Opini

Rabu 23 Nopember 2016 | 22:44 WIB

Laporan: Toto Tohari

Militansi Agama: Dari Konflik Menuju Perdamaian

Toto Tohari: Mahasiswa S2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Berbagai kasus kekerasan dan teror di Indonesia akhir-akhir ini sering dikaitkan dengan atas nama agama, bahkan baru-baru ini kasus bom Gereja di Samarinda yang menewaskan anak kecil tak berdosa bernama intan turut memprihatinkan untuk bangsa Indonesia yang terkenal dengan kemajemukannya. Sehingga perlunya kesadaran akan saling menghargai dan menghormati adanya perbedaan sebagai sunnatullah.

Pada dasanya agama memiliki wajah yang utuh yaitu ramah, sejuk, dan harmonis,  namun belakangan ini wajah agama memiliki dua wajah yang berbeda. Pertama wajah agama ekskusif, yaitu sekelompok orang yang beragama membatasi diri dan merasa bahwa hanya agama yang diyakini adalah benar dan yang lain salah, sehingga kelompok ini selalu mengklaim bahwa jalan keselamatan adanya pada agama yang diyakini dan yang lain sesat. Kelompok ini memiliki tingkat fanatisme yang berlebihan.

 Kedua wajah agama Inklusif yaitu sekelompok orang yang beragama menerima adanya keberadaan agama lain dan berpandangan bahwa jalan keselamatan itu juga terdapat pada agama-agama lain sesuai dengan keyakinannya yang dianut. Kelompok ini lebih toleran, dan menghormati keyakinan orang lain.    

Jika kekerasan atas nama agama memerlukan militansi, maka upaya-upaya perdamaian oleh agama juga mensyaratkan sebuah militansi. Dengan kata lain, upaya-upaya ini harus ditegaskan dan gencar dilakukan, dengan organisasi yang rapi dan agenda yang jelas, dengan keterampilan dan teknik-teknik yang memungkinkan tercapainya perdamaian agama. Hal ini penting dan harus dilakukan untuk menunjukkan bahwa sentimen dan komitmen kagamaan bukanlah hak preogratif mereka yang ekslusif dalam wawasan keagamaannya, yang biasanya mudah menggunakan aksi-aksi kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Mereka yang berwawasan eksklusif itu punya hak untuk menafsirkan dan megekspresikan agama menurut cara pandang mereka, tetapi hal itu bukanlah satu-satunya penafsiran dan ekspresi agama yang sah.

Aksi-aksi kekerasan atas nama agama turut dibangun oleh nasari-narasi yang memperkokoh identitas “kita”, seraya menyetankan “mereka”. Agar kampanye perdamaian atas nama agama dapat berjalan baik, para agamawan yang anti-kekerasan harus membangun narasi-narasi tandingannya, yang dapat menopang perdamaian. Narasi-narasi beraura konflik dan permusuhan harus ditandingi dengan naras-narasi yang mendorong tumbuhnya rasa saling menghormati di antara sesama manusia dan cita-cita pluralisme.

Penulis adalah Mahasiswa S2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

TAG BERITA

Comment