Opini

Kamis 19 Oktober 2017 | 17:26 WIB

Laporan: Indayu Bugis

Akankah Neraca Perdagangan Mengalami Surplus

Indayu Bugis adalah Mahasiswa program Studi Manajemen FEB-UHAMKA

Neraca perdagangan ditentukan dari ekspor neto, yaitu ekpor dikurangi impor. Neraca perdagangan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi neraca perdagangan antara lain; biaya produksi; bursa pergerakan nilai; multilateral, bilateral, unilateral pajak atau pembatasan perdagangan.

Sejak april lalu, neraca perdagangan mengalami defisit mencapai US $1,63. Menurut kepala BPS Suhariyanto yang menyatakan defisit tersebut dipicu oleh impor yang meningkat tajam, sehingga terjadi defisit pada sektor migas sebesar US $1,13 miliar dan non migas US $495 juta.

Situasi perdagangan dunia kini masih tidak menentu, seperti negara–negara tujuan utama masih menahan permintaan akan bahan baku. Oleh karena itu permintaan akan barang-barang migas dan non migas sedikit menurun.

Menurut suhariyanto, keputusan China menahan permintaan akan barang-barang yang di ekspor Indonesia membuat ekspor Indonesia ke China turun, yaitu dari US $2,4 miliar menjadi US $1,8 miliar. Turunnya ekspor bahan baku dari Indonesia ke China mencapai 22,81%.

Setelah beberapa kali mengalami defisit, neraca perdagangan akhirnya mengalami surplus mencapai US $1,74 miliar. Menurut Kepala BPS Suhariyanto, ia mengumumkan nilai ekspor RI pada juni 2018 mencapai US $13 miliar sedangkan impor sebesar US $11,26 miliar.

Dalam enam bulan pertama 2016, nilai ekspor tumbuh 10,03% menjadi US $88,02 miliar dibanding enam bulan pertama di tahun sebelumnya. Sementara nilai impor tumbuh 23,1% menjadi US $89,04 miliar. Dalam semester tahun 2018 ini neraca perdagangan Indonesia masih mengalami defisit sebesar US $1,7 miliar atau sekitar Rp 24,3 triliun.


Sejak Oktober 2017 impor barang seperti mesin dan pesawat mekanik, mesin dan peralatan listrik, besi dan baja turun lebih dari 50%. Turunnya impor ini membuat kinerja impor di bulan Juni menyusut cukup dalam.

Di bulan Juli 2017, neraca perdagangan mengalami defisit. Dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia sepanjang bulan Juli 2018 mengalami defisit sebesar US $2,03 miliar.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik mencatat posisi ekspor Indonesia pada bulan Juli 2018 sebesar US $16,24 miliar atau naik sebesar 25,19% dibandingkan pada bulan Juni 2018. Ekspor ini disumbangkan dari sektor migas sebesar US $1,43 miliar dan non migas US $14,81 miliar.

Posisi neraca perdagangan dari bulan Januari hingga bulan Juli 2017 tercatat defisit. Karena hingga bulan Juli, neraca perdagangan Indonesia sudah mengalami defisit sebanyak 5 kali. Di bulan Mei dan Juni 2018, neraca perdagangan sempat megalami surpul.

Menurut kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto, ia menyebutkan bahwa defisit neraca perdagangan dari bulan Juli 2018 lalu turun cukup tajam mencapai US $2,03 miliar. Penyebab defisit neraca perdagangan pada bulan Agustus 2017 berbeda dari bulan Juli lalu yang disebabkan oleh migas dan non migas. Di bulan Agustus defisit neraca perdagangan hanya disebabkan oleh satu sektor saja, yaitu sektor migas.

Seiring dengan berbagai kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah seperti mengidentifikasi berbagai komoditas di dalam negeri yang bisa di substitusi, serta penerapan biodiesel 20% (B20) mampu membantu menekan impor dan memperbaiki neraca perdagangan Indonesia.

Indayu Bugis adalah Mahasiswa program Studi Manajemen FEB-UHAMKA

TAG BERITA

Comment