Opini

Minggu 19 Nopember 2017 | 18:04 WIB

Laporan: Sahrul Umami

Pembelajaran Karakter Melalui Media Sosial

Sahrul Umami adalah Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Pembelajaran karakter menjadi sentral tema sejak beberapa tahun terakhir dalam perkembangan pendidikan di Indonesia ini. Pembelajaran karakter pada peserta didik harus diterapkan sejak dini. Hal ini diletarbekangi oleh pemikiran masyarakat dan pemerhati pendidikan yang menganggap bahwa pendidikan hanya mampu melahirkan lulusan-lulusan manusia yang berintelektualitas, menakjubkan, namun sikap dan perilaku peserta didik masih memperihatinkan.

Pembelajaran karakter ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan pada pasal 3, yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pada dasarnya dalam kegiatan pembelajaran karakter peserta didik harus menguasai kompotensi (materi) yang ditargetkan, juga dirancang dan dilakukan untuk menjadikan peserta didik mengenal, menyadari atau peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai, serta menjadikannya perilaku yang baik. Pembelajaran karakter ini bisa melalui semua mata pelajaran yang ada di sekolah seperti Pendidikan Agama Islam (PAI), PKN, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sejarah, Sosiologi, dan sebagainya.

Melihat pada masa sekarang, khususnya peserta didik banyak yang terbuai dengan hiburan tidak sehat dan merugikan bagi masa depan mereka, misalnya penyalahgunaan media jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Line, Instagram, WhatsApp, dan sebagainya. Berdasarkan masalah di atas, guru harus berusaha untuk mengembangkan kreativitas peserta didik dalam menuangkan gagasan, suasana hati, ide, dan pikirannya. Guru bisa memulai dengan memanfaatkan media-media sosial yang ada khususnya Facebook. Karena Facebook merupakan website jaringan sosial yang para penggunanya dalam komunitas seperti kota, kerja, sekolah, dan daerah untuk melaksanakan koneksi dan berinteraksi dengan orang lain.

Kehadiran sosial media seperti Facebook patut untuk disyukuri, melalui media sosial tersebut banyak peserta didik mengembangkan beberapa keterampilan yang mereka kuasai khususnya yaitu menulis. Banyak peserta didik yang setiap aktivitasnya tidak pernah terlepas menulis di media sosial Facebook dari mereka bangun tidur sampai sebelum tidur lagi pun masih update status di Facebook. Keberadaan media sosial telah mengajari banyak peserta didik untuk menulis, sebagian peserta didik ada yang menulis mengenai gagasan, suasana hati, pengalaman, ide, dan pikiran bahkan sampai ada yang menulis cerita, puisi, lirik lagu, dan sebegainya. Di samping itu, Facebook dapat dijadikan sebagai sarana komunikasi di antara peserta didik, baik untuk berdiskusi, memberikan pengumuman, dan berbagai informasi.

Kegiatan menulis melalui madia sosial Facebook ini, banyak diminati oleh peserta didik karena menulis melalui Facebook peserta didik terstimulus dan terinspirasi untuk menulis apa yang peserta didik rasakan mengenai keadaan yang ada disekelilingnya bahkan menuliskan suasana hati, gagasan, ide, pengalaman, dan pikirannya. Dalam hal ini, terlihat peran Facebook dapat membentuk suatu pembelajaran karakter yang menggunakan pembelajaran yang berdasarkan stimulus-respon. Misalnya seorang guru bahasa Indonesia memberikan gambaran kepada peserta didik mengenai lingkungan, suasana hati, ide, gagasan, dan pengalaman. Lalu guru bisa meminta peserta didik memberikan respon dengan menuliskan dalam bentuk puisi, cerita, kata mutiara, cerita pendek, dan masih banyak lagi melalui Facebook. Selanjutnya guru bisa memberikan tugas kepada peserta didik yang lainnya untuk memberikan komentar mengenai sesuatu yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Selain itu, guru dapat memberikan materi melalui Fitur Note yang ada di Facebook dengan cara memberikan Tag atau menadai teman yang ditujukan. Apabila ada hal yang akan ditanyakan, pengguna akun facebook dapat langsung bertanya atau berkomentar pada kotak dialog yang telah disediakan.

Dengan melaksanakan pembelajaran seperti itu akan membentuk kepribadian dan tingkah laku peserta didik yang ke arah yang lebih baik dengan memanfaatkan media sosial. Pembelajaran karakter melalui media jejaring sosial Facebook dapat mengetahui kepribadian peserta didik.  Hal ini sesuai hasil penelitian yang dilakukan oleh Yunita dalam artikel Frista Nanda Pratiwi yang dijelaskan dalam seminar “Sosial Media Stalking: Can We Find Out People’s Personalities Just by Looking at Their Media Posting?” di Universitas Indonesia (UI) pada Kamis (19/11/2015) bahwa “Media sosial (daring) seperti Facebook dapat digunakan sebagai sarana penelitian kepribadian. “Profil kepribadian seseorang bisa dilihat dari perilaku di Facebook sehingga media sosial tersebut bisa dipakai sebagai sumber penelitian kepribadian sesorang”. Dalam hasil penelitiannya, Yuni menambahkan bahwa “Dengan menggunakan sarana media daring terhadap diri seseorang tidak berbeda jauh dengan ketika orang tersebut mengisi self report”. Misalnya orang yang suka mengekspresikan emosi dan ekspresi yang berlebihan atau dianggap sebagai neuroticism, cenderung sering curhat di sosial media”. Ujarnya (24/11/2015)

Selain itu, Tom Robinson dari Brigham Young University dalam jurnal bertajuk “I Love FB: A Q-Methodology Analysis of Why People ‘Like’ Facebook” dalam tulisan Ahmad Zaenudin (04/10/2017) mengungkapkan ada empat pengguna media sosial khususnya Facebook yakni Relationship Builders (Facebook digunakan sebagai sarana komunikasi penguat tali persaudaraan dan pertemanan), Window Shoppers (Facebook merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan modern. Pada orang-orang tipe ini informasi pribadi, foto, video, atau status-status curahan hati, jarang mereka bagikan), Town Criers (Dalam kategori ini pengguna Facebook umumnya adalah mereka para aktivis, jurnalis, atau pihak berkepentingan lain yang melihat Facebook sebagai “Otak Ajaib”), dan Selfies (Orang-orang yang termasuk kategori Selfies menggunakan Facebook sebagai penarik perhatian. Sarana menunjukkan citra dan validasi diri. Jumlah ‘like’ dan ‘komen’ yang diterima, sangat penting bagi orang masuk kategori ini).

Demikian dalam pembelajaran karakter melalui media jejaring sosial Facebook dapat membentuk kepribadian dan perilaku yang diinginkan oleh peserta didik ke arah yang lebih positif. Selain itu pembelajaran karakter melalui media jejaring sosial Facebook dapat diterapkan dalam pembelajaran guna membentuk karakteristik peserta didik.

Penulis adalah Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Comment