Opini

Jumat 22 Mei 2020 | 19:22 WIB

Laporan: Retno Wulansari

APLIKASI TEKNOLOGI REVOLUSI INDUSTRI 4.0 MENGAKOMODASI KEBUTUHAN “ THE NEW NORMAL”

RetnoWulansari, S.E., M.M. Dosen Manajemen Universitas Pamulang

“The new normal”,  istilah baru yang sedang viral disaat pandemi COVID-19, secepat virus yang gemanya mendunia dan sampai di Indonesia. Generasi Milenial maupun Generasi Z, berlomba-lomba mengungggah foto-foto kegiatan WFH (work from home), dan kegiatan belajar mengajar pada sosial media, dengan tagar (hastag) “my new normal, how about your new normal?”.

Sekilas, istilah ini sederhana, akan tetapi bermakna luas dan dalam jika kita kaji dari berbagai sektor. Sektor pendidikan misalnya, kegiatan normal sebelum pandemik Covid-19 dilakukan secara tatap muka (face to face/ftf),  saat ini “the new normal” adalah belajar mengajar melalui daring, dengan menggunakan aplikasi video conference seperti menggunakan Zoom Meeting, Sisco WebEx, Google Meeting, Microsoft Team, Whatsapp, Slack, Go To Meeting, Face Time dan Jitsi.  Aplikasi ini dapat mengakomodasi kebutuhan kegiatan belajar dan mengajar jarak jauh, di tingkat sekolah, maupun universitas. Pelajar maupun mahasiswa, cukup menekan tombol “joint meeting”, sudah dapat terkoneksi dengan guru ataupun dosen serta teman-teman di kelasnya. Sebelum adanya penerapan“social distancing”,semua aplikasi ini diketahui keberadaanya, tetapi tidak menjadi aplikasi kebutuhan utama dalam menunjang kegiatan mereka. Dari tidak mengenal, tidak pernah menggunakan, serta gagap tekhnologi, kini menjadi pengguna utama. Dosen, dan pakar-pakar pendidikan, berlomba-lomba memanfaatkan aplikasi video conference ini untuk acara “sharing knowledge”dalam forum  webminar, seakan, tiada hari tanpa webbinar.  Saya konsultan dan dosen, Webbinar adalah “my new normal”, bagaimana dengan “Your New Normal”?

Dari sisi bisnis, perusahaan-perusahaan menerapkan WFH (work from home), dimana karyawan dapat tetap produktif , walaupun bekerja dari rumah. Dukungan tekhnologi, seperti aplikasi video conference, dapat mengakomodasi kebutuhan meeting maupun diskusi dengan team dan pelanggan, tentunya diperlukan aplikasi perangkat lunak (software) berbayar yang mempunyai tingkat keamanan yang mumpuni, menjamin kerahasiaan data dan informasi. Aplikasi-aplikasi perangkat lunak yang aman di install pada perangkat laptop maupun telepon seluler karyawan, untuk dapat mengakses email resmi perusahaan,  system informasi dan operasi perusahaan. Implementasi system berbasis IoT (Internet of Things), Virtual Private Network (VPN), serta SSL (Secure Socket Layer) pada aplikasi Web perusahaan. Proses pengadaan bahan baku, pembelian, penagihan, serta tender, menggunakan system berbasis web. Aplikasi, ERP (Enterprise Resource Planning),  CRM (Customer Relationship Management), harus dapat diakses dari internet secara online, sehingga penggunaan layanan “cloud computing” menjadi kebutuhan.Perusahaan berkenalan dan akhirnya meminang aplikasi berbasis  “cloud computing” adalah “the new normal”. IT security dan cyber security harus di siapkan untuk dapat tetap menjaga keamanan data. Dunia bisnis memaksimalkan penggunaan sosial media seperti facebook, instagram, youtube, pinterest, twitter, linkedin  dan penggunaan existing market place sepertiTokopedia, Lazada, Bukalapak adalah “the new normal”. Semua kegiatan perusahaan ini berbasis teknologi, “Big data, IoT, Cloud, AI (Artificial Intelligent/Kecerdasan Buatan)”.

Teknologi-teknologi yang diaplikasikan pada “The New Normal” tersebut termasuk kedalam ciri-ciri dari teknologi pada revolusi Industri 4.0. Seperti kita ketahui, revolusi industry ini membuat perubahan besar terhadap cara manusia di dalam mengolah sumber daya dan memproduksi barang, serta berdampak kepada kondisi sosial, ekonomi dan budaya dunia.  Perjalanan revolusi industri 1.0 sampai dengan industri 4.0, mempunyai “key word “, dalam perkembangannya.  Revolusi industry 4.0, terjadi pada abad ke-18, dengan key word “Mesin uap” yang ditemukan oleh James Watt. Mesin ini mengubah industri, terutama industry tekstil, dan transportasi,  pada awalnya sangat bergantung pada tenaga manusia, hewan, tenaga angin dan tenaga air. Kapal-kapal perang mulai menjelajah keseluruh penjuru dunia, dan mulai menjajah kawasan-kawasan kerajaan. Revolusi industri 2.0 dengan key word “Listrik”. Ditemukannya listrik ini, merupakan revolusi besar. Tenaga uap yang mencemari lingkungan, mulai tergantikan dengan tenaga listrik. Revolusi industri 3.0 dengan key word “Komputer dan Robot” dan revolusi industri 4.0 dengan key word, Big data, IoT (Internet of Things), Cloud Computing, Cognitive Computing dan AI (Artificial Intelligent/KecerdasanBuatan)”.

Tanpa kita sadari, “the new normal”, mempercepat implementasinya teknologi-teknologi aplikasi pada revolusi industri 4.0. Teknologi tersebut diperlukan, karena dapat mengakomodasi kebutuhan “the new normal”. Sebelum adanya pandemi, tekhonolog itersebut seakan hanya menjadi pilihan (option), tetapi bukan menjadi kebutuhan. Perusahaan-perusahaan yang sudah menerapkan tekhnologi berbasis cloud computing, dan IoT, tentunya tidak terlalu berdampak besar, saat karyawan harus bekerja dari rumah (WFH), dan berkegiatan dengan pelanggan berdasarkan remote atau virtual access, kegiatan tetap berjalan lancar, proses dapat dilakukan sesuai SOP (standar operasional prosedur).  Perusahaan-perusahaan IT Multinasional, sudah menerapkan WFH (Work From Home) jauh-jauh hari. Karyawan dapat menjalankan aktivitas pekerjaan lintas negara. Investasi pada teknologi dipandang mahal sebelumnya. Perancangan mitigasi dan  antisipasi penting di dalam strategi bisnis untuk menjamin kelangsungan bisnis. Penggunaan teknologi yang tepat adalah kebutuhan dan bukan lagi sebagai pilihan.

Pada sector kesehatan, mahasiswa UI menciptakan aplikasi End Corona untuk asesmen resiko Covid-19. Kolaborasi tepat dari dua disiplin ilmu berbeda, yaitu ilmu kedokteran dan ilmu komputer. Aplikasi ini dilengkapi fitur yang dapat membantu masyarakat dalam menghadapi Covid-19 di Indonesia. Salah satu fitur asesmennya adalah untuk mengetahui kondisi diri sendiri, mengenai resiko mengalami Covid-19. Keunggulan flatform ini adalah menggunakan teknologi cloud, sehingga lebih cepat dan “Zero” downtime. Ini adalah “the new normal” untuk masyarakat Indonesia, untuk self assessment dengan menggunakan aplikasi ini, sehingga diharapkan dapat memutus matarantai penyebaran Covid-19.

Kondisi dan situasi pandemi Covid-19, membuktikan mampu mempercepat penggunaan aplikasi teknologi revolusi industri 4.0 , dan tentunya aplikasi ini dapat mengakomodasi kebutuhan“the new normal”.

Comment