1945 di radio Hosokanrikyoku dan di keimin Bunka Sidosho pada penjajahan jepang. Pada saat itu pula, Jepang membantu dalam memperbesar spirit dalam nasionalisme bangsa Indonesia.

Sehingga kegiatan orkes keroncong tampak maju pesat di kota Jakarta, dari tahun ke tahun selalu ada kegiatan yang menuju kearah kemajuan. Menurut Abdullah pimpinan live java mengatakan bahwa sejak tahun 20-an hingga di jaman penjajahan Jepang, setiap tahun Jakarta selalu mengadakan Fadel Concours yang dikenal dengan sebutan Fadel Concours Pasar Gambir (sekarang Jakarta Fair). Kegiatan ini berupa lomba grup keroncong.

Tahun 1950-an, setelah selesai perang dan Jakarta aman, kegiatan keroncong dialihkan di RRI (Radio Republik Indonesia) dengan istilah “Bintang Radio”. Di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, diadakan lomba keroncong seperti pendahulunya Fandel Concour yang diadakan tiap dua tahun sekali. Selain di Jakarta, kota – kota lain seperti Yogyakarta, Semarang dan Surakarta mengalami perkembangan musik keroncong yang pesat. Orkes keroncong dari Yogyakarta, surakarta dan semarang banyak yang ikut dalam festival–festival keroncong yang diadakan di Jakata.

Di Solo sendiri pada tahun 1960-an banyak sekali kelompok keroncong. salah satunya OK Bintang surakarta yang dipimpin oleh Waljinah Budi. Pada Tahun 1976 terbentuk organisasi sebagai wadah untu semua artis dan musisi keroncong yang bertujuan sosial dan memperhatikan perkembangan musik keroncong, yang disebut HAMKRI (Himpunan Artis Musisi Keroncong Indonesia).

Seiring berjalannya waktu, di akhir abad ke XX dan awal abad ke-XXI, musik keroncong mulai terhimpit oleh musik – musik lain. Perusahaan rekaman mulai banyak menampilkan musik –musik lain, selain itu juga usaha – usaha beberapa media untuk meningkatkan musik keroncong juga mulai redup, hanya ada stasiun televisi nasional (TVRI), AdTV, Jogja TV, dan hanya beberapa dari stasiun TV lokal saja yang masih menyiarkan. 

Meskipun terlihat mati suri, usaha-usaha untuk menghidupkan kembali kejayaan musik keroncong ini tetap dilakukan. Hal itu terlihat  ada keinginan di kalangan anak muda sekarang untuk kembali menghidupkan musik keroncong, terutama di Jogja yang mulai terlihat ada peningkatan dibanding dengan tahun – tahun sebelumnya.

Di empat tahun terakhir ini ada sebuah pertunjukan musik keroncong tahunan yang bertema “Simphony Kerontjong Moeda”, kegiatan ini membuat beberapa perkembangan di dalam musik keroncong, yaitu dengan memadukan beberapa lagu ber-genre pop, jazz, hingga rock dengan keroncong.

Kegiatan ini di selenggarakan oleh beberapa kalangan anak muda yang gelisah melihat perkembangan musik keroncong di jaman sekarang yang sangat memprihatinkan. Hal ini seharusnya dapat menjadi contoh atau memotivasi masyarakat luas Indonesia khususnya anak muda untuk melestarikan dan mencintai musik keroncong, agar keroncong selalu berkembang dan eksis di dunia musik Indonesia. Semoga.  

TAG BERITA

Comment