Nasional

Sabtu 28 Juli 2018 | 16:12 WIB

Laporan: Mumu

Dakwah Muhammadiyah Harus Lebih Dinamis

istimewa

VISIONE- Muhammadiyah berada dalam dinamika kehidupan kebangsaan dan keagamaan yang kompleks. Karakter Muhammadiyah sebagai organisasi tengahan dituntut untuk memerankan gerakan yang lebih dinamis, sesuai dengan konteks kehidupan yang dipenuhi oleh ragam aliran dan corak ideologi yang heterogen.

Begitu dikatakan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam kegiatan Dialog Ideopolitor Gelombang II, yang digelar Majelis Pendidikan Kader (MPK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, di Jayakarta Hotel, Yogyakarta Jum’at (27/7).

Haedar mengatakan, setelah muhammadiyah bergerak secara optimal dalam bidang pendidikan, sosial, kesehatan, ekonomi dan juga politik, maka kemudian perlu berfikir untuk memainkan peran dakwah dalam konteks kekinian yang lebih dinamis.

Dalam kesempatan menjadi Keynote Speech dalam acara itu, Ia mengungkapkan ada lima hal yang harus diperhatikan Muhammadiyah terkait dengan digelarnya acara dialog ini.

Pertama, terkait paham keislaman. Yaitu Perjuangan paham keislaman Muhammadiyah yang utama adalah al-ruju ila al-Qur’an wa al-sunnah. Menurut Haedar, Dalam hal memahami ajaran Islam dan penafsiran terhadapnya, Muhammadiyah senantiasa berpedoman pada prinsip manhaj tarjih.

Yang membedakan Muhammadiyah dengan gerakan purifikasi lainnya adalah bahwa Muhammadiyah selain melakukan purifikasi juga mengembangkan dinamisasi atau modernisasi. "Tajdid Muhammadiyah bergerak antara pemurnian dan juga pengembangan. Bagaimana kita tidak hanya fokus pada aktualisasi, namun juga meningkatkan perspektif kita dalam memahami Al-Quran, baik pada bayani, burhani, dan irfani,” papar Haedar.

Kemudian yang kedua, dimensi ideologis. Muhammadiyah dengan segenap manhaj dan ideologinya telah sangat mumpuni untuk memandu kehidupan warganya. Ke depan, Muhammadiyah harus membangun pranata-pranata sosial modern baru. “Kelebihan modern dakwah Muhammadiyah yakni menghasilkan gerakan amaliyah,” ungkapnya.

Ketiga, dinamisasi organisasi dan amal usaha Muhammadiyah (AUM). Amal-amal usaha Muhammadiyah sebagai pusat keunggulan perlu terus dihadirkan dalam semua aspek kehidupan dengan inovasi-inovasi. “Kita perlu melakukan pembaharuan organisasi dan aum, jangan merasa nyaman dengan apa yang kita miliki, kita harus memperluas jaringan dan pendirian AUM,” tutur Haedar. 

Keempat, dimensi peran keumatan, kebangsaan dan kemasyarakatan universal. Dengan karakternya yang moderat, Muhammadiyah bisa menjadi jembatan bagi segenap gerakan dan kelompok lainnya. “Muhammadiyah harus bisa mengambil peran dalam keumatan, kebangsaan, dan kemasyarakatan secara universal. Kita coba memberi pandangan dan orientasi keislaman di tengah konteks kekinian dan masa depan,” jelasnya

Sementara Kelima, yaitu strategi perjuangan. Langkah dakwah Muhammadiyah dilakukan secara kultural. Adapun dalam ranah politik, Muhammadiyah dipandu oleh khittah. “Muhammadiyah secara organisasi tidak berada pada perjuangan politik praktis, tetapi Muhammadiyah mendorong kader-kader untuk mengambil peran-peran kebangsaan,” tandasnya.

Dalam acara tersebut turut hadir Ketua PP Muhammadiyah Dahlan Rais, Sekretaris PP Muhammadiyah Agung Danarto, dan juga Ketua MPK PP Muhammadiyah Ari Anshori.

Comment