Opini
Jumat 08 Oktober 2021 | 00:32 WIB
Laporan: Nur Rizky Aulia
Perkembangan Disruptive Innovation di Indonesia Pada Era 4.0
Nur Rizky Aulia. Mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
Disruptive Innovation ialah inovasi dalam mengembangkan produk atau jasa yang sudah ada sebelumnya dimana inovasi ini bisa menggantikan pasar lama dengan ide bisnis yang lebih baru, kreatif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Disruptive Innovation ini membawa banyak manfaat bagi masyarakat dan membawa tantangan bagi pelaku usahanya.
Konsep Inovasi distruptive ini sudah ada sejak tahun 1942 dengan istilah awal creative distruption yang dikemukakan oleh Joseph A. Schumpeter dan pada tahun 2003 istilah disruptif ini diganti menjadi Disruptive Innovation oleh Christensen dan Raynor, alasannya digantinya istilah tersebut yaitu karena inovasi tidak hanya terjadi pada produk tetapi bisa juga terjadi pada jasa model bisnis seperti department store, jasa penerbangan, bisnis pendidikan online dan lain sebagainya.
Perkembangan Disruptive Innovation di Indonesia. Inovasi ini menjadi pusat perhatian di Indonesia khusunya pada tahun 2010 ketika Nadiem Makarim mendirikan dan mengembangkan perusahaan yaitu GO-JEK yang dapat melayani jasa trasnportasi khususnya ojek yang berbasis teknologi informasi. Dalam waktu yang cukup singkat GO-JEK mampu berkembang dengan cukup pesat dan terkenal di berbagai kota Indonesia. Tercatat pada Februari 2018 sudah lebih dari 400.000 pengemudi termasuk didalamnya sepeda motor, mobil dan truk. GO-JEK menjadi perusahaan layanan jasa berbasis teknologi terbesar di Indonesia dengan nilai perusahaan sekitar 5 miliar dollar AS dikutip dari sumber Jakarta Globe pada tahun 2018. Mengapa bisa demikian? Karena di Indonesia sendiri banyak masyarakat dari berbagai kalangan yang menggunakan jasa transportasi umum, dengan adanya GO-JEK ini masyarakat lebih mudah untuk mengakses transportasi umum dengan menggunakan Handphone. Disamping harganya yang lebih relatif murah dibandingkan dengan ojek pangkalan, GO-JEK juga memiliki kepastian yang handal karena sudah ditentukan melalui aplikasi sehingga tidak perlu tawar menawar. Saat ini telah berkembang banyak sekali aplikasi online yang melayani berbagai macam keperluan seperi GO-BOX, GO-FOOD, GO-MART, GO-PAY dan lain lain.
Tentunya dengan munculnya GO-JEK ini, Ojek biasa mulai merasa tersaingi dan terjadi kecemburuan sosial serta tidak terima dengan kondisi seperti ini karena menyebabkan menurunnya omset harian. Situasi ini terjadi karena masyarakat lebih memilih tarif yang lebih murah. Dengan perkembangan berbagai macam layanan berbasis teknologi tersebut mengakibatkan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya. Namun, di era 4.0 ini kita yang harus mengikuti perkembangan teknologi seiring dengan berkembangnya zaman yang saat ini serba digital. Tentu dalam hal ini ojek pangkalan kalah saing dengan GO-JEK.
Selain dibidang jasa trasnportasi, Disruptive Innovation juga terjadi pada department store Terlebih lagi di masa pandemic virus covid-19 ini, banyak masyarakat yang lebih memilih belanja online melalui gadget saja skemanya cukup mudah yaitu:
1. Memilih produk yang diinginkan
2. Check out produknya
3. Dan step terakhir menunggu hingga barangnya diantar ke rumah.
Kemudahan tersebut membawa ancaman bagi department store. Salah satu alasan masyarakat lebih memilih belanja online daripada offline yaitu karena pemberian discount serta gratis ongkir yang diberikan pihak e-commerce. Dan pada perbandingan ini department store offline kalah dengan aplikasi belanja online sebut saja seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, dan lain sebagainya.
Disruptive Innovation ini tidak bisa dihindari, namun kita bisa mengikuti perkembangannya sejalan dengan perkembangan teknologi dan makin kompleksnya kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu sebagai insan millennial khususnya bagi pelaku usaha harus selalu update terkait dengan perkembangan teknologi agar bisa menciptakan ide-ide bisnis yang lebih modern.
* Penulis adalah Mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
*Segala bentuk isi tulisan menjadi tangung jawab penulis

Comment