Opini

Sabtu 19 Januari 2019 | 12:44 WIB

Laporan: Sugeng Riyanto

Refleksi Pendidikan Dan Kebudayaan

Dokumentasi Sugeng Riyanto

Pada diskusi kali ini penulis mencoba mengurai permalasahan pendidikan dan kebudayaan. Pendidikan bertujuan untuk mempertahankan dan memperbaiki sebuah kebudayaan yang berlangsung dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan mendapatkan nilai istimewa di masyarakat. Orang-orang menempuh pendidikan, akan mendapatkan nilai kehormatan lebih di tengah masyarakat.

Namun, itu adalah konsep bersosial di Indonesia sebelum Reformasi. Konsep itu juga sebagian masih berlaku di pelosok desa yang jauh dari ingar ingar kota. Orang-orang di pedesaan memandang setiap orang yang menempuh pendidikan adalah orang yang ahli dalam suatu bidang. Walaupun orang tersebut tidak mempelajarinya, tetap dipercaya. Jauh berbeda dengan masyarakat perkotaan yang cenderung individual. Pendidikan bagi masyarakat perkotaan  adalah sebuah tiket untuk menuju gerbang persaingan dunia kerja. Mereka berlomba untuk menjadi yang terdepan dalam barisan persaingan tersebut. Maka, pendidikan di masyarakat perkotaan sudah mengalami pergesaran fungsi dan esensi sebagai sebuah alat mempertahankan atau memperbaiki sebuah kebudayaan.

Pendidikan yang digadang-gadang dapat menjadi solusi untuk mempertahankan kebuyadaan bangsa mendapatkan tantangan yang begitu besar. Gempuran teknologi komunikasi membuka keran peradaban baru. Peradaban yang sangat cepat berubah, sangat cepat menyebar hingga sering kali pendidikan seolah dirasa kurang berperan dalam perubahan itu. Orang-orang lebih memilih membaca dan mencari informasi di dunia maya. Hal tersebut dirasa lebih mudah dan cepat untuk mencari sebuah informasi yang dibutuhkan. Teknologi komunikasi dan informasi mengubah peran dan fungsi guru yang dulu sebagai sumber ilmu kini menjadi fasilitator. Teknologi juga mengubah secara perlahan fungsi sekolah. Sekolah yang dulunya adalah ruang untuk melakukan transfer pengetahuan, kini menjadi ruang elaborasi pengetahuan siswa dan pengetahuan guru.

Di era ini, guru kurang tepat rasanya bila menganggap siswa sebagi gelas kosong atau kanvas polos seperti  dikemukan oleh John Locke yang dikenal dengan konsep tabula rasa. Filsuf ini adalah salah satu tokoh yang menggunakan pendekatan empirisme. Yang menjadi landasan pendidikan nasioal selama berpuluh-puluh tahun. Walaupun tidak semua dari konsep tabula rasa dan pendekatan empirisme salah. Namun, di lapangan pemahaman emipirisme sangat jauh dari arti sebenarnya, dan hanya mendapat pemaknaan kanvas polos (tabula rasa). Anak adalah kertas kosong dan guru adalah penanya yang berhak menorehkan sesuatu menyebabkan penafsiran baru. Guru memiliki kekuatan anti kritik yang cukup besar karena pengaruh teori ini. Guru cenderung mendewakan pengalaman, pikiran, dan pendapatnya kepada siswa. Hingga yang terjadi adalah doktrinisasi dalam dunia pendidikan.

Konsep doktrinisasi merupakan konsep  paling lemah dalam pendidikan. Kelemahanya terletak pada rasa percaya buta. Rasa percaya buta ini sangat mudah sekali dihancurkan ketika seorang siswa mengalami kejadian yang jauh berbeda dari doktrin awal. Dua hal empiris yang dialami oleh guru dan siswa di zaman yang berbeda tentu akan menghasilkan pandangan atau kesimpulan berbeda. Secara langsung hasil empiris yang dialami oleh siswa akan mengoyang doktrin yang ditanamkan oleh guru. Kelemahan doktrin di era revolusi 4.0 sangat nyata, di era kemajuan teknologi ini siswa sekolah dasar sudah mampu mencari informasi di dunia maya dengan mandiri dan itu artinya guru bukanlah sumber informasi yang berdiri tunggal. Dengan demikian, memaknai konsep empirisme yang dimaksud oleh John Locke adalah mengutamakan pengalaman siswa sebagai sebuah informasi yang nantinya dielaborasi di ruang kelas.

Dengan demikian, siswa bukanlah kertas kosong yang harus digores (doktrin) oleh guru. Fungsi guru adalah memberi warna dan merapikan pola dari pengetahuan awal yang dimiliki siswa. Pengetahuan-pengetahuan yang siswa dapat baik dari orang tua, lingkungan, dan pengalamannya harus diolah dengan baik.

Konsep pendidikan yang sangat terbuka ini mendorong sebuah perubahan yang sangat cepat. Perubahan ini sangat berpengaruh dengan kebudayan masyarakat. Namun, kita harus memahami arti kata kebudayaan terlebih dahulu. Kebudayaan yang berasal dari kata budaya. Budaya adalah gabungan dua suku kata “budi” yang berarti akal budi (baik sesuai dengan norma) dan “daya” yang berarti usaha atau kemampuan. Kata budi sering disematkan bersamaan dengan kata pekerti hingga menjadi budi pekerti yang artinya tabiat atau akhlak. Secara singkat budaya berarti hasil akal budi. Sementara kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan dari akal budi. Maka, secara //gambling// kebudayaan dapat dipengaruhi oleh proses pendidikan. Karena itu, pendidikan dan kebudayaan tidak dapat terpisahkan. Pendidikan adalah usaha mempelajari, mempertahankan, atau memperbaiki sebuah kebudayaan. Sementara kebudayaan menghendaki berlangsungnya sebuah pendidikan dalam upaya mempertahankan, mempelajari, dan memperbaikinya.

Yang sangat disayangkan sistem pendidikan menjelaskan kebudayaan secara parsial hingga terkesan kuno. Hal ini menyebabkan kurangnya daya tarik generasi baru (generasi milenial) dalam mempelajarinya. Diperparah lagi, dalam mempelajari sebuah kebudayaan, kita cendrung tekstual dan menggunakan literasi yang cukup tua dan kurang aktual, tanpa melibatkan konsep empirisme yang harusnya lebih diprioritaskan. Maka siswa cukup sulit mendapat informasi aktual yang berkaitan dengan perkembangan kebudayaan yang dipelajari. Pendidikan luar sekolah yang mengdepankan interaksi langsung sebenarnya lebih berkesan dibandingkan pendidikan di ruang kelas yang hanya mengandalkan buku bacaan.

Namun, terlepas dari cara pendidikan menjelaskan kebudayaan. Kebudayaan pun juga memiliki dampak yang kurang begitu baik. Pergeseran nilai-nilai budaya yang diakibatkan dari hasil dialektika di dunia pendidikan cukup mengkhawatirkan. Hal ini mengakibatkan orang-orang yang mencoba mempertahankan nilai adat, yang merupakan hasil dari kebudayaan cenderung menuding pendidikan adalah biang kerok dan bertanggung jawab atas pergeseran budaya. Orang-orang yang mempertahankan kebudayaan cenderung tertutup dari orang baru. Hal itu karena takut kebudayaannya akan dicampuri dan rusak oleh orang-orang baru akibat interaksi langsung yang terjadi.

Dalam permasalah ini sebenarnya pendidikan harus lebih nyata dan mendalam dalam hal memahami dan mempelajari kebudayaan. Sesuai dengan tujuan awal pendidikan. Di samping itu, orang-orang yang mempertahankan kebudayaan harus mencari alternatif baru dalam membuka diri, tanpa menghapus dan mengubah nilai-nilai luhur kebudayaan. Dengan keterbukaan orang-orang yang pertahankan kebudayaan, diharapkan orang-orang yang mempelajari kebudayaan tidak menduga-duga nilai luhur yang terkandung dalam setiap kegiatan dan kebijakan.

Namun, yang menjadi soal baru, benarkah kebudayaan mempertahankan kebudayaan untuk menanamkan nilai kebudayaan itu sendiri? Atau mungkinkah kebudayaan dipertahankan untuk mempertahankan “kebedaannya” hanya untuk menarik perhatian simpatik orang yang ada di luar kebudayaan itu sendiri? Bukan rahasia jika banyak orang tertarik dengan kebudayaan bangsa Indonesia, seperti keunikan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Semakin banyak orang yang tertarik dengan kebudayaan, makin banyak yang mempelajari kebudayaan tersebut. Hingga kebudayaan pun terjebak dengan prinsip kapital; untung dan rugi. Contoh yang sangat jamak di sekitar kita adalah banyaknya sanggar tari budaya yang mengutamakan profit ketimbang nilai-nilai luhur dan filosofis dalam tiap gerakannya. Ini baru satu contoh kecil mengapa muncul pertanyan pada awal paragraf ini. Belum lagi tempat pariwisata berlabel pelestarian budaya. Tentu ada motif ekonomi dalam upaya mempertahankan kebudayaan tersebut.

Akhirnya, diskusi ini diakhiri dengan pertanyaan sebagai bentuk refleksi bersama dari hubungan pendidikan dan kebudayaan. Dengan harapan pendidikan dapat lebih dalam dan holistik dalam mengenalkan kebudayaan dan kebudayaan dapat terbuka dalam menghadapi perubahan zaman. Kebudayaan juga harus mencari alternatif mempertahankan nilai-nilainya dengan pendekatan mutakhir.[]**Penulis adalah Purna Pemuda Sarjana Penggerak Pembanguan di Perdesaan Angkatan XXIV. Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Praktisi Pendidikan.

TAG BERITA

Comment