Opini

Kamis 06 Desember 2018 | 10:39 WIB

Laporan: Rizka Utami Purwaningsih

Rupiah Melemah, sampai kapan?

Rizka Utami Purwaningsih, Mahasiswi Program Studi Manajemen FEB Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Rupiah melonjak jauh sampai di titik kritis yang hari ini mencapai Rp 14.000. Apa sebabnya? Pada tahun 2008, ekonomi Amerika Serikat mengalami krisis. Semenjak saat itu, mereka memperbaiki ekonomi dengan melakukan berbagai kebijakan salah satunya memperkuat Dollar. Akibat dollar menguat, membuat mata uang negara lain tertekan dan akhirnya melemah, salah satunya Rupiah.

Amerika memperbaiki ekonominya dengan sebuah kebijakan yang dinamakan Quantitative Easing yang diartikan sebagai suatu kebijakan yang dikeluarkan oleh bank sentral suatu negara untuk membangkitkan perekonomian negara tersebut dari masa krisisnya. Mereka memompa dollar baru dengan cara membeli obligasi yang mereka harap dapat memutar perekonomian menjadi lebih baik yang kemudian para investor, dananya banyak diinvestasikan ke negara-negara berkembang salah satunya Indonesia.

Setelah ekonomi membaik akibat kebijakan tersebut, mereka membuat kebijakan lanjutan yang dinamakan Tappering Off yang artinya bank sentral AS ingin mengurangi stimulus berupa pembelian obligasi itu secara bertahap. Kebijakan ini mengakibatkan para investor pulang ke Amerika dan membuat Dollar juga pulang sehingga membuat jumlah Dollar semakin sedikit dan nilainya semakin berharga juga menekan mata uang global khususnya bagi negara berkembang termasuk Indonesia.

Akibat Dollar menguat, perekonomian global menurun. Seperti Cina yang perekonomiannya sedang melambat, dan faktor-faktor lain menyebabkan komoditas ekspor andalan Indonesia seperti Batu Bara, Karet, Kelapa Sawit jadi anjlok. Apa akibatnya? Neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit, ekspor kita lesu, sedangkan impor terus berjalan.

Bank Sentral Amerika sedang membuat kebijakan menaikkan suku bunga yang hasilnya banyak investor berpindah kesana, sama dengan kalimat pada hukum permintaan “semakin banyak permintaan, semakin tinggi harganya” apalagi dengan Dollar Amerika yang menjadi alat transaksi dunia, efeknya pun kemana-mana termasuk membuat rekor sepanjang masa, meskipun Indonesia masih lebih baik dari banyak negara. Faktanya, negara kita termasuk yang aman dari krisis ekonomi dunia.

Bagaimana cara menyikapinya ?

Kita harus fokus kepada industri dalam negeri dan mengurangi bahan-bahan impor seperti Bahan baku, Bahan jadi yang bisa diproduksi di dalam negeri. Dan sebagai generasi kini juga harus bisa menghargai barang-barang lokal dan tidak selalu bergantung kepada barang impor. Mungkin saja dengan kita memberi kesempatan kepada para industri untuk mengembangkan para substansi, kita akan mengurangi ketergantungan kita dalam penggunaan barang impor dan kita bisa meningkatkan barang ekspor. 

Penulis adalah Rizka Utami Purwaningsih, Mahasiswi Program Studi Manajemen FEB Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Comment