Opini

Selasa 20 Agustus 2019 | 17:30 WIB

Laporan: Irwan Boinauw, Bendahara Umum DPP IMM

Damai itu Indah

Documen: Irwan Boinauw, Bendahara Umum DPP IMM

Manusia adalah mahluk yang paling sempurna diciptakan oleh Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa. Dalam konteks ini perlu sebagai mahluk yang paling sempurnah sudah seharusnya kita meletakkan kesempurnaan kita diatas dasar kemanusiaan. Tidak boleh kita sesama mahluk Ciptaan Tuhan (manusia) memberikan penilaian buruk terhadap sesama, apalagi menggunakan nama pada hewan. Saya meyakini betul bahwa hampir semua kitab suci tidak pernah menyebutkan bahwa Hewan adalah sama bentuknya dengan Manusia, baik itu Islam, Kristen, Hindu, Budha, ataupun Khonghucu.

Oleh sebab itu, sebaiknya sebagai mahluk yang diberi akal, sudah barang tentu kita seharusnya menggunakan akal kita dalam berkomunikasi, jika akal kita sudah kita letakan pada tingkatan sebagai manusia, maka saya yakin hati dan lidah kita sudah tentu megeluarkan kata-kata yang indah, sopan dan menyejukkan kepada siapapun dan dalam kondisi apapun.

Dunia kita saat ini sedang  mengalami sebuah krisis keberagaman dan pluralitas yang serius begitulah kata Dr Ahmad Najib Burhani dalam buku Menemani Minoritas. Ada normalisasi intoleransi dan sikap diskriminatif pada kalangan minoritas. Apa yang disebut dalam konstitusi sebagai hak-hak yang sama sebagai warga negara sering kali tidak berlaku penuh untuk kelompok minoritas. Kondisi ini justru sering diperparah dengan munculnya political entrepreneur yang merepresentasikan kelompok minoritas sebagai “unsur asing” yang harus disudutkan ataupun dibersihkan dari tubuh negara.

Agama mengajarkan kita agar selalu menghormati sesama, mengajarkan bagaimana bertutur kata yang baik, dan bagaimana mengajarkan kita hidup yang damai. Tidak boleh ada rasisme di negeri ini!. Sangat disayangkan di negeri yang dikenal dengan Bhinneka Tunggal Ika ini, harus dinodai dengan hal-hal yang terjadi di masa-masa penjajahan. Apapun motifnya, agama tidak membenarkan hal demikian, kita harus mammpu mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan keadilan untuk mereka yang kuat, bukan pula keadilan untuk mereka yang mayoritas. Soekarno pernah berkata “ apakah kita hendak mendirikan Indonesia Merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan? Sudah tentu tidak! Bukan negera yang demikian itulah kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara”semua buat semua”.

Saya khawatir kondisi ini akan dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, sehingga kita akan di adu domba antara sesama anak bangsa. Untuk itu kepada kita semua, keamanan dan ketertiban bangsa ini adalah tanggung jawab bersama, tidak boleh ada yang merasa lebih memiliki daripada yang lain, hak kita sama sebagai warga negara Indonesia. Saya percaya betul kepada saudara-saudara saya Mahasiswa Papua baik yang ada di Surabaya maupun diseluru Indonesia, kami diajarkan bagaimana mencintai negeri kami Indonesia sejak dilahirkan hingga akhir hayat, olehnya itu kami berharap hal sama juga dilakukan oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Saya sangat menyesal ternyata masih ada orang yang menyamakan manusia dengan hewan, ini sungguh menodai diri kita sendiri sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang begitu sempurna. Kejadian di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya merupakan peringatan kepada kita semua, bahwa dalam kondisi apapuan sebaiknya menahan emosi dan bersabar itu adalah bentuk kemuliaan dari diri kita sebagai manusia. Kita tidak boleh membiarkan emosi menguasai diri kita, sebab belum tentu apa yang kita sampaikan dipahami oleh semua orang, apalagi kita tahu di negara kita Indonesia ini berkembang dari berbagai suku, ras, dan agama. Sudah tentu pemikiranpun akan berbeda-beda dalam memahami konteks yang kita sampaikan. 

Saya mengutuk keras kepada oknum aparat TNI yang melontarkan kata-kata Monyet kepada saudara kami Mahasiswa Papua di Surabaya. Seharusnya sebagai seorang aparat tidak boleh mengeluarkan kata-kata seperti itu, apalagi dia sebagai seorang aparat TNI, dia seharusnya memahami kondisi tersebut, kalaupun ada yang melakukan kesalahan sebaiknya diselesaikan secara arif dan bijaksana. Toh negara kita adalah negara Hukum yang hampir semua persoalan di atur dalam undang-undang.

Kepada seluruh warga Indonesia baik, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, TNI, Polri, atau siapapun itu, agar mampun memberikan kesejukan kepada masyarakat agar kondisi yang terjadi di Surabaya sehingga menimbulkan reaski negatif di Papua dan Papua Barat tidak terjadi lagi. Mengingat kita baru saja merayakan 74 tahun kemerdekaan Negara Republik Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Penulis adalah Irwan Boinauw, Bendahara Umum DPP IMM

TAG BERITA

Comment