Opini

Kamis 29 Nopember 2018 | 17:45 WIB

Laporan: Sigit Yudi Pratama

Apa Sih Penyebab dan Faktor-Faktor Fluktuatif Inflasi di Indonesia?

Sigit Yudi Pratama, Mahasiswi Program Studi Manajemen FEB Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Di dalam ilmu ekonomi, inflasi merupakan suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, meningkatnya likuiditas di pasar yang menyebabkan konsumsi atau spekulasi, dan termasuk juga akibat ketidaklancaran distribusi barang.

Sasaran atau target inflasi merupakan tingkat inflasi yang harus dicapai oleh Bank Indonesia, berkoordinasi dengan Pemerintah. Perencanaan target inflasi berdasarkan undang-undang mengenai Bank Indonesia dilakukan oleh Pemerintah. Di dalam Nota Kesepakatan antara Pemerintah dan Bank Indonesia, sasaran atau target inflasi ditetapkan untuk tiga tahun ke depan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Berdasarkan PMK No.93/PMK.011/2014 tentang Sasaran dan Target Inflasi tahun 2016, 2017, dan 2018 tanggal 21 Mei 2014 target inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk periode 2016 sampai dengan tahun 2018, nilai masing-masing sebesar 4%, 4%, dan 3,5%, dengan nilai deviasi masing-masing ±1%. Sementara itu, sasaran dan target inflasi 2019-2021 ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 124/PMK.010/2017, nilai masing-masing sebesar 3,5%, 3,0% dan 3,0%, dengan deviasi masing-masing ±1%.

Bank Indonesia (BI) memprediksi bahwa tingkat inflasi 2018 dapat mencapai 3,7%. Angka itu lebih tinggi dari target inflasi tahun ini sebesar 3,5% plus minus 1%. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat angka inflasi Juni 2015 sebesar 0,59%, lebih rendah dibandingkan tingkat inflasi di Lebaran 2014. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi Juli 2015 sebesar 0,28 persen. Serta inflasi tahun kalender tercatat sebesar 2,18% dan secara year on year tercatat sebesar 3,18%. Dari data tersebut, inflasi tersebut masih sesuai dengan target pemerintah.

Kepala Badan Pusat Statistik mengatakan tingkat inflasi pada Juli 2015 disumbang oleh kenaikan harga telor ayam, daging ayam dan bensin. Ketiga komponen tersebut, memberikan sumbangan inflasi masing-masing 0,08%, 0,07% dan 0,06%.

Dari hasil 82 kota di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS)  mencatat 68 kota mengalami inflasi, dan 14 kota deflasi. Tingkat Inflasi tertinggi terjadi di Sorong dengan angka 1,47%. Serta tingkat inflasi terendah di Depok, Banyuwangi, dan Surabaya. Tingkat inflasi di tiga daerah itu sekitar 0,03%. Sementara itu, tingkat deflasi tertinggi di Ambon mencapai -1,45% dan tingkat deflasi terendah di Palembang sebesar -0,01%.

Bank Indonesia (BI) dalam menetapkan target inflasi mempertimbangkan beberapa indikator yang sesuai dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dapat didorong dengan cara memperkuat fundamental perekonomian Indonesia. Salah satu indikator kuat lemahnya perekonomian adalah cadangan devisa negara. Cadangan devisa negara memiliki peranan penting dalam perancangn dan evaluasi kebijakan makro saat ini maupun masa datang.

Di negara-negara yang menggunakan nilai tukar dapat menggunakan cadangan devisa untuk mempertahankan daya saing sektor perdagangannya. Salah satunya yang menjadi perhatian dalam masalah perdagangan luar negeri Indonesia adalah ekspor, sebagai salah satu sarana dalam membangun perekonomian Indonesia.

Negara yang sedang dalam proses memajukan perekonomiannya akan berusaha agar cadangan devisa yang dimilikinya terus meningkat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan berusaha meningkatkan ekspor. Salah satu hal yang harus diperhatikan, cadangan devisa negara yang tidak terkendali bisa berdampak sebaliknya bagi perekonomian nasional.

Perekonomian dan tingkat penjualan yang tidak stabil dalam sebuah negara dapat menimbulkan inflasi. Kondisi inflasi ini sangat dihindari oleh negara karena dapat memicu terjadinya krisis ekonomi ringan hingga berat. Berikut adalah beberapa penyebabnya inflasi dari data dan penjelasan diatas.

Demand Pull inflation (Inflasi Karena Permintaan)

Inflasi ini dapat terjadi karena permintaan atau daya tarik masyarakat yang kuat terhadap suatu barang. Inflasi terjadi karena munculnya keinginan yang berlebihan dari suatu kelompok masyarakat yang ingin memanfaatkan lebih banyak barang dan jasa yang tersedia di pasaran. Karena keinginan yang berlebihan, permintaan menjadi bertambah dan penawaran masih tetap, yang akhirnya dapat mengakibatkan harga menjadi naik.

Quantity Theory Inflation (Inflasi Karena Bertambahnya Uang yang Beredar)

Inflasi disebabkan karena meningkatnya uang yang beredar dikemukakan oleh kaum klasik yang menyatakan bahwa ada keterkaitan antara jumlah uang yang beredar dengan harga-harga. Apabila jumlah barang tetap tetapi jumlah uang yang beredar lebih besar dua kali lipat, maka akan terjadi harga barang menjadi lebih mahal dua kali lipat.

Cost Push Inflation (Inflasi Karena Kenaikan Biaya Produksi)

Inflasi ini dikarenakan adanya dorongan kenaikan biaya produksi dalam jangka waktu tertentu secara terus menerus. Secara umum, inflasi kenaikan biaya produksi ini dikarenakan desakan biaya faktor produksi yang terus naik.

Mixed Inflation (Inflasi Campuran)

Inflasi campuran ini terjadi dikarenakan adanya kenaikan penawaran dan permintaan. Hal ini dapat terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan. Apabila permintaan terhadap suatu barang atau jasa bertambah, serta mengakibatkan penyediaan barang dan faktor produksi menjadi turun. Maka dari itu, substitusi atau pengganti untuk barang dan jasa tersebut terbatas atau bahkan tidak ada. Keadaan ini akan menyebabkan harga barang dan jasa menjadi naik. Inflasi dalam jenis ini akan sangat sulit diatasi atau dikendalikan ketika kenaikan supply akan suatu barang atau jasa lebih tinggi atau setidaknya setara dengan permintaan.

Structural Theory Inflation (Inflasi Karena Struktural Ekonomi yang Kaku)

Penyebab inflasi dari segi struktural ekonomi yang kaku. Produsen tidak dapat mencegah dengan cepat kenaikan permintaan yang diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk. Akhirnya permintaan akan sulit dipenuhi saat ada pertumbuhan jumlah penduduk.

Inti dari pembahasan diatas. Secara umum, inflasi merupakan kejadian atau gejala ekonomi yang tidak dapat dihilangkan secara tuntas. Bagi perusahaan, bagian keuangan yang akan mengalami dampak pertama kali dari adanya inflasi tersebut. Inflasi dapat memberi dampak yang besar jika tidak segera dilakukan pencegahan dengan kebijakan yang tepat.

Penulis adalah Sigit Yudi Pratama, Mahasiswa Program Studi Manajemen FEB Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Comment